9

1071 Kata
"Kalian berdua itu kebiasaan dadakan!" Viona tersenyum melihat ekspresi Tya, mereka bertemu diluar rumah. Lebih tepatnya Viona menjemput Tya, setelah itu bertemu dengan Rangga melihat apartemen yang akan ditempatinya. Rangga sudah mengirim foto apartemen, termasuk furniture didalamnya dan mungkin akan membawa Tya tinggal bersama, atau mungkin tidak. "Darwin suruh kamu gimana?" tanya Viona setelah Tya berhenti menggerutu. "Dia kasih tahu apa saja yang harus dibahas, termasuk masalah kontrak. Dia takut aku kelewatan beberapa hal, makanya dikirim catatan dan suaranya. Aku kayak orang bego ya?" Tya menatap Viona yang langsung menggelengkan kepalanya. "Mikir positif aja." "Kamu tinggal dimana nanti? Kita tinggal bareng?" "Aku ada apartemen, tapi kita nggak tinggal bareng. Kamu aku carikan apartemen yang dekat aja." Viona akan meminta bantuan Rangga mencarikan tempat tinggal Tya yang dekat dengan dirinya. "Kamu ada janji sama Pak Darmawan?" Viona seketika menegang mendengar pertanyaan Tya "Pak Darmawan? Ya, kenapa?" "Kenapa nggak kasih tahu? Ada pekerjaan? Bukan pekerjaan yang aneh-aneh, kan?" Viona terdiam "Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu, kan?" "Aku akan cerita, tapi bukan sekarang." Viona menjawab tegas yang diangguki Tya. Mereka berdua memiliki hubungan keluarga, tapi keluarga jauh. Keputusan memakai Tya adalah karena mereka sudah mengenal sangat lama, berbeda dengan keluarga yang lain. Mereka mengetahui rahasia satu sama lain, sampai sekarang rahasia ini aman di tangan masing-masing. "Bunda titip buat ibu sama mama." Tya membuka suaranya. "Kamu udah pamitan sama Gani?" Tya menganggukkan kepalanya "Bakal LDR ini." Viona menggoda Tya yang tampak biasa saja. "Dekat ini, Vi. Dona aja bisa PP, masak aku nggak." Viona mencibir kalimat Tya "Aku minta ayah buat pindahin Gani kesini, tapi langsung ditolak." Viona seketika tertawa, membayangkan ekspresi ayahnya Dona ketika mendengar permintaan Tya yang tidak masuk akal. Dona pastinya belum tahu tentang ini, pasalnya sampai sekarang belum mengatakan apapun, sedangkan teman satunya si Vivi ini yang akan memilih diam dengan tidak menceritakan kebodohan teman-temannya. "Kamu bilang gitu ada siapa?" "Bunda aja, Dona sama Vivi nggak ada." Viona menganggukkan kepalanya "Harusnya aku bicara sama Dona buat bantu bicara." "Percuma. Gani sangat dibutuhkan ayah disana." Tya menunduk lemas mendengar kalimat Viona "Kalian berdua pasti bisa." Viona menepuk bahu Tya pelan. Menatap jam di tangan dan tampaknya sudah waktu untuk bertemu dengan Rangga, membayangkan ekspresi pria tersebut membuat Viona tidak sabar. Berpisah dari Tya dan mengendarai mobilnya menuju apartemen yang dimaksud Rangga, jaraknya lumayan jauh dan tampaknya membutuhkan waktu lama. "Dimana, mas?" Viona menghubungi Rangga tepat ketika mobilnya parkir sempurna. [Deni menunggu kamu dibawah, dia di lobby. Kamu masih ingat?] Viona menatap lobby, menemukan pria yang fokus dengan tabletnya "Sudah ketemu." Melangkah kearah pria tersebut, sebenarnya sudah pernah melihatnya ketika pertemuan terakhir mereka. Menyadari kehadiran Viona seketika Deni mengangkat kepala dan menunduk sopan, memberikan akses menuju unitnya sambil mengarahkan lift yang bisa dipakai. Menatap lift yang dimasuki, matanya tertuju pada angka di lift dimana unitnya berada. Sedikit bertanya unit seperti apa yang diberikan Rangga untuknya, sebenarnya bisa saja Viona mencari apartemen sendiri, tapi ingin melihat sejauh mana cara kerjanya berhasil. Lift terhenti dan pintu terbuka, menatap sekitar dimana hanya ada dua pintu, ini mengingatkan pada apartemen milik Dona yang di Singapore. Mengangkat sudut bibirnya keatas, tampaknya Rangga mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Melanjutkan langkahnya kearah kiri sesuai dengan petunjuk Deni, memegang akses yang ada di tangan dan tidak mengharapkan apapun didalam sana, membuka dengan akses dan menekan nomer yang dikatakan Deni sebelum dirinya masuk kedalam lift, sedikit bertanya tentang angka-angka itu. "Mas, kamu dimana?" Viona mengeluarkan suara setelah menutup pintu dan melangkah masuk kedalam "Disini ternyata. Wow...sudah terisi semua. Kamu yang isi, mas?" "Suka? Aku lihat kalau kamu suka yang minimalis." Rangga menatap Viona terutama penampilannya. Viona menggunakan kaos lengan pendek dan celana panjang, kaosnya sangat pendek karena perutnya terlihat jelas. Rangga menghela napas panjang, berjalan kearah Viona menarik perutnya yang membuat tubuh mereka berdekatan. "Aku nggak suka kalau ini dilihat orang." Rangga membelai perut Viona perlahan "Tapi selama hanya aku yang menyentuh tidak masalah." Rangga melepaskan sentuhan dan memberi jarak "Suka? Kamu bisa tinggal disini. Biayanya..." "Aku bisa bayar, mas." Viona memotong kalimat Rangga dan tidak ingin hutang. "Setengah saja. Aku bayar juga setengahnya." Rangga memotong kalimat Viona, memegang dagunya dengan mendekatkan wajah mereka "Tidak ada penolakan." Viona mengangguk, kecupan ringan diberikan Rangga sebelum akhirnya benar-benar menjauh. Berdiri kembali di tempatnya, menatap pemandangan dihadapannya dan seketika bayangan mereka melakukan kegiatan panas disini dengan pemandangan yang luar biasa, hembusan napas panjang dikeluarkan karena tidak mungkin melakukan sekarang. Menatap Rangga melalui kaca didepan dimana tatapannya lurus kedepan, meraba bibirnya yang baru saja dikecup pelan. Melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Rangga berada, niatnya memeluk dari belakang tapi dihentikan, tidak ingin Rangga menganggapnya sebagai w************n. "Pemandangan yang menarik." Viona membuka suara yang membuat Rangga mengalihkan pandangan "Mas, sudah tidak ada kerjaan?" "Nanti malam. Aku dengar kamu ditawarin main film, benar?" "Ya. Besok ketemu. Kenapa?" "Baguslah, jadi aku bisa melakukan langkah lain. Kamu pasti punya manager, kan? Apa kamu masuk di agency H&D Group?" "Nggak, tapi bisa jadi. Kenapa? Ah...terkait membantu mas mengenal H&D Group. Aku tidak bisa menjanjikan banyak, mas tahu itu." "Paham. Kamu bisa mengenalkan aku sama anak muda disana. Tujuanku adalah anak muda, bukan orang tua." Viona menganggukkan kepalanya "Mas masih muda, jadi target yang harus didekati adalah anak muda. Kapan ini bisa ditempatin?" "Sekarang juga bisa. Kamu mau bawa apa buat pindah? Apa ada yang kurang? Kebutuhan dapur, mungkin." Rangga menatap Viona yang melihat sekitar. "Cukup. Aku akan beli sendiri kekurangannya." Viona mengalihkan pandangan kearah Rangga yang tidak lepas menatap kearahnya "Apa pakaian mas juga akan ditaruh disini?" "Aku akan pikirkan. Kamu bisa bantu beli apa yang aku butuhkan, aku akan memakai semua pilihanmu." Rangga membelai pipi Viona lembut "Kamu punya kekasih? Akan lebih baik jika kamu punya, agar apa yang kita lakukan ini tidak diketahui." Rangga mencium lembut bibir Viona kembali "Kenapa kamu tidak menggoda sekarang, tapi setiap kita interaksi di chat kamu memberikan godaan. Kamu malu?" Viona menundukkan kepalanya "Kapan kamu akan pindah kesini?" "Sekarang mungkin, kenapa? Mas mau tinggal disini?" Rangga menggelengkan kepalanya "Aku harus pulang kerumah, image aku adalah suami dan ayah yang baik. Kita harus pintar sandiwara, kamu paham itu." Rangga mencium bibir Viona kali ini dengan lumatan lembut, melepaskan pagutan mereka dengan tangan Rangga membelai bibir Viona dari saliva mereka. "Setuju. Image adalah hal penting, terutama bagi kita yang dilihat banyak orang. Mas bisa melakukannya dengan sangat baik, banyak orang suka dengan mas...juga keluarga mas." Viona membelai d**a Rangga dari kemeja yang dipakainya "Pastinya kita akan sering bertemu, aku akan mencari waktu agar kita bertemu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN