Bola mata Alexa tampak indah tak jemu untuk Marcel memandangnya, Alexa dengan sederet kemewahan membalut dalam tubuhnya serta ditopang oleh kecantikan wajah. Membuat Marcel semakin jatuh cinta dan sayang terhadap gadis itu.
Marcel tersenyum dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ajakan gadis cantik itu, Alexa bangkit dan sedikit melangkah ke balik pagar taman tersebut.
"Bu, aku pesan sate dua porsi pakai nasi, ya!" kata Alexa bersikap ramah terhadap ibu paruh baya sang penjual sate itu.
"Iya, Non. Pakai pedas jangan?" Ibu pedagang sate itu balas bertanya kepada Alexa yang berdiri di balik pagar taman.
"Iya, Bu. Sedikit saja!" jawab Alexa lirih.
Selain sate, Alexa pun memesan minuman jus alpukat kesukaan Marcel kepada penjual lainnya yang ada di sebelah penjual sate tersebut.
"Bang, tolong buatkan jus alpukat dua, yah!"
"Iya, Non. Mohon ditunggu sebentar!" jawab penjual minuman itu.
Alexa langsung kembali menghampiri Marcel dan duduk di sebelah pria tampan yang kini sudah menjadi seorang yang spesial di hatinya.
Selang beberapa menit kemudian, penjual sate itu sudah mengantarkan dua porsi sate berikut nasinya, bersamaan dengan diantarkannya minuman jus alpukat yang sudah dipesan oleh Alexa.
"Silahkan, Non!" ucap ibu paruh baya itu, dengan sikap ramahnya.
"Terima kasih, Bu," jawab Alexa tersenyum manis.
"Ini minumannya, Non!" ucap seorang pria berkopiah putih, meletakkan dua gelas plastik jus alpukat di atas kursi panjang yang sedang diduduki oleh Alexa dan Marcel.
"Terima kasih, Pak." Alexa tersenyum ramah.
***
Di tempat terpisah, tepatnya di sebuah tempat hiburan klub malam yang ada di kota itu. Aditia yang merupakan sepupu Alexa sedang dalam keadaan mabuk parah dan ia melakukan perbuatan tidak terpuji di tempat tersebut, sehingga menimbulkan emosi tinggi dari para petugas keamanan yang ada di klub malam itu.
Aditia berteriak tak karuan, karena merasa kesal terhadap kekasihnya yang saat itu sudah memutuskan hubungan asmara dengannya di tempat tersebut.
Para bodyguard klub malam itu tampak geram dengan kelakuan pemuda itu, kemudian mereka menghampiri Aditia dan memperingatinya untuk berhenti berteriak dan tidak melakukan kegaduhan.
Namun, Aditia ngotot dan berusaha berontak dengan meludahi salah seorang bodyguard klub malam tersebut. Sehingga menimbulkan kemarahan dari para petugas keamanan itu.
Aditia diseret paksa untuk dibawa keluar dari tempat itu, dan dihajar habis-habisan oleh beberapa orang keamanan yang rata-rata berperawakan tinggi besar.
"Sekali lagi berbuat onar, kami tidak akan segan untuk menghabisimu!" ancam salah satu pria berperawakan tinggi dan bertubuh kekar berotot itu.
Ia tampak geram terhadap ulah Aditia yang sudah berani mengacau dan membuat kegaduhan di dalam klub malam tersebut.
"Pergi kalian!" usir Aditia berteriak kencang.
Para pria berwajah sangar itu tak mengindahkan teriakan Aditia, mereka langsung melangkah kembali masuk ke dalam gedung tempat berpesta ria dan bermabuk-mabukan itu.
Aditia tersungkur tak berdaya di bahu jalan dengan kondisi wajah penuh luka memar dan hidung mengeluarkan darah segar. Hal tersebut terjadi akibat ulahnya sendiri yang sudah membuat onar di tempat hiburan malam itu.
Dengan kondisi lemah, Aditia berusaha untuk bangkit dan duduk bersandar ke sebuah mobil yang ada di area halaman parkir.
"Aku harus menelepon Joe," kata Aditia meraih ponsel dalam saku jaketnya.
Kemudian, pemuda berkulit putih dan berwajah tampan itu, langsung menelepon Joe dan meminta kawannya itu untuk menjemputnya segera ke tempat tersebut.
Joe pun setuju dengan permintaan kawan baiknya itu, ia langsung berangkat dengan mengemudikan mobil sedan putih miliknya melaju dengan kecepatan tinggi mengarah ke sebuah pusat keramaian kota untuk menjemput Aditia.
Setibanya di tempat yang dituju, Joe mendapati Aditia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari hidung dan kepala sebelah kanan akibat tendangan dan pukulan dari para bodyguard klub malam.
"Ya, Tuhan! Aditia!" Joe bergegas mengangkat tubuh kawannya itu, kemudian langsung memasukannya ke dalam mobil.
Joe langsung membawa Aditia ke sebuah klinik yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat hiburan malam itu.
Setibanya di klinik, Joe meminta bantuan kepada security yang ada di klinik tersebut untuk mengangkat Aditia agar segera ditangani dan diberi perawatan.
"Pak, tolong bantu saya!" pinta Joe.
Security itu bergegas melangkah menghampiri Joe yang sudah membuka pintu mobilnya dan langsung membantu mengeluarkan Aditia dari dalam mobil tersebut. Kemudian membawanya masuk ke dalam klinik.
"Terima kasih, Pak," ucap Joe lirih.
"Iya, Pak. Sama-sama," jawab Security tersebut kembali melangkah keluar berlalu dari hadapan Joe.
Aditia saat itu sudah ditangani oleh seorang dokter dan perawat di klinik tersebut, Joe duduk di ruang tunggu dengan wajah cemas dan merasa khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.
"Aku harus memberitahu Alexa," bisik Joe meraih ponsel dalam saku kemejanya dan segera menelpon Alexa yang saat itu sedang bersama Marcel di taman kota.
Joe meminta Alexa untuk datang ke klinik dan memberi tahu Tuan Tau tentang kondisi Aditia yang saat itu sedang dalam perawatan.
"Telepon dari siapa, Lex?" Marcel memandang wajah Alexa penuh rasa penasaran.
"Joe mengabarkan kalau Aditia sedang berada di klinik," jawab Alexa.
"Ya, sudah. Kita ke sana sekarang!" ajak Marcel bangkit.
Alexa langsung membayar makanan dan minuman, kemudian melangkah bersama dengan Marcel menuju tempat parkir mobil.
"Bawa mobilnya sedikit dipercepat, Cel!" pinta Alexa cemas.
"Iya, Lex." Marcel sedikit mempercepat laju mobil sesuai permintaan gadis cantik yang duduk di sebelahnya itu.
Dalam perjalanan, Alexa langsung menghubungi ayahnya dan memberi tahukan tentang apa yang dialami oleh Aditia. Tuan Tau Chun Ho meminta kepada putrinya itu untuk membawa Aditia ke rumah sakit jika kondisinya memang parah.
"Baik, Ayah. Nanti kalau memang dokter menyarankan Aditia untuk dibawa ke rumah sakit, aku akan segera membawanya," jawab Alexa di sela perbincangannya dengan sang ayah melalui ponsel.
"Ayah tidak bisa ke sana kondisi Ayah sedang tidak enak badan. Kamu urus saja!" pungkas Tuan Tau.
"Baik, Ayah." Alexa segera mengakhiri perbincangan dengan ayahnya.
***
Setibanya di klinik, Marcel dan Alexa bergegas masuk ke dalam dan menghampiri Joe yang saat itu sedang duduk di ruang tunggu.
"Bagaimana kondisi Aditia, Joe?" Alexa tampak cemas dan merasa khawatir terhadap saudara sepupunya itu.
"Menurut dokter, Aditia dalam kondisi baik dan hanya memerlukan istirahat yang cukup. Sekarang dia sedang diinfus," jawab Joe lirih.
"Tapi dia sudah sadar, 'kan?" tanya Alexa lagi.
"Sudah, Lex. Kamu masuk saja!" jawab Joe lirih.
Alexa langsung melangkah masuk ke dalam ruangan tempat sepupunya dirawat, sementara Marcel hanya menunggu di luar berbincang dengan Joe sahabat Aditia. Joe belum tahu persis apa motif di balik pengeroyokan itu, karena Aditia ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sehingga Joe belum dapat informasi detail dari Aditia.