Aku merasakan ketenangan hari ini setelah melihat langit dan aroma kebebasan untukku, saat ini aku memang sedang tidak bersama siapa pun karena ada saatnya aku sendirian memikirkan banyak hal berargumen tentang diriku sendiri mengatur semua kehidupan ku dengan “Me Time” dan kebetulan semua orang memiliki kesibukan nya masing-masing jadi aku pun tidak bertemu mereka, dari arah kiri seorang yang berbunga-bunga penuh cinta menghampiri ku dan menyapa ku dengan melambaikan tangan setelah itu duduk disebelahku dengan santai nya. Dia adalah Rio Paulus, teman sekaligus musuh cekcok nya Mosa dengan berbagai macam pertengkaran dan adu taring dengannya sudah seperti tradisi mereka yang sangat tidak cocok jika dikumpulkan berdua namun denganku bahkan Rio tenang-tenang saja dan tidak berani menampilkan apa yang dia tunjukkan kepada Mosa.
“Mora, mengapa sendirian terus di setiap sudut bahkan aku melihat kamu jarang bersama dengan teman-temanmu itu, ke mana mereka semua apalagi sama penyihir itu,” tanya Rio dengan menatap ke depan seperti posisi aku yang tidak menatapnya juga.
“Oh mereka, aku tidak harus bersama mereka di sepanjang waktu kan? lagi pula mereka juga hidup bersosialisasi dengan teman sebayanya tanpa harus ada aku di dalamnya, dan teman bertengkar kamu yang sering kamu ejek apa pun itu termasuk penyihir, dia sedang entah di mana aku juga tidak tahu,”
“Iya sih memang, aneh saja kalian kan biasanya seperti perangko nempel terus di mana pun dan kapan pun,”
“Hah prangko, ya kan ada banyak kesibukan dari mereka juga,”
“Memang tidak saling berkabar?”
“Tidak, kalau dia mau bermain atau hal penting lainnya bisa menghubungi aku dengan cepat jika tidak ya mereka ada kesibukan masing-masing cukup sederhana bukan,”
“Benar juga ya, teman memang terkadang tidak seharusnya bersama dan kita harus memakluminya kamu benar juga tidak selalu dan sering nempel sih,”
“Iya kan Rio juga setuju denganku,”
“Tentu saja aku setuju sama kamu, aku juga begitu di sisi lain kita bersama lain waktu kita tidak usah terlalu banyak menempel paling nongkrong atau melakukan sesuai hobby kita atau bahkan main, besok nya aku beda teman lagi, harus banyak bersosialisasi sebagai manusia tidak boleh stuck punya teman itu-itu saja,”
“Iya kamu benar Rio harus bersosialisasi itu penting!”
“Memang Mor,”
“Oh iya, kamu dan pacar kamu kalau publik tahu memang tidak apa-apa? Maksudnya kan aku tuh pengennya bukan yang suka membuka diri dan membanggakan hubungan begitu ya jadi kalau kamu bagaimana?”
“Memang kamu pernah punya pacar Mor,”
“Ya misal sih misal ih sebuah harapan ku diam-diam nikah begitu jadi orang hanya tahu hasil endingnya aja bukan berarti pernah begitu,”
“Oh iya-iya Mor, kalau aku sih Mor tidak apa-apa sih, aku merasa bangga memamerkannya perjuangan aku dan merasa bahwa dia milikku begitu jadi yang mau deketin harus berhadapan denganku!” ucap Rio sembari menepuk d**a dengan bangganya.
“Aku paham secinta itu kamu sama Milla,”
“Iya dong, Rio Paulus!”
“Terserah lah, sudah ya Rio aku mau pergi, Bye Rio!”
“Sedih aku ditinggalkan, yaudah bye Mora!”Aku pergi meninggalkan Rio dan menuju ke ruang organisasi kemungkinan aku mau tidur di sana karena aku sangat lelah dan mataku mengantuk berdiam diri di sini terlalu lama. Aku baru-baru ini daftar organisasi tapi aku sudah ingin meminjam ruangan nya untuk tidur sih, untung kuliah itu punya hak kebebasan jadi aku merasa ruangan itu milikku sendiri.
***
Aku terbangun dari tidur ku dan melihat di sekitar ternyata aku baru sadar kalau aku tertidur sekitar setengah jam di ruangan organisasi ini, benefit jadi anggota organisasi memang ada tempat untuk beristirahat kebetulan di sini memang sedang kosong jadi aku merasa aman dan nyaman ketika tidur sekali pun. Setelah bangun aku pergi ke toilet kampus dengan menggosok kan wajah ku dengan air berharap aku sadar dan bersemangat lagi melalui air yang aku basuh kan ini, setelah itu aku berniat pulang aku sudah kembali ke ruang organisasi dan membereskan tas dan aku berjalan untuk pulang. Saat aku pulang ternyata Syani dan Silly sedang berkumpul berdua mungkin karena saatnya jam pulang tidak ada jadwal lagi, aku yang menyempatkan untuk tidur mereka yang bukan anggota organisasi menyibukkan diri dengan aktivitas lainnya entah itu main, kuliner atau langsung pulang dan aktivitas sewajarnya mahasiswa lainnya di mana aku tidak ikut terlibat juga dengan mereka karena prioritas kita menjalani hidup cukup berbeda juga apalagi saat aku ikut organisasi aku jauh lebih jarang berkumpul dengan teman-temanku. Aku pun menghampiri mereka saat mereka tertawa bersama ketika saling memperlihatkan sesuatu hal lucu di ponsel mereka, saat aku menghampiri mereka dari kejauhan Syani sudah melambaikan tangan mengetahui keberadaanku dan aku pun membalas Syani juga dengan melambaikan tangan ke arahnya dan Silly hanya memandang kita berdua, aku pun duduk di depan mereka karena bentuk meja dari taman kampus ini panjang menjulang ke samping dan kursinya juga sama panjangnya dengan meja nya jauh lebih efektif jika aku berada di depan mereka yang tepat di mana mereka yang saling bersebelahan, karena kalau kita berkomunikasi bisa dua arah dan posisinya lebih baik.
“Mora kok belum pulang?” tanya Silly yang memandangiku dengan serius
“Belum Sil, kalian juga kok tumben masih di kampus,” tanyaku juga kepada mereka
“Ini Syani mau ketemuan sama cowok jadi aku temenin,” jawab Silly
“Enggak Mora Silly bohong aku yang nemenin Silly buat ketemuan sama cowok makanya kita diem di sini padahal tadinya aku mau pulang,” jawab Syani yang di mana berbeda jawabannya dengan Silly dan aku mulai bingung dengan mereka.
“Enggak begini Mor, jadi kan aku mau ketemuan sama cowok tetapi Syani juga kan mau cari perhatian juga sama cowok incaran dia dan itu satu tempat yang sama,”
“Iya begitu tetapi kan kamu yang ngomong aku yang bakal ketemuan,”
“Kamu juga ada niat ketemu kan?”
“Iya sih ada,” Aku udah lelah melihat mereka saling menyalahkan jadi aku tidak banyak berkomentar dan mengiyakan saja apapun pembahasan mereka.
“Mor kamu tugas Pak Hari udah?” tanya Silly yang tiba-tiba membahas topik lain
“Oh yang materi kemarin, belum sih kenapa Silly sudahkah?”
“Aku bertanya juga karena aku juga belum Mor, nanti kita kerjain bareng yuk,”
“Oh benar juga, Iya boleh Sil,”
“Aku ikut ih,”
“Enggak boleh,” ledek Silly ke Syani dan membuat wajah Syani sedikit bete
“Sil gitu ih sama aku,”
“Iya boleh lah Sya, masa enggak boleh,”
“Iseng terus kau tuh,”
“Oh iya Mor kemarin Kara sama Mosa bertengkar kan jadi sekarang mereka bagaimana, kata Syani dia juga sudah lapor ke kamu terkait mereka bertengkarnya,”
“Iya Syani tuh dia lapor tetapi enggak misahin nih,”
“Berisik guys, apalagi kan enggak ada yang bisa lawan Mosa jadi aku lebih baik lapor ke bestie nya aja daripada aku dimarahin Mosa, Kara juga tuh dia kan galak juga sama seperti Mosa tetapi jauh galak Mosa sih,”
“Bukan galak kali lebih ke tegas dan terkesan Mosa tuh aura nya kuat banget,”
“Iya begitu,”
“Jadi nih aku tuh sehabis ke sana dianter sama Syani, wajah Mosa udah memerah seperti wajah marah dan kesal dan Rio juga ada di sana nemenin Mosa, dan sampai saat ini Kara juga tidak pernah menyapa ku atau mengobrol bersama, minta maaf juga tidak ada ya begitulah jadi masalah waktu kalau mau baikan sama dia sedikit susah untuk sadar diri,”
“Kara memang sifat nya seperti itu, harus banyak maklum,” jawab Silly
“Si Kara kan emang mulutnya pedas bak netizen jadi kalau ada informasi langsung disebarkan kemana-mana,” timpa Syani
“Parah memang Kara katanya juga dia kadang suka melebihkan ucapan jadi kalian harus hati-hati juga sama dia, terutama Mora nih jangan lembek sama dia,”
“Kamu benar sih Sil,”
“Capek ya jadi people pleaser Mor,” tanya Silly membuat hatiku sedikit terenyuh
“Capek Sil asli, capek batin mental sama kek lelah aja gitu,” jawabku, “Tinggalin Mor sekarang temen sama yang baik-baik aja,”
“Kek gampang aja nyari teman yang baik, kita aja enggak tahu teman kita sifat aslinya seperti apa,” timpa Syani dengan ucapan yang blak-blakannya
“Namanya juga manusia,” ucap Silly singkat.