Bagas membawa mobilnya menuju rumah orang tua Rena. Dia yakin saat ini Rena sedang di rumah orang tuanya. Ucapan Rayu kembali terngiang di benak Bagas. Pulang dan bicarakan semuanya secara baik-baik dengan Rena. Setelah memikirkan ulang, Bagas merasa ucapan Rayu itu ada benarnya. Dia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Rena. Sekarang atau nanti tetap akan sama saja. Bagas tidak bisa lari dari masalah ini. Rumah berpagar putih itu tampak menjulang angkuh. Setelah membunyikan klakson berkali-kali, akhirnya pintu pagar pun terbuka. Mang Adi tergopoh-gopoh menyambut Bagas. Lelaki paruh baya itu sudah mengabdi di rumah Rena lebih dari separuh hidupnya. “Malam mang. Maaf saya ganggu istirahat mamang.” Bagas tersenyum ramah. “Ah ya ndak apa-apa den. Mamang juga belum tidur. Den Bagas m

