Alexa meminta kepada Joe untuk menjaga Aditia selama berada di klinik tersebut, dan ia pun berpesan jika ada hal yang penting, Joe segera menghubunginya.
"Pokoknya kalau ada apa-apa kamu lekas hubungi aku!" kata Alexa di sela perbincangannya dengan Joe.
"Iya, Lex. Tenang saja! Aku akan menjaga Aditia," jawab Joe meyakinkan Alexa yang masih diselimuti oleh rasa kecemasan terkait kondisi saudara sepupunya itu.
"Aku dan Marcel pulang sekarang, yah. Besok kami kembali lagi ke sini," pungkas Alexa.
Joe tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arah Alexa dan Marcel.
Kedua pasangan kekasih itu bergegas melangkah dan berlalu dari hadapan Joe.
"Kita langsung pulang saja, Cel!" kata Alexa sembari terus berjalan mengikuti langkah Marcel.
"Iya, Nona cantik," jawab Marcel tersenyum dan berjalan sambil menggandeng tangan kekasihnya itu.
Tiba di halaman parkir, Marcel langsung membuka pintu mobil sebelah kiri, dan mempersilahkan Alexa untuk masuk ke dalam mobil tersebut, "Silahkan masuk, Cinta!" ucap Marcel tersenyum lebar. Sikapnya sangat romantis membuat Alexa tersanjung sedemikian rupa.
Alexa hanya tersenyum dan melangkah masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah itu Marcel melangkah ke arah kanan mobil itu, dan langsung masuk.
"Aku harap, kamu jangan dulu membicarakan tentang hubungan kita di hadapan ayahmu!" kata Marcel menatap wajah Alexa.
"Iya, tenang saja!" Alexa tersenyum balas memandang wajah tampan sang bodyguardnya.
Marcel melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan keduanya tampak bahagia, saling bersenda gurau dan bermanja-manjaan.
Setelah tiba di kediamannya, Alexa langsung mengajak Marcel untuk masuk, "Ayo, Cel. Kita masuk!"
Marcel hanya mengangguk dan melangkah mengikuti Alexa masuk ke dalam rumah megah itu. Tuan Tau Chun Ho saat itu sudah menunggu kedatangan putrinya di ruang tengah.
"Selamat malam, Ayah," sapa Alexa melangkah menghampiri sang ayah yang sedang duduk santai di atas sopa mewah yang ada di ruangan tersebut.
"Kamu sudah makan belum, Lex?" tanya Tuan Tau meluruskan pandangan ke wajah putri semata wayangnya.
"Sudah Ayah tadi sore," jawab Alexa bersandar di bahu ayahnya.
Meskipun sudah tumbuh dewasa, Alexa masih tetap bersikap manja terhadap ayahnya. Demikian pula dengan sang ayah, ia selalu mencemaskan putrinya jika bepergian jauh. Meskipun Alexa bukan anak kecil lagi.
Marcel hanya diam, berdiri sambil memperhatikan keakraban ayah dan putrinya. Ia hanya menyimak perbincangan Alexa dan Tuan Tau Chun Ho.
"Aku sangat merindukan sosok ayah seperti Tuan Tau," desis Marcel dalam hati.
"Sebaiknya kamu makan lagi. Ajak Marcel sekalian!" tandas Tuan Tau meminta putrinya untuk segera makan dan mengajak Marcel.
"Aku sudah makan Ayah," sahut Alexa.
"Makan lagi! Itu, kan sore. Sekarang sudah malam, tentu kalian lapar lagi," tandas Tuan Tau. Kemudian meluruskan pandangannya ke arah Marcel.
"Kau makan lagi, Cel!" perintahnya.
"Tidak, Tuan! Aku makan nanti saja di kamarku," timpal Marcel bersikap hormat terhadap sang tuan.
Mendengar ucapan Marcel, Alexa tampak kecewa. Alexa tidak paham dengan sikap yang ditunjukkan oleh Marcel, padahal Marcel sengaja bersikap seperti itu karena ingin mengelabui Tuan Tau agar tidak terlalu curiga terhadap kedekatan dirinya dengan putrinya itu.
"Kok, seperti itu sih? Ayo makan bersamaku!" kata Alexa ketus.
Tuan Tau berpaling ke arah Marcel. Kemudian, ia pun meminta Marcel untuk ikut makan bersama dengan Alexa.
"Kamu sudah lama bekerja di rumah ini, aku harap kamu tidak merasa sungkan lagi!" kata Tuan Tau, sedikit mendelik ke arah Marcel.
Marcel pun akhirnya memenuhi permintaan sang tuannya itu. "Baik, Tuan." Marcel langsung melangkah mengikuti Alexa yang sudah berjalan lebih dulu menuju ruang makan.
"Makanya, aku bilang apa?! Ayahku tidak akan melarang kita, 'kan?" kata Alexa duduk di hadapan Marcel.
"Sudah jangan bicara itu terus nanti ayahmu mendengarnya!" Marcel menempelkan jari telunjuk di ujung bibirnya.
"Ini ikannya, Non. Dan yang ini untuk Kak Marcel!" kata Melda sang asisten rumah tangga Tuan Tau Chun Ho.
Melda tampak seperti diliputi kegundahan ketika melihat kedekatan Marcel dengan Alexa.
"Terima kasih, Mel." Marcel sedikit menggoda dengan melontarkan senyum kepada Melda yang saat itu sedang menyendok nasi untuknya.
"Marcel!" hardik Alexa ketus dan mendelik ke arah Marcel.
Sepertinya gadis itu merasa cemburu ketika melihat kekasihnya menggoda Melda dengan kata-kata yang sangat halus.
Marcel hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut Alexa untuk meredam emosi kekasihnya. "Aku hanya bergurau. Ayo, sekarang kita makan!" ajak Marcel tersenyum manis memandang wajah Alexa.
Alexa kembali tersenyum dan langsung menikmati kebersamaannya, makan malam bersama pria tampan yang sudah menjadi bagian penting dalam kehidupannya itu.
Mereka tidak menyadari di antara kebahagiaan yang dirasakan oleh mereka, ada sebuah hati yang tergores.
"Aku pikir Marcel benar-benar menyukaiku, ternyata dia lebih memilih Alexa," berkata Melda dalam hati sambil terus memperhatikan keakraban Alexa dengan Marcel.
Usai makan, Alexa mengajak Marcel untuk duduk santai di sebuah taman yang ada di halaman rumahnya.
Saat itu Tuan Tau Chun Ho sudah beranjak tidur, dari kejauhan terdengar alunan musik band bergema, terdengar jelas hingga taman tempat Alexa dan Marcel sedang duduk santai.
"Itu suara musik di mana, Lex?" tanya Marcel meluruskan pandangannya ke wajah Alexa.
"Di lapangan bola yang ada di komplek ini, katanya sih hiburan ulang tahun anaknya Pak Broto," jawab Alexa lirih, tangannya begitu erat menggenggam telapak tangan Marcel.
"Kita ke sana yuk! Mau tidak?" sambung Alexa.
"Tidak, Lex. Aku hanya ingin duduk santai saja di sini!" tolak Marcel tersenyum manis tak hentinya memandang wajah Alexa. "Tidak enak, takut ayahmu mencari kita," sambung Marcel.
"Ayahku sudah tidur, Cel." Alexa merendahkan posisi duduknya, dan menyandarkan kepala di bahu Marcel.
Marcel mengelus lembut rambut halus gadis cantik itu. Dadanya mulai bergejolak dipenuhi oleh perasaan yang tidak karuan, ia mempunyai dilema besar ketika mulai dekat dengan gadis yang merupakan putri majikannya itu.
"Ya, Tuhan! Apa yang akan terjadi jika Tuan Tau mengetahui tentang hubunganku dengan putrinya?" berkata Marcel dalam hati kecilnya.
Alexa menengadahkan wajahnya. Lalu berkata, "Mau tidak? Ayah jam segini sudah tidur!"
"Aku takut ayahmu bangun, dia pasti akan mencari kita kalau kita tidak ada di sini," jawab Marcel lirih.
Tanpa mereka sadari, Melda diam-diam sedang memperhatikan di balik jendela pintu kamarnya.
"Sepertinya mereka berdua punya hubungan khusus?" desis Melda mulai mencurigai kedekatan Marcel dan Alexa.
Malam itu Alexa tampak bahagia, ia merasa senang bisa menjalin hubungan spesial dengan Marcel, seorang pria tampan yang sangat ia cintai.
Tak hanya itu, Alexa rupanya sudah mempersiapkan sesuatu untuk Marcel, ada kado spesial yang hendak ia berikan kepada kekasihnya itu.
"Aku mau memberikan sesuatu untuk kamu, Cel," kata Alexa lirih.
****