Arya mondar-mandir di depan halaman rumah sambil sesekali melirik ke jam tangan berbentuk robot yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih tiga puluh menit lagi, Mas Arya,” ujar Bik Sum yang ikut melirik ke jam dinding di dalam ruang tamu. “Kakak Cantik kira-kira datang nggak sih? Arya nggak mau berangkat ke sekolah kalo Kak Caca nggak datang,” sungutnya, melipat kedua tangan di depan d**a. Satria yang melihat hal itu menggelengkan kepala. Dia sendiri masih memiliki waktu satu jam ke depan untuk berangkat ke kantor. Namun, dia sendiri ikut terbawa dengan kecemasan Arya, anaknya. “Duduk, Arya. Kamu sambil makan dong nunggunya,” ujar Satria melihat Bik Sum berdiri di samping anaknya membawa satu piring berisi roti dengan selai kacang dan coklat. Bik Sum yang mendengar ucapan S

