Cinta Marcel Untuk Alexa
Marcel merasa bahagia karena malam itu bisa kembali jalan bersama dengan Alexa seorang gadis cantik blasteran Indonesia—Tiongkok.
Setelah hampir satu bulan lamanya, ia tidak berjumpa dengan Alexa karena mendapatkan tugas dari Tuan Tau Chun Ho untuk pergi ke Hongkong, dalam rangka menjalankan sebuah pekerjaan di sana. Yakni, melakukan pengamanan terhadap proyek milik Tuan Tau Chun Ho yang tengah berjalan di sebuah kawasan industri yang ada di kota Hongkong.
Malam itu, raut wajah Marcel tampak berbinar, sesekali ia menoleh ke sebelah kiri tempat Alexa duduk manis. Alexa merupakan putri semata wayang Tuan Tau Chun Ho dan mendiang Nyonya Fahira—istri Tuan Tau Chun Ho yang sudah meninggal beberapa tahun silam.
Tuan Tau adalah seorang pengusaha sukses di kota Jakarta, ia berkebangsaan asli Tiongkok yang sudah menetap lama di kota Jakarta dan sudah mempunyai paspor Indonesia.
Sementara istrinya merupakan wanita asli Indonesia yang ia nikahi 30 tahun silam dan hanya dikaruniai seorang putri yaitu Alexa yang saat ini genap berusia 20 tahun.
"Aku sangat senang, karena malam ini bisa duduk bersama kamu," kata Alexa tersenyum lebar memandang wajah Marcel.
Marcel pun balas melontar senyum ke arah Alexa, kemudian menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Ya, ampun! Marcel!" hardik Alexa terkaget-kaget. Tanpa teras tangannya melayang memukul pundak Marcel.
'Plak!'
"Aww!" pekik Marcel.
"Maaf! Tanganku refleks." Sentuhan lembut mendarat di pundak yang tadi terkena pukulan itu. Perlahan, Alexa mengelus lembut pundak bodyguard tampan itu. "Sakit ya, Cel?" tanya Alexa tampak merasa bersalah.
Marcel hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala."Tidak apa-apa, aku hanya bercanda," jawab Marcel lirih.
Sejatinya, ia dengan sengaja menghentikan laju mobilnya karena ada hal penting yang ingin ia katakan kepada Alexa.
"Kamu kenapa menghentikan mobil secara mendadak?" tanya Alexa memandang tajam wajah Marcel.
"Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, Lex." Marcel balas memandangi wajah Alexa begitu lekat, terpancar dari sorot matanya ada sesuatu yang mengganjal dalam jiwa dan pikirannya.
"Ah, kamu. Bahaya, loh!" hardik Alexa ketus.
"Iya, maaf, Lex!" Marcel langsung menepikan mobilnya ke bahu jalan.
Tempat tersebut tampak sepi jauh dari pusat keramaian kota. Bola mata indah gadis cantik bermata sipit itu terus bergulir mengamati wajah tampan sang pengawal pribadinya.
Alexa mengerutkan kening, kemudian berkata lirih, "Kenapa berhenti di sini?" tanya Alexa.
Marcel kembali tersenyum, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Tadi, 'kan aku sudah bilang, ada hal penting yang ingin aku katakan sama kamu, Lex," ucapnya lirih sambil menatap wajah Alexa. Marcel tampak grogi dan salah tingkah, ketika pandangannya beradu dengan sorot mata gadis cantik yang ada disampingnya itu.
"Kamu kenapa sih? Kok, kamu grogi banget?" Alexa tersenyum-senyum memandangi wajah Marcel yang tampak menegang. "Kamu tarik napas dulu! Coba katakan apa yang hendak kamu sampaikan!" sambung Alexa lembut.
Dengan demikian, Marcel pun mulai memberanikan diri untuk mengatakan tentang perasaannya di hadapan gadis cantik itu. "Aku cinta kamu, Lex," ucap Marcel gugup, meskipun demikian ia tetap berusaha memberanikan diri menatap wajah Alexa.
Alexa mengangkat alis tinggi, kemudian tertawa lepas, "Hahaha ... Marcel kamu aneh," kata Alexa tidak menanggapi kesungguhan Marcel yang sudah menyatakan perasaan yang selama ini menyelimuti jiwa dan pikirannya.
Marcel hanya tersenyum hambar tanpa menoleh ke arah Alexa, ia bersikap santai menanggapi sikap Alexa yang tampak biasa-biasa saja dan belum memahami apa yang ada dalam pikiran Marcel saat itu.
"Ternyata responnya biasa-biasa saja," imbuh Marcel dalam hati.
Sejatinya, Marcel menaruh harapan besar terhadap Alexa. Lantas, ia pun diam termangu tidak berkata apa-apa lagi. Karena ada sedikit rasa kecewa yang mengganjal dalam pikirannya.
"Hai! Kamu kenapa, Cel?"
"Tidak apa-apa, Lex. Maaf, aku sudah lancang berkata seperti itu," jawab Marcel sikapnya berubah dingin.
"Aku terlalu gegabah dalam hal ini," bisik Marcel dalam hati, sambil menghela napas dalam-dalam.
Marcel menyesali semua tindakannya yang sudah berkata jujur di hadapan Alexa tentang perasaannya. Namun, Marcel tetap berusaha untuk menyembunyikan rasa kecewanya itu. Ia tetap bersikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai pengawal pribadi sang nona cantik. Tanpa harus menghiraukan sikap Alexa yang meremehkan perasaannya.
Tak henti-hentinya Alexa tertawa, seperti menemukan sesuatu yang menurutnya lucu dalam diri pria tampan itu.
Marcel sudah satu tahun bekerja di keluarga Tuan Tau Chun Ho, ia merupakan pengawal pribadi Alexa, kedekatannya dengan Alexa yang sudah berjalan satu tahun lebih, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta dalam diri Marcel terhadap gadis cantik itu.
"Aku mohon maaf, aku hanya bergurau," ucap Marcel berkelit, ia kembali menghidupkan mesin dan melajukan perlahan mobil tersebut ke arah timur menuju pusat keramaian kota.
"Tidak apa-apa, Cel." Alexa tersenyum tangan kanannya ia letakkan di atas paha pria tampan itu.
Sejatinya, Alexa pun menyukai Marcel. Namun, Alexa sengaja mempermainkan perasaan Marcel. Karena malam itu Alexa ingin memberikan sebuah kejutan kepada pengawal pribadinya itu.
Tiba di sebuah kafe besar di pusat keramaian kota Jakarta, Alexa meminta Marcel untuk memasukkan mobilnya ke dalam area parkir.
"Masuk saja, Cel. Kita ngobrol di kafe sana!" pinta Alexa lembut.
"Baik, Nona cantik," gurau Marcel tersenyum.
Ketika sudah tiba di area parkir, Marcel segera menghentikan mobilnya. "Aku rasa ini adalah kafe yang sangat istimewa, semenjak pulang dari Hongkong aku baru menginjakkan kaki di tempat ini," desis Marcel mengamati bangunan kafe yang sangat megah dan bernuansakan bangunan kuno ala Eropa.
"Aku dan ayahku sering mengunjungi kafe ini," sahut Alexa sedikit bangkit dan mengarahkan wajah tepat di hadapan pria tampan itu, kemudian mencium kening Marcel seraya berkata, "I love you, Marcel."
Marcel tercengang dan terkejut dengan sikap Alexa yang tiba-tiba mendaratkan bibir di keningnya. Namun Marcel tetap berhati-hati dan tidak mau lagi larut dengan perasaan cintanya terhadap Alexa.
"Ayo, kita turun!" ajak Alexa tampak semringah.
Dalam pikiran Marcel dipenuhi rasa penasaran, ia terpaku dan diam seribu kata masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat itu. Marcel tidak dapat mempercayai peristiwa indah yang ia rasakan. Sebuah sentuhan lembut bibir indah sang nona cantik membuatnya seakan-akan hilang kesadaran.
"Hai! Kok, diam sih?" gertak Alexa yang sudah berada di luar mobil.
Marcel terperanjat dan tampak gugup. "Iya, Lex. Maaf!" Marcel membuka pintu dan langsung keluar dari mobil tersebut.
Setelah mengunci pintu mobil, mereka langsung melangkah menuju ke arah kafe yang ada di jajaran pusat bisnis dan niaga terbesar di kota itu.
Setibanya di dalam kafe, Alexa langsung mengajak Marcel untuk duduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan kafe.
"Kita duduk di sana!" kata Alexa mengarahkan jari telunjuknya ke sudut ruangan kafe tersebut.
Marcel hanya tersenyum dan berjalan mengikuti langkah Alexa. "Asal kamu tahu ini kafe milik sahabat ayahku!" kata Alexa sedikit berpaling ke arah Marcel.
Kemudian, mereka langsung duduk. Tidak lama setelah itu, datang seorang pelayan menghampiri.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya!" ucap pelayan itu bersikap ramah.
Alexa balas tersenyum dan menjawab sapaan dari pelayan itu. Kemudian langsung memesan dua cangkir kopi capuccino serta makanan ringan kepada pelayan tersebut.
"Baik, Nyonya. Mohon ditunggu sebentar!" pelayan itu langsung berlalu dari hadapan Marcel dan Alexa.
Tanpa Marcel sadari, ada dua pria mengenakan jas hitam dan berkaca mata hitam sedang mengintai dirinya dan juga Alexa.
Mereka adalah Toni dan Jose, kedua pria itu merupakan orang suruhan dari Nyonya Amira seorang pengusaha yang merasa sakit hati karena kalah tender oleh Tuan Tau Chun Ho yang merupakan ayah dari gadis cantik yang sedang bersama Marcel malam itu.
"Kita tunggu di tempat parkir saja!" bisik Toni mengarah kepada Jose.
Jose hanya mengangguk dan langsung mengikuti langkah rekannya itu untuk keluar dari kafe tersebut.
Alexa malam itu tampak bahagia bersama Marcel sang bodyguard tampan yang sekaligus ia anggap sebagai penjaga hatinya. Alexa tidak pernah berpikir langkah ke depan akan seperti apa. Apakah ayahnya akan menyetujui jika tahu hubungannya dengan Marcel atau sebaliknya? Alexa tetap berniat untuk mengatakan perasaan yang selama ini ia pendam kepada sang bodyguardnya tersebut.
Ketika Marcel hendak mencoba mengawali perbincangan dengan gadis cantik itu, Alexa sudah mendahuluinya. Marcel tampak gugup dan bersikap dingin, tak senada dengan penampilannya yang maco dan bertubuh kekar itu. Marcel tampak lembek ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu.
"Kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi?" tanya Alexa mengawali perbincangan dengan pria tampan yang duduk di hadapannya.
"Tadi kamu tidak menghiraukan apa yang aku katakan, terus sekarang kamu yang menuduhku tidak mempercayai ucapanmu." Marcel masih dalam keadaan gugup, ia terus menghindari tatapan tajam bola mata indah dari gadis cantik yang mempunyai lesung pipi itu.
Alexa tersenyum dan memegang telapak tangan Marcel. "Aku sayang kamu, tadi aku hanya bercanda," tandas Alexa meyakinkan pria tampan yang diselimuti rasa keragu-raguan terhadapnya.
Marcel hanya diam termangu menahan rasa bahagia mendengar pernyataan dari Alexa.
*