“Mona, gimana pemotretan sore nanti? Jadi, kan?” tanya Edna, teman satu angkatan modelnya. “Jadi, tapi ngapain ya aku kerja bagai kuda? Toh seharusnya kan lelaki yang harusnya berusaha?” gumam Mona mengulas pipinya dengan blush on pink di depan kaca besar. “Lho, bukannya dalam waktu dekat kamu udah mau nikah sama pemilik perusahaan, siapa namanya?” tanya Edna heran, menatap ke arah Mona yang sekarang mematut wajahnya di cermin. “Satria,” sahut Mona singkat. “Nah, iya. Satria. Iya kan, katamu mau nikah dalam waktu dekat ini?” tanya Edna lagi, menekankan kalimatnya. Mona menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Seorang perias mendatanginya untuk menyempurnakan riasan. “Anaknya yang susah, Na. Ih, pengen aku karungin itu anak, trus kubuang jauh-jauh. Susah banget m

