Indahnya Kebersamaan

1064 Kata
Alexa merasa kesal melihat sikap diam yang ditunjukkan oleh Marcel. "Kamu tidak suka aku bicara seperti itu?" tanya Alexa terus memandang wajah Marcel, wajahnya berubah ketus. Marcel mengatur napas sejenak, kemudian menjawab pertanyaan dari gadis cantik berkulit putih itu, "Apa kamu tidak salah, Lex?" Marcel masih tampak ragu, ia khawatir kalau Alexa hanya bergurau. "Ya, ampun! Kamu masih ragu dengan ucapanku?" Alexa kembali bertanya dengan mengangkat alis tinggi, bola mata indahnya memancarkan sebuah harapan besar apa yang ia katakan bisa dipercaya oleh sang bodyguardnya itu. "Aku percaya percaya dengan ucapanmu, tapi aku takut sakit hati. Kamu tahu sendiri aku hanya pegawai ayahmu," ungkap Marcel tetap mencoba untuk bertahan dan tidak terpancing dengan indahnya kalimat yang dilontarkan gadis bertubuh seksi itu. Alexa tertawa kecil, ia bangkit dan mengarahkan wajah dan mendaratkan bibir indahnya tepat di kening Marcel. "Ini buktinya kalau aku bersungguh-sungguh mencintaimu!" tegas Alexa. Marcel tersenyum dan mulai merasa yakin dengan kesungguhan Alexa. "Aku percaya, tapi bagaimana dengan ayahmu? Apakah tidak akan menjadi sebuah masalah besar, jika ayahmu tahu hubungan kita?" tanya Marcel. "Ayahku pasti setuju, kalau perlu aku akan mogok makan. Jika ayahku tidak menyetujui hubungan kita," jawab Alexa meyakinkan Marcel. Marcel hanya tersenyum. Saat itu Marcel sudah merasa yakin dan nyaman dengan perasaannya yang sudah terbayar lunas oleh ungkapan hati gadis cantik yang selama ini ia cintai. "Aku percaya dengan kesungguhanmu," tandas Marcel memegang erat telapak tangan Alexa. Usai berbincang dan hampir menghabiskan kopi yang mereka pesan. Marcel dan Alexa langsung beranjak pulang dan keluar dari kafe tersebut. Mereka melangkah dengan raut wajah tampak semringah satu sama lain sudah berhasil meyakinkan dirinya masing-masing tentang perasaan cinta dan sayang yang mereka pendam selama ini. Tiba di tempat parkir, Marcel dan Alexa, tiba-tiba saja dihadang oleh dua pria yang mengenakan jas hitam yang sengaja sedari tadi menunggu di tempat tersebut. Kedua pria itu berniat untuk menculik Alexa. "Kalian siapa?" tanya Alexa tampak terheran-heran dengan sikap dua orang pria berwajah sangar, yang secara tiba-tiba menghadang langkahnya. Toni dan Jose tertawa kecil menanggapi pertanyaan dari seorang gadis cantik putri seorang pengusaha sukses itu. "Ha ... ha ... ha ..." "Kami akan mengajakmu berpetualang, Nona manis!" jawab Jose tersenyum-senyum. Alexa tampak panik dan mencoba untuk berlindung di belakang Marcel. "Kamu tenang, jangan panik!" bisik Marcel menenangkan kekasihnya itu. "Wow, bodyguard hebat! Siap melindungi putri kesayangan Tuan Tau Chun Ho," ujar Toni maju beberapa langkah lebih mendekat ke arah Marcel. Mereka terus mentertawakan Marcel yang berdiri tegak siap melindungi Alexa dari ancaman mereka. "Ha ... ha ... ha ... bolehkah aku meminjam tubuh gadis kecil ini?!" kata Toni menatap tajam wajah Marcel. Marcel sudah siap siaga mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. "Tidak semudah itu, Kawan!" tegas Marcel menjawab pertanyaan dari Toni. Tiba-tiba, Jose melangkah dan menarik paksa Alexa untuk ikut dengannya. Sontak, hal tersebut memancing amarah Marcel, dengan sigap Marcel menendang punggung Jose hingga membuat pria itu tersungkur dan kepalanya membentur salah satu mobil yang terparkir di tempat tersebut. Toni tampak kesal melihat kawannya terjatuh, ia pun langsung melakukan serangan balasan terhadap Marcel. Pertarungan yang sangat sengit dilakukan oleh Marcel dan Toni. Marcel merupakan pengawal pribadi yang terlatih dan sangat mumpuni dalam ilmu bela diri. Sangat mudah baginya untuk mengalahkan kedua pria itu, tanpa harus bersusah payah. Marcel mampu mengalahkan mereka dalam waktu singkat. "Aku akan membalas semua ini!" ancam Toni dengan hidung terus mengeluarkan darah segar akibat pukulan keras dari Marcel. Kemudian Jose bangkit, hendak balas menyerang ke arah Marcel. Namun, Toni mencegah kawannya itu dan ia langsung mengajak Jose segera menjauh dari Marcel. "Kamu hebat, Sayang!" ucap Alexa memeluk tubuh kekar sang bodyguardnya itu. Marcel langsung mengajak Alexa untuk masuk ke dalam mobil, "Ayo, masuk! Kita pulang sekarang!" "Iya, Cel." Alexa melangkah dan masuk ke dalam mobil. Marcel pun langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas melajukan mobil tersebut. Perlahan meninggalkan area halaman parkir tempat itu. "Jangan dulu pulang ke rumah ya, Cel!" kata Alexa menatap wajah Marcel yang fokus mengemudikan mobil. "Lantas, kita mau ke mana?" tanya Marcel menoleh ke arah Alexa. Alexa tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke pundak pria tampan itu. "Kita ke taman kota saja!" ajak Alexa. "Kalau ayahmu menelepon, bagaimana jawabnya?" tanya Marcel tampak khawatir. "Kamu tenang saja! Aku yang akan menjelaskan kepada ayahku," jawab Alexa dengan entengnya. Alexa tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, ia terus meyakinkan Marcel agar tidak merasa ragu dan khawatir. Karena gadis itu yakin, apa pun keputusannya pasti dapat persetujuan dari sang ayah. Setibanya di tempat tujuan, Marcel mengarahkan stir mobil ke sebelah kiri dan langsung menepi di bahu jalan yang ada di pinggiran sebuah taman kota, yang dipenuhi para pedagang kaki lima yang berjajar rapi di sekitaran tempat tersebut. Mereka adalah para pedagang kaki lima yang sudah resmi mendapatkan izin dari pihak pemerintah kota, sehingga keberadaan mereka tidak terusik oleh maraknya pengusiran dan pembongkaran lapak yang dilakukan petugas satpol PP. "Ayo, Lex.!" ajak Marcel keluar dari dalam mobil. "Tunggu!" teriak Alexa manja. Marcel kembali melangkah ke arah samping kanan mobil tersebut, kemudian membuka pintu mobil itu. "Ayo, keluar!" kata Marcel memandang wajah Alexa. Alexa balas memandang wajah pria tampan itu, dengan melontarkan senyuman. Lantas, ia bangkit dari duduknya dan merangkul tubuh kekar sang bodyguard tampan. "Kita ke sana saja!" Alexa menunjuk salah satu sudut taman yang sudah tersedia tempat duduk untuk para pengunjung. Marcel tersenyum, kemudian memastikan terlebih dahulu keamanan di lokasi tersebut. Meski bagaimanapun, ia harus tanggung jawab penuh atas keselamatan Alexa, karena kapasitas Marcel merupakan bodyguard pribadi yang ditugaskan oleh Tuan Tau Chun Ho untuk menjaga putri semata wayangnya. "Biasa saja, Cel. Sekarang, 'kan, aku sudah jadi kekasihmu!" kata Alexa lirih. "Meskipun kamu kekasihku, aku tetap bodyguard pribadi yang harus menjamin penuh keselamatan kamu. Aku dibayar ayahmu untuk itu." Marcel menggandeng gadis berwajah cantik itu, melangkah ke sudut taman yang tadi ditunjuk oleh Alexa. "Terima kasih ya, Cel. Selama satu tahun ini, kamu sudah menjadi pria pelindungku," ujar Alexa memegang erat telapak tangan Marcel sembari terus melangkah bersama sang bodyguardnya. Setibanya di tempat yang dituju, Alexa langsung mengajak Marcel untuk duduk di sebuah kursi yang sengaja disiapkan oleh pengelola taman tersebut sebagai tempat santai para pengunjung, khususnya untuk warga kota Jakarta. Kebetulan di balik pagar taman itu terdapat pedagang kaki lima yang menjajakkan beraneka ragam makanan dan minuman. Mereka sudah mendapatkan izin dan masing-masing dari lapak para pedagang itu, berjualan dengan menggunakan sebuah tenda sederhana berjajar rapi di sepanjang pinggiran taman. "Kita makan dulu, Cel!" ajak Alexa mengarahkan pandangannya ke wajah Marcel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN