Ditunggu Bu Alisha

1202 Kata
“Bik, cuci, Bik!” titah Mona saat berkolaborasi dengan Bik Sum di dapur. “Iya, Nyonya.” Perasaan Bik Sum, dia yang mondar-mandir dari tadi. Mona Cuma menyuruh-nyuruh aja. Nggak ada akhlak. Dia hanya mengirisi sayur sambil duduk dengan kedua kaki dilipat di atas kursi, lalu menyerahkan hasil potongannya yang amburadul ke tangan Bik Sum. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala melihat hasil potongannya. “Bik, ambilin lengkuas sama jahe yang udah dibersihin trus geprek sekalian,” perintah Mona. Bik Sum terbelalak, ini manusia mau masak apa sebenarnya? Namun, Bik Sum tetap mengambilkan wanita yang sepertinya tak mau mendengar omongannya itu. Percuma buat mengingatkan jika yang diingatkan punya sifat yang keras. Malah darah tingginya naik. Jadi, Bik Sum membiarkan saja. Suara pisau mengiris sayuran kentara sekali di telinga karena kerasnya cara Mona mengiris semua sayuran itu. Saking tergesanya, pisau itu tak hanya mengiris sayuran tapi juga mengenai jari Mona. “Aduh!” “Kenapa, Nyonya Mona?” tanya Bik Sum, kaget. “Duh, ya kena pisau lah! Pake nanya. Cepetan ambilin plaster, jangan malah bengong gitu!” omel Mona menahan perih jarinya yang mulai mengeluarkan darah. Bik Sum meringis, lalu bergegas berlari keluar dari dapur ke tembok yang ditempeli dengan kotak P3K. Dia mengambil satu biji plaster bergambar kartun karena hanya itu yang tersisa. Bik Sum menyerahkannya pada Mona. “Ah, kenapa yang ada gambarnya?? Robot-robotan lagi. Kayak anak kecil. Nggak mau!” tolak Mona, yang masih membalut jarinya dengan tissue. “Tapi tinggal itu, Nyonya.” “Ya Bibik belikan lah! Buat apa uang yang ditinggali juragan kalo nggak buat beli-beli. Apalagi plaster! Penting itu kalo aku kena pisau semacam ini. Jadikan ini pelajaran, jadi nanti kalo aku tinggal di rumah ini, kamu harus menyediakan apa keperluanku saat memasak, termasuk plaster!” omel Mona. Bik Sum hanya manggut-manggut ngeloyor keluar sambil bergumam. “Baru tau kalo plaster itu termasuk keperluan saat memasak.” Sambil berjalan ke mini market dekat rumah, wanita itu menggelengkan kepala mengingat kelakuan Mona. Baru sekali dia bekerja sama di dapur, tapi rasanya sudah ngesot sebentar di pelataran neraka. Ucapan dan perintah wanita itu berdengung di telinganya, membuat telinga itu serasa penuh dengan congek karena terbentuk dari abab Mona. “Lama banget sih, Bik! Keburu abis nih darahku. Nanti aku kurang darah, ambil dari mana!” omel Mona. Sedari tadi dia duduk meratapi jarinya yang teriris pisau. Membiarkan semua berantakan. Dapur berasa jadi tempat percobaan dan laboratorium. Bik Sum mengelus d**a. Lalu memberesi semua peralatan yang dipakai oleh Mona. Masak sup berasa masak catering buat sekampung. Mana peralatan yang nggak perlu dipakai semua. Masa cuma kena pisau aja pake minta donor darah. Bik Sum memperhatikan wanita yang sibuk menutup lukanya dengan plaster. Mona selesai menutup lukanya dengan plaster lalu kembali melanjutkan acara masaknya dengan jari manis yang terluka dinaikkan. Menjerit saat terkena uap panas dari panci. Bik Sum rasanya pengen meledak saja saat itu mendengar omelan Mona. Apa iya Tuan Satria akan hidup selamanya dengan wanita ini? Jika iya, Bik Sum berniat memilih resign. Namun, wanita itu masih memikirkan tentang Arya. Bagaimana nasib anak itu jika dia hidup dengan wanita lebay seperti Mona ini. Bik Sum tak tega juga meninggalkan Arya sendiri. Sekarang terdengar suara sayuran yang dimasukkan ke dalam panci, secara bersamaan. Juga, dari kejauhan. Seperti melempar bola saja. Bik Sum mendesah melihat Mona yang seperti memang kurang mengerti dunia dapur. Mona dengan gaya yang professional memasukkan semua yang telah dia siapkan ke dalam panci. Sesekali dia mengaduh saat kecipratan air panas karena potongan sayur yang dia masukkan. Sesekali Mona merapikan rambutnya. Sepertinya dia tak mau kalau penampilan berantakan karena memasak di dapur. “Sudah selesai belum?” tanya Satria melongok dari pintu dapur. “Belum, Sayang. Sabar ya?” sahut Mona, lembut. Namun, terasa lebay di telinga Bik Sum. “Iya, pasti masakanmu enak. Aku nggak sabar, Sayang.” “Tentu saja, Sayang. Aku sudah kursus masak online,” sahut Mona. “Pintar sekali calon istriku,” puji Satria. Nyaris saja Bik Sum tersedak mendengar pembicaraan kedua orang yang sedang dimabuk asmara itu. Dia bagai teringat oleh drama India yang sering ditonton saat senggang sewaktu liburannya di kampung. Kali ini tanpa menari dan menyanyi. Ya, jika ditambah itu, persisnya sembilan puluh sembilan persen. “Ah, kenapa jarimu, Sayang?” tanya Satria. “Eh, cuma kena pisau. Nggak perlu dipersoalkan. Hanya masalah kecil!” desis Mona menjentikkan jari. Kini Bik Sum tau kejengkelan Arya terhadap wanita satu ini. Pantas saja dia tak suka. Sikapnya begitu berlebihan dan mencari muka di hadapan Tuan Satria. Padahal tadi dia kebakaran jenggot saat jarinya terluka, tapi berusaha tegar di depan Satria. Namun, Bik Sum tak berani mengatakan hal itu pada tuannya. Dia memilih bungkam. Biar Arya saja yang menolak mentah-mentah kehadiran wanita itu di rumah ini. “Biar Bik Sum aja yang masak,” ujar Satria. “Nggak, biar aku aja. Bik Sum pasti lelah seharian membereskan rumah.” Andai saja Satria melihat, dua bola mata Bik Sum berputar. Melengos dengan kepalsuan Mona. *** Bu Alisha duduk menunggu kepulangan Caca di ruang tamu. Hari itu dia belum mendengar cerita dari mulut anaknya tentang hari pertama bekerja di rumah Satria. Tentu saja sebagai ibu dia ingin sekali mendengar kesan dari anaknya sendiri. Langkah kaki Caca terdengar dari depan. Bu Alisha beranjak membukakan pintu untuk anak gadisnya. Sementara si Ecy sudah tidur pulas di kamar. “Eh, Ibu. Kaget aku, kok tumben belum bobok?” tanya Caca mendapati ibunya membukakan pintu untuknya. “Mau denger gimana cerita kamu jadi pengasuh Arya, Ca. Gimana? Kamu nggak disetrika kan sama majikan?” cerocos Bu Alisha, nampak khawatir. Caca mencebik. Tadi siang wanita itu mendorongnya untuk menerima pekerjaan di rumah Arya karena gaji yang besar. Apa sekarang dia baru memikirkan nasibnya di rumah orang kaya? “Nggak cuma disetrika, tapi disuruh melayani majikan, Bu!” sahut Caca meletakkan tasnya di kursi. “Astaghfirullah. Yang bener, Ca! Kalo gitu, Ibu akan lapor ke Kantor Urusan Agama, biar mereka nikahkan kamu,” tukasnya mengepalkan tangan. “Nikahkan sama siapa? Arya? Ibu bercanda kan? Ya emang aku melayani Arya, kan aku pengasuhnya. Jadi, tugasku melayani kebutuhan Arya, gimana sih Ibu ini??” gerutu Caca menghempaskan pantatnya ke kursi. “Jadi, bukan Pak Satria yang kamu layani?” tanya Bu Alisha. “Ya bukan lah!” tukas Caca. “Huh, kenapa nggak jadi layani Pak Satria aja. Kalo kamu nikah sama dia kan Ibu bisa masuk ke rumahnya. Ibu juga mau lihat isi rumah orang kaya itu kayak apa, Ca. Apa ada kursi bolongnya kayak punya kita,” kekeh Bu Alisha. Caca hanya menghela napas melihat dan mendengar perkataan manusia unik di depannya itu. Biasanya orang tua itu menyuruh melakukan hal-hal yang lurus, lah ini? Malah bercanda mau mengorbankan anak hanya demi rasa keponya. “Ibu kalo mau lihat dalem rumah ampe dalemannya Pak Satria, ke sana aja, nggak usah pake nyuruh-nyuruh kawin,” sungut Caca. “Iya, iya. Ibu ini cuma mau tau kamu itu betah apa nggak di sana. Kali aja dari betah jadi nyaman.” “Ibu!” pekik Caca yang belum juga habis rasa kesal pada ibunya, tambah lagi sekarang wanita itu menggodanya. Bu Alisha terkekeh melihat anak perempuan sulungnya sewot. Dia malah enjoy memindahkan saluran televisi ke sinetron kejar tayang kesukaannya, Sandal Yang Tertukar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN