“Arya, Kak Caca harus belajar dulu sore nanti. Abis Arya bobok, mungkin Kakak nggak ada di sebelah Arya,” ucap Caca mengelus kepala anak yang telah mencuci kaki dang tangan, bersiap untuk tidur siang.
“Yaah. Kalo gitu, Arya nggak usah bobok siang aja.”
Caca tersenyum. “Arya, bobok atau tidak, Kak Caca tetap akan pergi karena itu kewajiban. Ingat, kewajiban itu hal yang harus dilakukan. Arya nggak mau kan, Kak Caca dihukun karena melanggar kewajiban?”
Arya tampak kecewa dan ingin menangis. Kedua matanya berkaca-kaca. Bibirnya ditekuk ke depan, rasanya kecewa sekali.
Melihat hal itu, Caca segera mendekati dan mencoba memberi pengertian pada Arya. Caca harap anak itu tak akan tantrum seperti yang dilakukan oleh kebanyakan anak. Bisa repot nanti.
“Kewajiban Kak Caca sekarang ada dua, yaitu belajar dan mengasuh Arya. Jadi, Kakak tetap akan ke sini besok Senin,” ujar Caca. Sabtu dan Minggu adalah jadwal kuliah Caca.
“Kak Caca kan udah pinter, kenapa harus belajar lagi?” protes Arya.
“Eh, belajar itu selamanya. Nggak cuma udah pinter lalu berhenti belajar. Nggak akan ada kemajuan kalo pikirannya seperti itu. Kak Caca mengasuh Arya setiap hari Senin sampai Jumat, lalu Sabtu dan Minggu Kakak harus belajar. Selain itu, Kakak juga harus pulang. Kakak juga punya ibu, dan rindu pada Ibu.”
“Ibu, yang nenek itu di rumah Kak Caca?” tanya Arya teringat dengan kantin.
“Iya, betul.”
Arya nampak mengangguk-angguk. Sepertinya dia mulai memahami keadaan Caca.
“Tapi, Kak Caca bisa antar jemput Arya kan besok Senin sampai Jumat?”
Pertanyaan yang lebih mirip dengan permintaan. Caca mengangguk, membuat Arya menyunggingkan senyum. Caca berharap Arya mengerti dengan penjelasan Caca dan sepertinya Arya memang mengerti. Dia sudah tersenyum lalu mengangguk.
“Yang penting Kak Caca untuk Arya selama lima hari, dan untuk nenek selama dua hari aja,” celetuk Arya.
Caca menepuk jidatnya. Ternyata Arya hanya menghitung jumlah hari Caca bersamanya dan membandingkan dengan Caca bersama ibunya. Ya sudahlah, Caca menghela napas. Yang penting, Arya setuju dengan kesepakatan itu.
“Jadi, Hari Sabtu dan Minggu kan Arya bisa leluasa dengan Daddy di rumah,” ujar Caca diikuti oleh anggukan anak itu.
Maka siang itu dengan mudah, Arya menaiki tempat tidurnya lalu berbaring. Caca meraih sebuah buku cerita yang dia bawa dari rumah, lalu membacakannya untuk Arya.
Arya mendengarkannya dengan imajinasinya sendiri sesuai dengan cerita. Lama-lama dia mengantuk lalu memejamkan mata. Caca merasa trenyuh melihat anak yang sedang terlelap itu. Anak belum berdosa yang kekurangan kasih sayang orang tuanya. Caca mengecup kening Arya, lalu mengemasi tas dan kemudian berpamitan pada Bik Sum.
“Bibik, Caca mau kuliah dulu. Titip Arya ya, Bik? Caca udah pamitan sama Arya tadi. Sekarang Arya baru bobok,” tutur Caca.
“Oh, Mbak Caca kuliah juga? Bibik kira Mbak Caca hanya bantu ibunya di kantin tempat kerja Tuan Satria aja,” ucap wanita paruh baya itu takjub.
“Iya, Bik. Caca kan juga pengen meraih cita-cita jadi guru. Doain ya Bik, kuliah Caca lancar, juga cita-cita Caca kesampaian,” harapnya.
“Pasti, Mbak Caca. Bibik udah menyelesaikan semua pekerjaan rumah kok. Ya dengan adanya Mbak Caca, semua pekerjaan jadi cepet beresnya.”
Caca tersenyum. Syukurlah wanita itu baik. Dia mau mengerti. Tak seperti yang diceritakan orang-orang tentang pembantu rumah tangga yang suka bersaing mencari muka pada majikannya. Namun, Bik Sum benar-benar seseorang yang tulus bekerja. Baru satu hari, Caca sudah merasa betah.
“Baik, Bik. Besok Senin saya datang lagi pagi-pagi, karena Sabtu dan Minggu kuliah, maka saya harus bagi waktu. Kemarin Ibu saya sudah bilang sama Pak Satria kok, Bik.”
“Iya, Mbak Caca. Semoga tercapai cita-cita Mbak Caca. Semongko, Mbak Caca!”
“Makasih, Bik!”
Caca nyaris terkikik mendengar semangat dari Bik Sum. Dia mengangguk, lalu beranjak pergi dari hadapan wanita itu. Caca melangkah menuju ke pintu utama, melewati ruang-ruang yang memang sudah sangat bersih. Tak heran Tuan Satria begitu menyukai pekerjaan Bik Sum. Caca merasa aneh. Baru satu hari dia bekerja dan meninggalkan Arya, tapi langkahnya terasa berat meninggalkan anak kecil itu. Caca menepis pikirannya lalu menghentikan angkutan umum yang melalui jalur menuju ke kampusnya.
***
Siang itu usai kepergian Caca, Satria membawa Mona pulang ke rumah. Mona dengan sangat percaya diri membuka lemari es lalu mengeluarkan beberapa sayuran dan memotong-motongnya. Sudah seperti rumah sendiri.
“Arya mana, Bik?” tanya Satria.
“Baru tidur, Tuan.”
Bik Sum yang baru selonjoran di kamar tidurnya karena lelah, kaget begitu ditanya oleh Satria yang baru datang dan menengok ke kamarnya yang tak ditutup.
“Oh, tadi pengasuhnya udah ke sini?” tanya Satria.
“Mbak Caca? Iya, udah, Tuan. Seperempat jam yang lalu pamit mau kuliah,” jelas Bik Sum.
“Oh iya, memang begitu. Besok dia kerja Senin sampai Jumat. Pas Arya sekolah aja, lalu Sabtu dan Minggu dia pulang.”
“Sayang, itu talenan, pisau sama panci di mana sih?” Tangan Mona menggelayut di bahu Satria. Melihat Bik Sum yang meluruskan kedua kaki di kamar, matanya melotot.
“Eh, pembantu kok malah enak-enakan. Aku nih lho, begitu datang langsung nyari pisau,” omel Mona. Lirih sih, tapi terdengar di telinga Bik Sum.
Wanita paruh baya itu langsung beranjak, padahal pinggangnya masih pegal. Biasanya saat Arya tidur, Bik Sum menyelesaikan semua pekerjaan. Namun, semua sudah selesai dan rasanya pegal juga. Makanya, sebelum Arya bangun, Bik Sum berkesempatan untuk istirahat karena pekerjaan untuk menemani Arya nanti masih membutuhkan banyak energi.
“Maaf, Nyonya, Tuan.”
Bik Sum langsung ngeloyor ke dapur membantu Mona menyiapkan peralatan dapur.
“Nah, kalo lengkap begini kan enak. Masih mending aku mau masak di dapur. Ini, dikupasin, Bik!” titah Mona menyerahkan satu plastik sayuran berisi wortel dan kentang.
Bik Sum mengangguk saja. Sementara Satria mencari anaknya di kamar atas. Satria membuka pintu dengan hati-hati agar anak itu tak terbangun lalu berjalan perlahan mendekati anak yang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
“Bobok manis ya, Sayang. Nanti bangun kita makan bersama,” ujar Satria mengelus pucuk kepala Arya lalu mengecup keningnya.
“Astronot, luar angkasa,” ucap Arya, mengigau.
Satria mengerutkan dahi mendengar igauan Arya. Lalu, jari kakinya menyenggol sesuatu di atas karpet. Dengan menautkan kedua alis, Satria memungut benda itu. Sebuah buku cerita bergambar kartun yang berjudul tentang pengalaman di luar angkasa. Satria membuka buku itu. Buku dengan gambar-gambar yang menarik dengan tulisan dua bahasa di dalamnya. Satria mengangkat kedua alis. Lalu membaca pemilik buku itu.
“Natasha Putri. Oh, punya si Kaca.”
Satria meletakkan buku itu di atas meja, tapi sejenak kemudian dia mengambil buku itu lagi lalu membacanya. Menarik juga gambarnya. Satria membacanya hingga akhir karena hanya beberapa lembar dengan tulisan dua bahasa yang besar-besar khusus untuk anak taman kanak-kanak. Di halaman belakang, ada tulisan yang membuatnya mencebik.
‘Membaca buku tidak dengan ijin pemiliknya adalah dosa.”
“Buset, mana ada quotes kayak gituan? Dasar gadis aneh!” omel Satria kembali meletakkan buku itu di atas meja.