Sampul Buku

1500 Kata
“Caca, bawa modul-modul ini ke meja saya,” titah dosen yang baru saja memberi kuliah di ruang kelas karyawan. Karena hanya Caca yang masih nampak muda di antara sekian mahasiswa di kelas paralel itu, maka beberapa dosen suka sekali menyuruh Caca. Dari disuruh membawakan modul, hingga menyuruh mengumpulkan kertas tugas. Bahkan seringkali mereka menyuruh Caca untuk menyampaikan tugas jika tak bisa datang ke kelas. “Caca?” ulang dosen berambut putih dengan kulit sawo matang itu menatap mahasiswinya yang sepertinya menatap ke depan bertopang dagu tapi ternyata pikirannya kemana-mana. “Iya, Pak dosen! Astaga, maaf!” Kaget sekali, Caca tiba-tiba melihat wajah dosen itu tepat di hadapannya. “Kamu itu kenapa?” tanya dosen itu. “Nggak apa-apa, Pak.” Dosen itu menatap Caca dari balik kacamatanya yang menurun. Tak yakin bahwa gadis itu baik-baik saja. “Benar? Saya kira kamu baru ada masalah. Siapa tau saya bisa kasih saran.” Caca mengambili buku-buku sambil berpikir bahwa ada benarnya ucapan sang dosen, apalagi ini menyangkut biaya untuk kuliahnya. Memang seringkali orang ketiga bisa membantu memberi saran setidaknya jika kita memiliki masalah. Caca mulai berbicara pada sang dosen. “Saya itu bingung, Pak. Apa keputusan yang saya ambil untuk mencari uang ini tepat,” oceh Caca, membuat kening dosen itu berkerut, berlipat-lipat. “Memangnya, keputusan apa?” tanya dosen itu, memancing Caca. “Saya ini menyetujui jadi pengasuh anak di rumah orang. Semua ini berawal dari meninggalnya ayah saya. Semula saya membantu Ibu di kantin, kemudian anak pemilik perusahaan itu tertarik pada saya lalu ternyata ada penawaran kerja untuk menjadi pengasuhnya. Apa saya bisa ya, Pak?” Caca berjalan beriringan dengan pria yang disebut dosen itu menuju ke ruang dosen. Tak lupa kedua tangannya membawa tiga buah modul yang cukup tebal. Dosennya menatap Caca dengan simpatik. Dia kagum sekali atas perjuangan Caca untuk bisa kuliah. “Ya ampun, Caca. Ternyata kamu ini mahasiswi yang mau prihatin dengan hidup kamu. Semoga kamu sukses ya, Ca? Keputusan yang kamu ambil tepat kok. Asal kamu nggak putus asa dan nyaman di tempat kerjamu itu juga jangan lupa berusaha untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Sini, taruh modul-modul itu di atas meja saya. Makasih, ya?” ucap lelaki paruh baya itu, duduk di kursinya. “Melihat pribadimu, saya yakin kamu bisa menjalani itu, kamu pasti bisa bagi waktu, Caca. Prestasi kamu juga bagus kalo saya lihat,” ujar dosen itu, meyakinkan Caca. Senyum Caca terbit. Dia lalu menganggukkan kepala. Dia jadi yakin akan menjalani pekerjaan dan kuliahnya. *** “Nenek Bibik, kenapa Kakak Cantik lama sekali sekolahnya?” tanya Arya di hari Minggu sore itu, duduk di tepian jendela menghadap ke luar sambil menyangga dagunya. “Lho, Mas Arya sama Mbak Caca itu sekolahnya lama Mas Arya, lho!” ujar Bik Sum. Arya melepaskan sanggahan tangannya lalu menatap ke arah wanita paruh baya yang mulai dihiasi keriput di wajah, menatap padanya. “Kok bisa?” tanya dia. “Mas Arya ini sekolah seminggu lima kali, sementara Kakak Cantik sekolahnya hanya dua hari. Banyak mana coba?” tanya Bik Sum yang duduk di samping Arya. Ikut menatap ke luar rumah dari jendela kaca. “Oh, iya ya. Lama Arya ya?” Anak kecil itu merentangkan tangan, menghitung jumlah hari dan tersadar. Bik Sum tertawa kecil melihat tingkah Arya yang masih cukup menggemaskan. Sejenak kemudian Arya kembali lagi menopang dagu. Seharian dia merasa bosan hanya bermain di rumah karena sang ayah tak memperbolehkan dia untuk pergi ke luar. “Nenek Bibik, apa Nenek Bibik suka sama Tante Sihir?” celoteh Arya, menatap lagi ke luar, seperti ada seseorang yang dia nanti. Bik Sum berhenti tertawa. Jujur saja, dia sendiri tak suka dengan sikap Mona. Namun, jika dia bilang pada Arya dan Arya makin bersikap buruk pada wanita itu, pasti Tuan Satria akan marah padanya lalu malah memecat Bik Sum. Wanita itu terpaksa menganggukkan kepalanya. “Suka, Tuan Kecil. Kita harus menyukai kebaikan orang lain,” ujar Bik Sum. “Tapi, Tante Sihir nggak ada baiknya, Nenek Bibik. Dia itu jahat. Pasti suatu saat nanti dia bakal sihir Arya jadi ketela. Arya baru mau cari tongkat sihirnya di tasnya kalo sempat,” oceh anak kecil itu dengan kehaluan yang hakiki. Bik Sum tersenyum menggelengkan kepala mendengar perkataan Arya. Setengah jam mereka berbincang di depan jendela di kamar Arya. Lalu, mobil Satria masuk ke halaman rumah. Arya nampak semringah. Dia menarik tangan Bik Sum keluar dari kamar untuk menyambut ayahnya. bagaimanapun, Arya sangat menyayangi ayahnya. “Daddy!” teriaknya senang. Hari Minggu itu, Satria mengantar Mona untuk casting di Puncak. Lalu menemani wanita itu dari pagi sampai sore. Sedangkan Arya tak mau diajak karena kepentingan Mona. “Arya, Daddy bawakan keripik ini buatmu,” ujar Satria menyodorkan satu kantong keripik kentang kesukaan Arya. Anak itu meraih kantong lalu mendekap ayahnya dengan erat. Satria menggendong Arya dengan sangat sayang. “Daddy, Arya nggak mau oleh-oleh. Lain kali Daddy nggak perlu bawain Arya oleh-oleh asal Daddy pulang dengan selamat. Arya nggak mau Daddy dimakan sama Tante Sihir,” ujar anak itu mengamati wajah ayahnya lalu menelusuri hingga ke bawah. Satria tersenyum mendengar ucapan sang anak. “Ya nggak lah. Tante Mona itu kan baik. Nggak mungkin mau makan Daddy kecuali di kas—“ Satria menutup mulutnya. Hampir saja keceplosan mau bilang kasur. Sementara Bik Sum menunduk, malu sendiri. “Daddy, tapi kalo Tante Sihir nggak mau makan Daddy, kenapa leher Daddy merah-merah? Digigit Tante Sihir ya?” tanya Arya mengelus lehernya dengan wajah memerah. Bik Sum jadi mundur karena kembali malu sendiri melihat bapak dan anak itu dengan obrolan absurd mereka. “Bukan, tadi itu di Puncak banyak banget nyamuk. Tau nggak, Daddy jadi makanan nyamuk di sana,” kilah Satria. Anak kecil itu masih mengerutkan dahi, nampaknya belum begitu puas dengan jawaban sang ayah. Dia mulai lebih memperhatikan dan membandingkan gigitan nyamuk yang biasanya. “Daddy, mulut nyamuknya seberapa gede sampai segini lebarnya gigit Daddy?” Mengukur dengan telunjuk dan ibu jarinya. Bik Sum yang mendengarnya dari dapur terkekeh. Apa lagi yang akan dijawab oleh Satria. “Nyamuk gajah. Iya, di sana adanya nyamuk gajah,” kilah Satria lagi. Arya membayangkan betapa besarnya nyamuk gajah yang disebut oleh sang ayah. Namun, Satria mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya mandi di kolam renang belakang rumah. “Horee!” teriak Arya, turun lalu bersiap untuk berenang sore itu. Sebuah pelampung sudah dia siapkan di tepian kolam. Arya terlihat sangat senang kala kebersamaannya dengan sang ayah. Mereka menghabiskan waktu di kolam renang belakang rumah. Satria menatap miris pada anaknya. Dia sangat merasa bersalah meninggalkan anaknya di saat hari libur sekolah. Namun, apalah daya. Dia pun ingin mendekati Mona dan berusaha agar wanita itu bisa disukai oleh sang anak. “Arya, lihat Tante Mona ini jadi model di majalah-majalah, lho!” ujar Satria meraih sebuah majalah yang dia letakkan tadi di atas kursi santai di pinggir kolam renang usai lelah berenang bolak-balik dengan anak lelakinya yang sepertinya juga sudah capek dan duduk menyeruput satu gelas teh hangat di pinggiran kursi santai. Sesuai dengan tebakan Satria, Arya hanya mendengkus melihat wajah Mona yang berada di halaman depan majalah wanita itu. Arya tak suka. “Kamu nggak bangga, mau punya Mommy yang terkenal? Nanti kamu bisa foto bersama dia dipampang di cover majalah, Arya.” “Nggak sudi, Daddy.” “Astaga, anak ini bilang nggak sudi?” gumam Satria. Ternyata anak itu menambah kosakatanya. “Tante Mona itu terkenal, Arya. Kenapa kamu nggak sudi? Nanti kita bertiga bisa foto bareng. Semua berita akan memasang foto kita. Kamu mau, kan?” rayu Satria. Berbagai cara dia lakukan untuk merayu Arya agar anak kecil itu menganggukkan kepala untuk menyetujui segala tujuannya dengan Mona. Namun, nyatanya kerasnya hati Arya tak mampu dia pecahkan. “Arya mau,” sahut anak itu, membuat kedua mata Satria berbinar-binar mendengar hal yang tak dia sangka. “Asal—“ lanjut Arya, menggantung kalimatnya. “Asal apa? Daddy akan penuhi semua mau kamu jika itu sebagai syarat untuk bisa menerima Tante Mona di dalam keluarga kita yang sudah pasti akan bahagia, Arya!” Hampir terpekik Satria menunggu syarat dari anaknya. “Apa Arya? Mau balon udara? Helicopter remote control? Mobilan? Atau Robot-robotan? Apa Arya?” Tak sabar pria itu ingin sekali mendengar keinginan anak lelakinya. Dia menaikkan tubuh Arya duduk di pangkuannya dan bersiap mendengar kelanjutan kalimat Arya. “Arya mau Tante Sihir jadi model cover di sebuah buku,” ujar Arya membulatkan matanya menatap ke wajah sang ayah. “Oh, nggak jadi masalah bagi Tante Mona. Dia pasti bisa berpose dengan sangat manis dan cantik. Mau buku pelajaran? Atau buku cerita?” tawar Satria, bersemangat. “Benarkah, Daddy?” tanya Arya juga tak kalah bersemangat. “Iya dong. Masa Daddy bohong?” tukas Satria, membusungkan d**a. “Oke, Daddy. Janji ya?” Arya menunjukkan kelingkingnya pada sang ayah, lalu pria itu menautkan jari kelingkingnya. Tanda janji pada si anak. “Baiklah. Buku apa? Bilang dong, Arya,” desak Satria. “Buku Yaasin.” Raut wajah semringah Satria berubah jadi datar. Datar sekali usai mendengar jenis buku yang disebutkan oleh Arya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN