Arya menatap hidangan di atas meja dengan bersungut-sungut. Dia sungguh tak suka melihat Tante Sihir berada di depannya, meski dengan senyumnya yang memukau. Mencoba manis pada Arya, tapi tetap saja dirasa palsu senyuman itu bagi anak-anak.
Mona melirik ke arah Satria yang menganggukkan kepala padanya agar mengambilkan sup yang dia buat. Wanita itu pun segera mengambilkan satu sendok sayur sup ke dalam mangkuk Arya. Anak kecil itumelengos, membuang muka ke sembarang arah saat sendok sayur mendekat ke mangkuk. Tak mau dia melihat kebaikan yang ditunjukkan oleh wanita itu.
Ingin sekali Mona mencubit kecil wajah anak yang melengos tak menghargainya. Anak yang selalu berwajah mendung dan suram padanya, nggak ada terangnya sama sekali sejak pertama bertemu. Ingin membuatnya menangis-nangis dan memohon pada Mona agar dia menjadi ibunya. Namun, sepertinya mustahil. Dengan menahan diri, Mona mencoba berperilaku tenang meski hatinya sangat dongkol melihat anak itu. Si kecil yang menjadi batu sandung dalam perjalanannya menuju ke pernikahan yang mendatangkan kemakmuran.
“Yuk, kita makan, Arya. Tante Mona udah ngambilin sup buatmu lho. Bukankah Tante Mona sangat baik?” rayu Satria.
Arya, yang ditanya hanya diam saja. Bahkan tangannya masih terlipat seperti semula. Menekuk wajah dengan menatap ke arah lain. Tak fokus pada meja makan.
“Ayo, makan sendiri apa Tante suapi, Arya??” tanya Mona.
Arya mengerutkan dahi. Tak mau lah disuapi oleh Tante Sihir itu. Bisa-bisa dia disulap jadi kodok bangkong. Arya langsung meraih sendoknya lalu mengambil wortel yang ada di dalam mangkuknya. Bersamaan dengan itu, raut wajah bangga tersirat pada Mona. Dia berhasil membuat Arya mau makan. Melirik pada Satria yang mengacungkan ibu jari padanya.
Perlahan, Arya mengunyah apa yang dia masukkan ke mulut, tapi kemudian wajahnya berubah meringis. Ingin sekali memuntahkan apa yang terlanjur di dalam mulut. Terpaksa dia mengambil tissue lalu mengeluarkan wortel yang telah hancur itu ke atas benda tipis yang ada di tangan.
“Nggak enak!” teriak Arya, membuat Satria menoleh ke anak lelakinya yang terburu-buru mencari gelas berisi air putih di dekatnya. Meneguk air itu sampai habis, karena sepertinya memang makanan yang dimakan tadi benar-benar tak terasa lezat.
“Arya! Nggak boleh gitu! Nggak sopan sama Tante Mona,” tukas Satria mendelik pada anak lelakinya yang nampak lega saat menghabiskan segelas air putih.
Arya menatap lekat pada sang ayah yang melotot padanya. Dia melihat bahkan sang ayah belum juga memulai untuk makan.
“Trus, aku suruh makan makanan nggak enak itu, Daddy? Aku nggak mau! Memang masakannya nggak enak, kok!”
Arya mendorong mangkuk yang masih tersisa banyak sup di dalamnya, menjauh dari hadapannya. Mona mendengkus melihat tingkah anak itu. Ini kali pertamanya dia mau menginjakkan kaki ke dapur demi mencuri hati Arya, tapi seolah anak itu menolak. Bukankah pengorbanannya sangat besar? Bahkan plester masih menempel di jari telunjuknya.
“Arya, nih, jari Tante sampe kena pisau cuma karena mau masak buat Arya. Kenapa Arya bilang masakan Tante nggak enak?” tanya Mona, menunjukkan jarinya yang dibalut plaster.
“Bukankah risiko memasak itu kena pisau? Arya nggak mau, ya karena emang nggak enak!” sahut Arya, menutup mulutnya.
“GTM dia,” tutur Mona pada Satria.
“Apa itu?” tanya Satria yang tak mengerti singkatan-singkatan.
“Gerakan Tutup Mulut,” jawab Mona. Dia sendiri hanya sering mendengar teman-temannya yang sudah memiliki anak. Keluhan-keluhan mereka yang anaknya sering tak mau makan, tapi tak mau menyuapi malah menyerahkannya pada para baby sitter.
“Oh, tau benar kamu soal anak-anak,” puji Satria.
“Lumayan sih,” sahut Mona dengan wajah memerah karena dipuji.
Kembali Satria menatap wajah anaknya yang merengut, seperti ingin meninggalkan ruang makan.
“Arya harus makan yang banyak, biar pinter,” rayu Satria.
“Biar pinter ya belajar,” sahut Arya, kembali melipat tangan.
Satria mendengkus dengan perilaku anaknya itu. Akhirnya dia merayu dengan menyendok sup ke dalam mangkuknya sendiri. Lalu memamerkan pada anaknya betapa lezat masakan yang telah disiapkan oleh Mona.
“Lihat ini. Daddy juga akan makan.”
Bola mata Arya bergulir menatap ayahnya. Begitu juga Mona yang antusias melihat Satria yang akan mencicipi masakannya. Kedua tangannya menopang dagu dengan tatapan mesra menghadap ke pria itu seperti yang dia lihat di film-film.
Sendok berisi jamur dan kentang mulai masuk ke mulut Satria. Baru supnya sampai di lidah dan Satria mulai merasakannya. Bayangannya masakan itu sangat lezat seperti tampilannya. Namun, reaksi Satria tak jauh berbeda dengan anaknya
Kedua mata Satria melotot lalu memutar tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri dan kemudian ke depan lagi. Dia bingung akan kemana karena dua orang sedang memperhatikan.
Terpaksa, Satria mengunyah kentang dan jamur itu dengan kedua mata terbelalak menelan semua yang terlanjur masuk ke mulut dan dia kunyah. Terlihat terpaksa sekali. Arya menahan tawa melihat ekspresi sang ayah. Sedangkan Mona mengerutkan dahinya.
“Enak kan, Sayang?” tanya Mona, meyakinkan diri bahwa apa yang dibuatnya itu disukai oleh pria pujaan hatinya.
Tanpa bisa berkata-kata, Satria berdusta demi menyenangkan hati calon istrinya, mengangguk dan masih berupaya menelan kunyahannya sambil mengeluarkan air mata. Sumpah, rasanya amburadul. Ada rasa lengkuas, salam, jahe dan bawang-bawangan. Beda sekali dengan sup seperti biasanya. Inikah hasil kursus online atau otak Mona sedang dalam perbaikan saat menghapal resep?
“Daddy bohong,” kekeh Arya.
Satria menoleh ke kanan dan kiri. Melihat dua orang yang berbeda pikiran pastinya. Yang satu ingin dia mengatakan jujur, yang satunya mengharap pujian. Bingung.
“Enak kok, Arya.” Satria menunjukkan ibu jarinya, lalu membentuk bulatan dengan ibu jari dan jari telunjuk lalu menempelkannya di bibir. Memperlihatkan bahwa makanan itu seolah lezat.
Arya menarik mangkuk ayahnya lalu menyendokkan isi sup itu lagi, lalu menyuapkannya pada sang ayah.
“Arya, mau apa kamu, Nak?” tanya Satria, gelagapan.
Sesendok sayur itu bagai duri-duri yang akan menyiksanya saat ini. Satria agak memundurkan diri.
“Ya mau nyuapin Daddy. Ayo, buka mulut. Itu, satu mangkuk besar biar Daddy yang habisin. Kan, Daddy suka? Ayo, buka mulut Dad!” titah Arya, membuat Satria membuka mulutnya dengan sangat-sangat terpaksa.
Mona sangat senang melihat hal itu. Dia puas sekali melihat Satria makan disuapi oleh Arya. Makanan buatannya disukai oleh Satria! Untuk Arya, nanti dulu lah. Yang penting sekarang, Satria menyukai buatannya. Apa yang ada di mangkuk kecilnya hingga yang ada di mangkuk besar ditarik oleh Arya untuk dipindahkan isinya ke perut sang ayah.
“Haduh, itu masakan nggak ngalor nggak ngidul. Rasanya berantakan,” gumam Satria saat selesai menelan semua sup yang ada di mangkuk dan masuk ke kamar mandi. Ingin muntah. Rasa di dalam perutnya bergejolak, seperti diputar-putar, tapi dia harus menahan.
“Arya!!” gumamnya geram dengan anak satu-satunya itu. Terbayang wajah Arya yang tertawa di atas penderitaan sang ayah. Dia terus saja memasukkan isi mangkuk ke dalam mulut ayahnya tadi. Padahal dia sudah mual sekali.
Satria memegang perut lalu beranjak dengan lari ke kamar mandi demi menumpahkan segala yang sudah tak bisa ditahannya lagi. Agak lama dia berdiam di sana, bergidik karena rasa amburadul yang dikecap oleh lidah.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Mona di depan pintu kamar mandi. Rasanya lelaki itu sudah lima belas menit berada di dalam ruangan itu.
“Nggak apa-apa.”
“Melihatmu makan tadi, aku jadi bersemangat untuk siapkan masakan lagi untuk nanti malam. Habiskan kayak tadi ya?” tawar Mona.
“Enggak, nggak usah. Nanti biar Bik Sum aja yang masakin. Udah, nanti kamu capek!” pekik Satria. Gawat kalo wanita itu lagi yang menyiapkan masakan. Bisa-bisa Satria sakit perut setiap kali makan, rasanya seperti diaduk-aduk usai menghabiskan masakan acakadul buatan Mona.
“Yah, padahal aku suka kalo kamu makan hasil masakanku, Sayang!” tutur Mona dengan penuh kekecewaan.
“Nggak usah—“
“Iya, Tante Sihir, bikinin Daddy masakan yang banyak. Kayaknya tadi Daddy suka. Biar nanti aku suapin kalo Daddy melakukan gerakan tutup mulut!” potong Arya, membuat Satria yang sedang mencuri dengar dari kamar mandi begitu geram karena mendengar teriakan anaknya.
“Arya! Dasar anak nakal!” gumam Satria, nyaris berteriak.