4

1055 Kata
"Ahh....akang..." Rangga mencium kening Aya sebelum melepaskan penyatuan mereka, menarik selimut menutupi tubuh mereka yang tanpa sehelai benang karena baru saja melakukan olahraga kesukaan mereka. Memasukkan Aya kedalam pelukan, tatapannya mengarah pada plafon didalam kamar. "Akang ditawarin buat maju jadi kepala daerah, pendapat kamu gimana?" Rangga membuka suaranya. Menatap Aya yang tampak berpikir, tangan Rangga perlahan merapikan rambut yang sedikit berantakan. Mereka sudah kenal lama, Rangga tahu jika saat ini Aya sedang memikirkan banyak hal baik dan buruk. Sebelum membicarakan ini pada Aya, dirinya sudah memikirkan dalam. "Akang sudah mikir baik dan buruknya?" Rangga menganggukkan kepalanya "Lalu? Akang tahu kalau menjadi kepala daerah itu nggak mudah, orang langsung melihat apa yang kita lakukan." "Keluarga kita nggak ada aneh-aneh, sayang. Selama ini kita dikenal sebagai couple goals, istilah jaman sekarang. Memang nggak mudah, tapi sejauh akang jadi anggota dewan rasanya kurang maksimal membantu rakyat, sedangkan kalau akang jadi kepala daerah akan lebih mudah melakukannya." Aya memicingkan matanya "Amanah, kang. Akang bisa mengatasi godaan?" "Selama ini godaan wanita nggak mempan, istri akang udah cantik begini." Rangga mencubit gemas pipi Aya yang langsung mendapat tepukan pelan di d**a "Godaan uang? Akang sudah beberapa kali digoda masalah itu, neng tahu sendiri gimana mereka menggodanya." Aya menghela napas "Sekarang akang bisa melaluinya, tapi kepala daerah?" "Neng nggak percaya akang? Neng cukup disamping akang selama melangkah, kasih teguran seperti biasanya dan jangan lupa doa." Aya menganggukkan kepalanya, Rangga melihat tersenyum lebar "Ronde selanjutnya, sayang." "Akang...ahh..." Desahan demi desahan keluar dari bibir mereka, Rangga menatap Aya sudah terlalu pasrah pada semua yang dilakukannya, meskipun pasrah tidak membuat Aya melupakan cara untuk memuaskannya. Sejauh ini Rangga merasakan jika Aya bisa mengimbanginya di ranjang, kepuasan tentu saja dirasakan setiap mencapai klimaksnya. Erangan keras keluar dari bibir Rangga ketika merasakan miliknya di pijat didalam sana, Aya benar-benar tahu cara memuaskan dirinya. Rangga tidak salah dalam memilih Aya, wanita yang sempurna dan bisa mengimbanginya bukan hanya diluar tapi juga didalam, Aya adalah paket lengkap. Mencium kening Aya yang sudah terlihat lelah dengan memejamkan matanya, masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Besok, waktunya bertemu dengan Viona. Semoga yang dilakukan bisa membantu ketika memilih maju untuk pimpinan daerah, rasa percaya diri hadir setelah Aya memberikan restu akan langkah yang diambil. "Papa mau maju jadi pimpinan daerah?" Alvian menatap Rangga yang menikmati sarapannya dan hanya menganggukkan kepala "Akang setuju kalau papa masuk, papa pasti jadi." "Bagaimana kamu yakin?" Rangga mengangkat alisnya mendengar kalimat Alvian. "Image papa bagus, aku yakin papa bakal jadi." Alvian mengatakan dengan penuh keyakinan. "Doakan saja. Semoga apa yang kamu katakan benar terjadi. Tugas kamu tetap sama yaitu belajar. Tunjukkan sama papa dan mama kalau kamu anak yang bisa dibanggakan, biarkan Ranti menjadikan kamu contoh." Rangga memberikan nasehat pada Alvian yang sudah berada di jenjang putih biru "Bantu papa jaga mama dan Ranti." "Ranti bisa jaga diri, papa." Rangga tersenyum menatap putrinya yang masih menggunakan pakaian merah putih. "Papa jadi ke Singapore?" "Lagi, pa?" Ranti menatap tidak percaya. "Urusan kerjaan. Jadi, ma. Semua sudah disiapkan sama Deni. Mama ada pertemuan dengan ibu-ibu, kan?" Aya menganggukkan kepalanya "Kalau uangnya kurang pakai aja kartu aku." Rangga berdiri mendekati kedua anaknya satu per satu dengan mencium keningnya "Belajar yang pintar. Papa berangkat." Rutinitasnya akan tetap sama setiap hari, melangkahkan kakinya keluar dimana para orang-orang yang ikut dengannya sudah siap dengan tugas masing-masing. Setidaknya Rangga tidak khawatir dengan keamanan keluarganya, pekerjaannya harus diselesaikan satu per satu sebelum bertemu dengan Viona. "Semua sudah siap, pak!" "Usahakan yang disana sesuai dengan apa keinginan saya, Den." Rangga menepuk bahu Deni sekilas yang hanya menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya kalau tidak rapat pastinya menemui rakyat atau keluar melihat keadaan sekitar, memastikan semua yang diberikan pemerintah berjalan sebagaimana mestinya. Langkah kaki lebar dilakukan Rangga ketika keluar dari mobil, pesawat yang akan membawa ke Singapore akan segera berangkat beberapa menit lagi. Rapat dan macet adalah kombinasi yang sangat tepat, mengucapkan maaf pada kru yang menunggu kedatangannya, setidaknya tidak membuat pesawat terlambat terbang. "Hotel sudah siap, aku harus membersihkan diri sebelum dia datang. Semoga saja waktunya cukup." Hotel yang menjadi tempat tinggalnya dan pilihan Deni adalah hotel milik H&D Group. Rangga baru mengetahui saat perjalanan menuju bandara, tidak menyangka jika perusahaan mereka bisa sampai luar negeri. Deni memang bisa diandalkan dalam hal apapun, termasuk penginapan dan mungkin nanti saat mengajak keluarga akan membawanya kesini. Menatap penampilannya di cermin, pakaian yang dibawa bukan pakaian formal melainkan pakaian santai. Aya sebenarnya menyiapkan pakaian formal, tapi tentu saja tidak dipakai karena pertemuan ini bukan pertemuan formal, pembicaraan mereka seharusnya bukan pribadi tapi Rangga tidak ingin orang tahu tentang pertemuan ini. "Saya kira kamu akan terlambat. Terima kasih meluangkan waktu untuk pertemuan ini." Rangga menatap Viona yang terlihat lebih seksi. Viona hanya menggunakan dress panjang, tidak terlalu terbuka tapi tidak membuat aura seksinya hilang. Pemilihan baju yang akan membuat Rangga teringat padanya, walaupun mungkin sulit karena istrinya tidak kalah cantik. Tujuan Viona hanya membuat Rangga jatuh cinta dan rencananya berjalan lancar, Viona sudah merangkai semuanya dengan baik. Rangga menatap dalam Viona, sesuatu dalam dirinya bangkit. Sesuatu yang seharusnya tidak akan bangkit setelah menikahi Aya, sesuatu yang pastinya sudah mati setelah pernikahan. Menghela napas dalam, masih saling menatap satu sama lain seakan tidak melepaskan rindu, meskipun mereka menyadari jika pertemuan mereka belum lama terjadi. "Jadi, apa yang membuat Mas Rangga mengajak bertemu? Tempat yang sangat pribadi, tidak mungkin untuk menuntaskan hasrat karena pastinya sudah mendapatkan dari istri." Viona berkata dengan nada lembut tanpa godaan. "Kamu meminta bantuan untuk karir di negara sendiri. Saya mempunyai tawaran, saya bisa membantu kamu." Viona mengangkat sudut bibirnya keatas "Sangat to the point sekali. Lalu apa yang mas tawarkan?" "Saya akan bantu kamu, tapi buat saya dekat dengan pemilik H&D Group." Rangga mengatakan dengan menatap dalam Viona. Viona memainkan gelas yang berisi minuman tanpa melepaskan tatapannya ke Rangga "Mas sangat tahu memanfaatkan kedekatan saya dengan Dona. Seyakin apa mas meminta bantuan agar bisa dekat dengan pemilik H&D Group? Karir politik? Mereka tidak akan membantu jika berhubungan hal itu, kita tahu jika mereka akan menghindar jika berhubungan dengan politik." "Kamu nggak usah tahu apa yang akan saya lakukan pada kedekatan dengan pemilik H&D Group." "Saya tetap harus tahu karena berhubungan dengan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini, satu lagi sejauh mana yang saya dapatkan dari mas jika semua ini sukses? Bukannya bisnis ini harus jelas? Apa yang saya minta nggak sebesar permintaan mas, permintaan yang sangat sulit dipenuhi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN