“Biiiii....” Rayu merintih memegangi perutnya. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. Ayam saja belum berani berkokok. Bi Atikah tergopoh-gopoh lalu setengah berlari menuju kamar Rayu. Pikirannya sudah menebak-nebak mungkin ini saatnya Rayu melahirkan. Jika mengikuti jadwal yang diperkirakan dokter, hari ini memang kemungkinan besar kelahiran putra Rayu. “Neng kenapa Neng? Mana yang sakit? Neng Rayu tenang dulu. Ayo tarik nafas yang teratur.” Bi Atikah membenarkan posisi Rayu yang setengah berbaring. “Perut Rayu sakit Bi. Mules banget. Tapi ini udah agak enak. Tadi mulesnya parah.” Rayu menjawab lirih. Mukanya terlihat pucat. “Kita ke rumah sakit ya.” Bi Atikah membelai tangan Rayu. “Nggak usah Bi. Rayu masih tahan kok.” “Tapi Bibi takut Neng Rayu kenapa-kenapa.” Nada khawatir terden

