16

1017 Kata
"Siapa?" Viona menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Ihsan "Tadi tanya sama ibu siapa yang sakit, habis itu mereka bicara berdua disana. Gimana administrasinya, mas?" "Lancar. Uang kamu banyak juga." Viona berdecih pelan "Aku kerja kalau kakak lupa." Ihsan tertawa mendengarnya "Kamu tahu kalau aku suka iri sama kamu, kamu bisa melalang buana sedangkan aku hanya stay disini..." "Kakak yang support aku, lagian kenapa kakak nggak ikut melalang buana? Kakak punya banyak kesempatan." "Siapa yang jaga ibu dan ayah? Kamu tahu sendiri kalau mereka hanya punya kita, ekonomi berubah setelah perusahaan kakek diambil sama adiknya dan ayah nggak dapat apa-apa. Lagian gaji ayah berapa sih, Vi? Gajinya cukup untuk biaya hidup, setidaknya ayah sama ibu udah nggak mikir biaya pendidikan kita." "Kakak sendiri gimana?" Viona menatap Ihsan yang menatap lurus kedepan "Perekonomian keluarga mas?" Ihsan menghembuskan napas panjang "Cukup buat kita, Vi. Kamu nggak usah khawatir, walaupun kamu tahu sendiri gaji guru berapa, apalagi Silvi guru TK. Mas kerja di anak perusahaan H&D Group udah sangat senang, gajinya juga ok. Kamu mau kasih kerja tambahan?" Viona menatap dalam kedua mata Ihsan "Kakak nggak ada masalah di tempat kerjaan, kan?" "Nggaklah. Kamu tahu sendiri masuk sana itu sulit, Vi. Nggak mau aneh-aneh disana, apalagi mereka benar-benar lihat kinerja bukan koneksi. Aku beberapa kali ketemu Endi dan Leo, kita bicara santai tapi nggak bahas pekerjaan sama sekali. Mereka menghormati aku karena kakak kamu, aku juga nggak berharap dekat sama mereka bisa langsung masuk pusat atau naik pangkat. Lagian posisiku disana juga udah bagus, kamu tahu posisiku?" "Apa?" "Asisten manager." "Wuih...hebat. Kakak tahu kalau berada di posisi itu nggak mudah." Viona memberikan ibu jari kearah Ihsan yang tersenyum lebar "Siapa, bu?" Viona menatap sang ibu yang kembali duduk disampingnya. "Keluarga pasien. Bicara tentang penyakit dan kondisi keluarganya didalam. Gimana ayah?" Viona tahu ibunya tidak mengatakan sebenarnya depan mereka berdua, memilih tidak memperpanjang dan menunggu perawat memberitahukan tentang tindakan pada bapaknya. Menatap pintu dimana bapak berada, hembusan napas panjang dikeluarkan perlahan, ingatannya beralih pada pesan yang dikirim Rangga dan mengejutkan adalah pria itu mengirimkan uang untuk bapaknya. "Sebenarnya tadi siapa, bu?" Viona mengatakan dengan suara pelan agar Ihsan tidak mendengar. "Mantannya bapakmu." Viona seketika menatap sang ibu untuk melihat ekspresinya, saat mereka berbicara tadi tidak terlihat jika ibunya emosi "Mereka pernah menikah, tapi nggak sampai punya anak. Setelah bercerai kami menikah, nggak lama ibu hamil dan dia belum juga menikah. Ibu adalah pelakor, merusak hubungan mereka meski sebenarnya memang sudah rusak." Viona terdiam mendengar semua cerita yang dikatakan sang ibu, sama sekali tidak pernah mendengar cerita tentang awal mula orang tuanya. Melihat sikap orang tuanya selama ini dalam pikirannya mereka memang saling mencintai, tapi tampaknya dari awal yang salah. "Dia sudah menikah, suaminya sudah meninggal. Dia tinggal sama anaknya, anaknya ada tiga. Kami sudah bahagia dengan pasangan masing-masing, saat menjalani kehidupan pernikahan memang sudah selesai dengan yang lama." Ulfa menatap Viona yang terdiam "Kami saling mencintai, jadi hilangkan pikiran yang tidak-tidak." "Ayah akan dibawa ke ruang operasi." Berpindah ke tempat dimana sang ayah yang akan menjalani operasi, tidak ada yang membuka suara meski untuk menenangkan satu sama lain. Viona berdiri memilih untuk ke kantin, perutnya sudah memberikan protes karena belum terisi. Ponselnya berbunyi dimana terdapat pesan dari Rangga yang sudah meminta asistennya agar meletakkan bapaknya di ruangan VVIP, Viona hanya membalas dengan ucapan terima kasih. "Mbak Viona, saya Fikri diminta Pak Deni asistennya Pak Rangga untuk memindahkan bapaknya di VVIP. Apa kita bisa ke administrasi bersama?" "Ya, mas." Melangkah menuju ke administrasi agar memproses bapaknya berada di kamar VVIP, Viona tidak tahu berapa uang yang dikeluarkan Rangga untuk ini semua. Dalam pikirannya saat ini adalah kesehatan ayahnya dan kenyamanan ibunya ketika menunggu di rumah sakit. Proses berjalan cepat dimana Fikri yang menyelesaikan semua, sedangkan Viona hanya tanda tangan persetujuan. "Saya tetap disini untuk memastikan keadaan mbak dan keluarga. Kalau nanti butuh bantuan bisa hubungi saya, saya ditugaskan mengawal mbak mulai sekarang." "Mengawal?" Viona mengerutkan kening. "Benar, mbak. Saya hanya bisa mengatakan sampai sini saja, selebihnya mbak bisa langsung tanya ke Pak Rangga." "Terima kasih banyak, mas. Mas sudah makan? Pasti belum, kita makan bersama." Viona mengatakan tanpa bisa membuat Fikri menolak dan mengikutinya. Mereka berjalan ke kantin dengan posisi Fikri dibelakangnya, berjalan seakan memang tidak saling mengenal. Pertama kali dirinya merasakan ini semua, tapi jika Rangga memberikan Fikri mengikuti sepanjang waktu yang ada tidak ada kebebasan dalam melakukan sesuatu, terutama jika bertemu dengan Darmawan. "Mas mau apa?" Viona menatap Fikri yang diam dibelakang. Makan dalam diam dengan duduk berhadapan, pria yang akan menjaganya ini tampak kelaparan dan Viona akan memberi teguran pada Rangga yang membuat orang sampai kelaparan. Fokus dalam menikmati makanan, tidak memperhatikan Fikri terlalu dalam takutnya akan menjadi tidak nyaman. "Sudah lama sama Pak Rangga?" Viona membuka pembicaraan dengan suara pelan. "Baru satu bulan." Fikri menjawab sopan dan tegas. "Sebelumnya dimana?" "Jasa keamanan untuk latihan." Viona menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Fikri "Instruksinya hanya menjaga dari jauh? Apa kamu akan melaporkan semua aktivitasku ke Pak Deni?" "Ya. Berdasarkan instruksi yang diberikan." Viona menghela napas panjang "Kalau ditanya sama orang tua dan kakakku jangan bilang tentang mereka berdua, bilang saja kalau kamu asisten yang diminta sama agency." Fikri menganggukkan kepalanya "Pak Deni juga mengatakan hal yang sama." Ponselnya berbunyi dimana nama kakaknya berada di layar, menekan tombol hijau dan segera berdiri untuk melangkah kembali ke ruang operasi. Fikri masih mengikuti dari belakang dalam diam, Viona sudah tidak peduli dengan keberadaan pria tersebut, nanti akan membicarakannya dengan Rangga. "Bagaimana ayah, mas?" Viona mendekati Ihsan yang berdiri disamping sang ibu. "Masuk kamar setelah ini, bentar lagi keluar." Pintu terbuka dimana ranjang bapaknya dibawa keluar, mereka langsung mengikuti langkah perawat menuju ruangan bapaknya. Tidak ada yang membuka suara selama perjalanan menuju kamar yang akan ditempati bapaknya. "Mbak ini nggak salah?" Ihsan membuka suara saat pintu terbuka. "Benar, pak. Kami konfirmasi memang ini ruangannya." "Vi..." Ihsan menatap Viona yang menganggukkan kepalanya. Perawat keluar dari kamar meninggalkan mereka bertiga didalam ruangan, belum ada yang mengeluarkan suara tentang kamar yang ditempati ini. Viona mendekati sang bapak yang sudah membuka matanya, mata yang menatap sekitar seakan mengingat apa yang terjadi. "Nggak usah mikir apa-apa, penting ayah sehat dulu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN