10

1038 Kata
"Mbak Viona, apa kabar? Mas Darwin nggak salah rekomendasikan mbak." "Bapak terlalu berlebih dalam memuji. Saya memang harus terima kasih banyak sama Darwin, Pak." "Kalian sepasang kekasih?" Joko menatap penasaran, Viona memilih tersenyum sebagai jawaban "Kalian memang serasi. Mas Darwin sudah kasih tahu film apa?" Viona menggelengkan kepalanya "Panggil mas jangan pak, ini skenarionya dan mbak bisa baca. Saya akan menunggu jawaban paling lambat satu minggu, gimana? Saya harap semakin cepat semakin baik." Viona menerima skenario yang tebal, membaca ini semua dalam waktu satu minggu. Bukan masalah besar, dirinya juga suka membaca tapi untuk masuk dalam cerita membutuhkan tenaga lebih, apalagi jika harus mendalami peran. "Saya usahakan, Pak. Sebelumnya maaf saya boleh tanya? Tapi jika Pak Joko keberatan jawab tidak masalah." "Silakan, selama saya bisa jawab akan saya jawab." Viona tersenyum tipis "Apa bapak mengajak saya karena permintaan Darwin?" Joko tersenyum lebar "Saya bilang ke Mas Darwin jika mencari pemain film gambarannya wanita karir tapi selalu gagal dalam asmara. Mas Darwin menawarkan mbak, saya pernah lihat acting mbak dulu jadi saya menyetujuinya. Mbak sudah lama nggak acting untuk film disini, kan? Pastinya akan menjadi wajah baru di dunia perfilman." Joko adalah sutradara yang terkenal dengan karyanya yang bagus dan selalu mencetak angka penjualan tertinggi. Film yang dihasilkan bukan sembarangan, dimana filmnya selalu mempunyai maksud didalamnya. Apabila filmnya tidak diputar di bioskop, tapi tayang di youtube tetap memiliki penonton besar. Membuka karir awal dengan film yang dikerjakan Joko adalah langkah awal yang bagus, Viona jelas tidak membuang kesempatan ini semua. Mereka masih membicarakan karakter yang akan diperankan Viona, garis besar film dan ditayangkan dimana. Viona menatap tidak percaya dengan semua yang dikatakan Joko, tampaknya naskah ini akan dibacanya sekarang juga. "Jadi satu minggu cukup?" "Saya usahakan, tapi saya harus survei dan mendalami peran. Pembuatan filmnya apa langsung satu minggu itu?" Joko menggelengkan kepalanya "Pendalaman karakter bisa dilakukan dengan diskusi dan tenang saja kita akan mulai dua bulan lagi. Waktu yang sangat cukup untuk pendalaman karakter. Masalah bayaran kita bahas kalau Mbak Viona terima tawaran ini, saya usahakan bayarannya sesuai." Pertemuan yang tidak hanya membahas tentang penawaran film, tapi juga hal ini termasuk pribadi didalamnya. Dunia entertaintment disini sudah lumayan lama Viona tinggalkan, tapi dengan muncul di proyek film sutradara dihadapannya adalah langkah awal. Selanjutnya Rangga yang akan membantunya dalam mendapatkan proyek lainnya, pendekatan dengan H&D Group mungkin bisa dengan Azka atau Leo. "Gila! Cerita besar ini, Vi." Tya membuka mulutnya selama perjalanan "Kalau sukses nama kamu akan semakin dikenal dan tawaran akan semakin banyak." "Semoga, bantuin doa. Sekarang kita ke bandara." "Ngapain?" Tya menatap sekilas Viona dengan kening berkerut "Mau pergi?" "Nggak. Darwin mau kesini setelah aku kasih tahu tentang filmnya. Dia sepenasaran itu, sekalian pulang katanya." "Udah lama dia nggak pulang. Cuman sebentar?" Viona mengangkat bahunya "Kalian habiskan waktu berdua." "Ada kamu juga nggak masalah, Ya." "Obat nyamuk yang ada nanti." Viona memutar bola matanya malas, Darwin tidak pernah ada masalah jika ada orang lain diantara mereka berdua "Kamu belum mau membuka hati? Hubungan kalian bisa dikatakan layak ke jenjang serius, Vi." Kalimat yang akan dikatakan semua orang tentang hubungannya dengan Darwin, tapi tetap saja Viona tidak ada keinginan untuk melangkah kearah lebih serius. Perjalanan menuju bandara memakan waktu lama, keadaan jalan yang lebih padat dibandingkan biasanya. "Hal yang buat males Jakarta ini adalah macet. Transportasi publik lumayan tapi sayangnya jalanannya nggak layak buat pejalan kaki, kadang mikir kenapa pas kita di Singapore atau negara lain enjoy aja jalan padahal cuaca juga nggak jauh beda kalau kita masih di Asean." Tya menggelengkan kepalanya sambil menjalankan mobil "Darwin udah sampai?" "Belum, pesawatnya mungkin lima belas menit lagi. Imigrasi juga lama kali belum lagi ambil bagasi ditambah jalan menuju pintu keluar, jadi nikmatin aja macetnya." Tya mencibir kalimat Viona yang tertawa. Perjalanan mereka setidaknya memakan waktu lebih dari setengah jam, mencari tempat parkir dan berjalan menuju kedatangan dimana Darwin akan keluar. Viona menatap ponselnya dimana pesan dari Darwin masuk, hembusan napas panjang saat Darwin sudah tidak jauh dari mereka. "Gimana macet?" tanya Darwin dengan tatapan menggoda ke Tya yang seketika mengerucutkan bibirnya "Kita kemana setelah ini?" "Kamu nginep mana?" tanya Viona sebelum menjawab pertanyaan Darwin. "Aku nginep di dekat bandara aja, takut telat." "Hotel sini banget? Terus kita kemana? Memang kamu berapa lama? Masa cuman sebentar, kasihan banget ortumu." Tya yang membuka suaranya dengan nada sedikit penasaran. "Besok pesawatku ke Surabaya, aku disini seminggu. Apa sudah puas, Tya?" Darwin menatap malas kearah Tya "Kita kemana?" "Sate Senayan aja, kita makan dan bicara disana. Apa mau di hotel? Pesan makanan dan makan disana? Tya stress sama jalanan, gimana?" Viona menatap kedua orang bergantian. "Pesan aja. Aku pastinya juga stress kalau harus bolak balik. Tujuanku kesini cuman penasaran, pulang kerumah itu juga dadakan. Ya udah kita ke hotel." Darwin langsung mengambil keputusan yang mereka berdua setujui "Tya, kamu harus terbiasa sama jalanan disini. Viona akan semakin sering keluar untuk pekerjaan." "Paham. Aku baru datang kemarin dan langsung ketemu Pak Joko bahas masalah film. Adaptasi lagi, Win." Memasuki kamar hotel yang akan menjadi tempat tinggal Darwin selama beberapa jam kedepan, pemandangan kondisi bandara terlihat sangat jelas. Naskah yang diberikan belum dibuka sama sekali, Viona akan membacanya nanti ketika sudah tenang dan sampai sekarang Rangga belum menghubungi sama sekali. "Kamu belum baca pasti, Vi?" Viona menganggukkan kepalanya ketika Darwin menatap kearahnya "Tapi...kamu pasti baca sinopsisnya, kan?" "Baca, Tya juga baca. Kamu tahu sendiri kalau beliau yang buat pastinya bukan sembarangan." Viona melangkah kearah mereka berdua yang membuka bungkusan makanan "Laper?" Viona menggelengkan kepala melihat Tya makan. "Sambel selalu buat tergoda, Vin. Tahu sendiri disana mana ada yang pedes kayak disini." Tya menjawab sambil mencolek ayamnya dengan sambal. "Belum bahas masalah harga?" tanya Darwin yang tidak peduli dengan tingkah Tya. "Belum, setelah aku selesai baca dan terima tawarannya." "Kamu nggak ada rencana masuk ke agencynya Azka?" "Kamu mau ke agencynya Azka? Aku gimana?" Tya menghentikan makan dengan menatap Viona. "Aku masih mikir kearah sana, tapi lihat nanti. Kamu ya tetap sama aku, Ya. Aku kan nggak bisa kalau nggak ada kamu." Viona mengedipkan matanya yang membuat Tya bergidik ngeri "Kamu mau baca?" Darwin menggelengkan kepalanya "Nggak. Aku akan nonton kalau kamu terima." "Kamu pulang hanya untuk ini, Win? Kapan kalian mau resmi aja, sih?" Tya menatap malas kearah kedua orang dihadapannya. "Tunggu aja kenapa, Ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN