Marcel Love Alexa

1348 Kata
Marcel tersenyum menatap wajah cantik yang ada di hadapannya. Dengan penuh kelembutan, lantas ia menyahut, "Tidak ada yang tidak spesial dari kamu. Menurutku, semua sikap baikmu terhadapku sudah merupakan hal yang teramat spesial," jawab Marcel lirih, sembari memegang kedua tangan Alexa penuh cinta. Alexa balas tersenyum, dua bola mata indahnya begitu lekat memandang wajah sang pujaan hatinya. Alexa menghela napas panjang, kemudian berkata lembut, "Kamu segalanya bagiku, Marcel," tandas Alexa tersenyum manis. Perlahan, Alexa melepas genggaman tangan Marcel. "Tunggu sebentar!" Alexa bangkit dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Marcel tampak penasaran, detak jantungnya berdegup kencang. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, "Hadiah apa yang akan diberikan oleh Alexa?" Tidak lama kemudian, Alexa kembali melangkah menghampiri Marcel di tangannya terlihat sebuah kado kecil yang ia genggam, kado tersebut hendak ia berikan untuk Marcel. "Maaf ya, Sayang. Kamu lama menunggu." Alexa kembali duduk di samping Marcel dan langsung menyerahkan kado kecil yang baru saja ia ambil dari dalam rumah. "Ya, Tuhan! Ini sebuah kejutan bagiku," kata Marcel lirih, tak hentinya tersenyum menatap wajah Alexa. Ia merasa senang dan bahagia menerima kado dari gadis cantik itu. "Ini hadiah untuk kamu, dan aku pesan langsung dari Singapura jauh-jauh hari," kata Alexa balas tersenyum sedikit mengangguk, sebagai isyarat kepada Marcel untuk membuka kado tersebut. Marcel mengamati kado itu, raut wajahnya tampak semringah. Seakan-akan Marcel tahu apa isi dalam kado tersebut. "Buka, Cel!" pinta Alexa lirih. Dengan demikian, Marcel bergegas membuka kado tersebut. Ia tampak penasaran sekali dengan isi kado itu. Setelah kado tersebut dibuka, Marcel tampak terkejut sekali. "Ya, Tuhan! Terima kasih, Sayang." Marcel tampak bahagia mendapatkan hadiah jam tangan mahal dari kekasihnya. Marcel bangkit dan langsung mencium kening Alexa. Gadis cantik itu terperanjat, ia merasa kaget dengan sikap Marcel yang mulai berani. "Biasanya aku yang cium kamu duluan? Malam ini ternyata kamu berani mencium aku," kata Alexa tanpa ragu lagi langsung memeluk erat tubuh Marcel. "Aku paham bahwa ada banyak konsekuensi yang harus kuambil untuk bisa bersamamu, aku merasa tidak cocok di sana-sini, tapi entah mengapa? Aku selalu nyaman ketika berada di sampingmu." Marcel terus menumpahkan perasaan sayangnya terhadap Alexa dan tak henti-hentinya mengagumi paras cantik Alexa. "Sedari awal aku mengenalmu aku memang sudah larut dalam perasaan cinta dan sayang, aku paham dengan apa yang akan terjadi ketika kelak kita merajut tali kasih ini. Namun, aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi," ujar Alexa tersenyum manis memandang wajah Marcel. Melda terus mengamati dua insan yang sedang memadu kasih, tumbuh rasa cemburu dan kecewa dalam dirinya. Ternyata di balik sikap diam yang ditunjukkan oleh sang asisten rumah tangga itu, tersimpan rasa kagum dan sayang terhadap Marcel yang selama ini terpendam dalam lubuk hatinya. "Aku kira Marcel benar-benar menyukaiku, ternyata dugaanku salah. Marcel lebih memilih Alexa," bisik Melda penuh kekecewaan. Ia terduduk lemah di atas tempat tidur, bulir bening perlahan menutup pandangannya. Harapan dan impiannya sirna melihat kebahagiaan Marcel dengan sang nona b******u mesra. "Sekarang, pukul berapa, Cel?" tanya Alexa lirih. "Sudah pukul setengah sebelas," jawab Marcel pandangannya terarah ke sebuah jam yang melekat di lengan kirinya. Alexa bangkit dan langsung mengajak Marcel untuk segera beristirahat, "Cel, kita tidur sekarang yah!" ajak Alexa lirih. "Tidur bersama?" tanya Marcel bergurau. "Huh, maunya kamu itu. Tidak boleh kita, 'kan belum resmi jadi pasangan suami istri!" Alexa bangkit dan mendaratkan bibirnya di kening Marcel. "Selamat malam sayang," pungkas Alexa berlalu dari hadapan Marcel. Marcel hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian, ia bangkit dan langsung melangkah ke arah kamarnya yang ada di sebelah samping kediaman megah tersebut. Tuan Tau Chun Ho termasuk seorang yang sangat perhatian terhadap para pekerja dan orang kepercayaan di rumahnya itu. Bukan hanya gaji yang besar yang Marcel dapatkan, fasilitas tempat tinggal dan juga menu makanan yang tidak dibedakan dengan menu utama sang tuannya menjadikan Marcel dan para pekerja lainnya merasa nyaman. Marcel sangat senang bekerja di rumah itu, apalagi saat ini ia sudah menjalin hubungan spesial dengan putri tuannya. Di dalam kamar ia hanya termenung, pikirannya terus terbayang kepada kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Tuhan yang maha Esa. Tanpa terasa bulir bening mengalir perlahan meredupkan pandangannya saat itu. Ada banyak hal yang belum Marcel persembahkan bagi kedua orang tuanya. "Semoga Alexa bisa jadi menantu kalian," bisik Marcel penuh harap. Di sisi lain kegelisahan pun mulai mencuat, Marcel khawatir dengan kemarahan Tuan Tau jika kelak mengetahui kalau putrinya menjalin cinta dengan dirinya yang hanya sebagai pengawal pribadi di rumah itu. Entah apa yang akan Tuan Tau lakukan terhadapnya, jika tuannya itu benar-benar mengetahui tentang hubungannya dengan Alexa. **** Keesokan harinya, sekitar pukul enam sore. Marcel dan Alexa duduk santai di salah satu kafe yang tak jauh dari kantor cabang perusahaan milik Tuan Tau. Marcel mendapatkan tugas dari Tuan Tau untuk mengawal Alexa mengunjungi salah satu kantor cabang milik perusahaannya yang ada di kota Bogor. Alexa memanfaatkan tugas dari sang ayah untuk bisa bersantai dengan kekasihnya sembari menikmati keindahan kota Bogor. "Kamu mau ngopi juga, Lex?" tanya Marcel memandang wajah Alexa. "Iya, tapi jangan kopi hitam. Aku capuccino saja!" jawab Alexa tersenyum manis balas memandang wajah Marcel. Tak jemu bagi Alexa memandangi ketampanan wajah sang bodyguardnya itu, akhir-akhir ini Alexa tampak semakin agresif terhadap Marcel banyak waktu ia habiskan bersama Marcel. Tuan Tau sangat percaya kepada Marcel dan sedikit pun tidak menaruh kecurigaan terhadap orang kepercayaannya itu. Marcel dan Alexa sangat rapi dalamp menyembunyikan hubungan mereka di hadapan Tuan Tau. "Tunggu dulu sebentar! Aku mau memesan kopi!" kata Marcel lirih. "Panggil saja pelayannya suruh ke sini!" saran Alexa dengan suara lembutnya "Tidak apa-apa, Lex. Baristanya temanku, aku mau ke sana sekalian ada perlu dengannya." Marcel bangkit dan langsung melangkah menghampiri seorang barista yang saat itu tengah santai menunggu pesanan dari para pengunjung kafe tersebut. Kebetulan saat itu suasana kafe masih dalam keadaan sepi. "Hai, Marcel!" sambut seorang pemuda tampan bertubuh kekar tinggi, menyapa Marcel yang sedang melangkah menghampirinya. "Apa kabar, Jon?" Marcel tersenyum mengulurkan tangan ke arah Jon yang merupakan sahabat lamanya itu. "Ya, seperti ini, aku tidak ada perubahan. Kamu yang banyak berubah, Cel!" jawab Jon meraih uluran tangan Marcel. Mereka berjabat tangan kemudian berpelukan, Jon merupakan sahabat Marcel ketika masih tinggal di kota Depok. Mereka satu angkatan di sekolah lanjutan tingkat atas di kota Depok. "Gadis cantik yang bersama kamu itu siapa, cel?" tanya Jon pandangannya terarah kepada Alexa yang sedang duduk di sudut ruangan kafe tersebut. "Dia Alexa, putri semata wayangnya bosku," jawab Marcel tersenyum. Jon mengerutkan kening, kemudian bertanya lagi, "Yang kamu kawal itu, dia?" "Iya," jawab Marcel singkat. "Cantik, 'kan?" sambung Marcel balas bertanya. Jon tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ya, memang cantik, aku salut sama kamu, Cel," jawab Jon berdecak kagum. "Aku yakin sebentar lagi kamu bakalan menjadi CEO di perusahaan milik bosmu!" Jon menepuk pundak Marcel perlahan. "Ah, sok tahu kamu," hardik Marcel. "Aku pesan kopi hitam satu dan cappucino satu!" sambungnya mempersingkat perbincangannya dengan Jon. "Perusahaan itu akan jatuh ke tangan seorang bodyguard," gurau Jon. "Hei! Lekas buatkan pesanku!" hardik Marcel. "Ok, Cel. Ditunggu saja!" Kemudian Jon mengarahkan mulut ke telinga Marcel seraya berbisik, "Aku tidak percaya kalau kamu dan gadis itu tidak ada hubungan spesial." Jon tertawa kecil dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Marcel. "Kau ini bicara apa?" tanya Marcel sambil tersenyum. "Tunggu saja nanti! Omonganku pasti jadi kenyataan," pungkas Jon segera membuatkan kopi pesanan Marcel. Marcel hanya tersenyum, dan berlalu dari hadapan Jon, ia kembali melangkah menghampiri Alexa. "Itu teman kamu?" tanya Alexa meluruskan bola mata indahnya ke wajah Marcel. "Iya, itu Jon temanku waktu SMA." Marcel duduk dan menghela napas panjang. Sekilas Marcel menceritakan tentang persahabatannya dengan Jon. Alexa hanya menyimak dengan baik apa yang terlontar dari mulut manis bodyguard tampan itu. "Oh, jadi kamu itu asli orang Depok?" tanya Alexa. "Iya, aku bule Depok," gurau Marcel sembari meletakkan tangan di atas ponselnya yang tergeletak di atas meja itu. "Tadi ponsel kamu bunyi, entah siapa yang telepon," kata Alexa memberi tahu Marcel. Marcel langsung memeriksa ponselnya untuk memastikan siapa yang sudah meneleponnya itu. "Siapa, Cel?" tanya Alexa penasaran. "Denis, sahabatku. Harusnya tadi kamu angkat!" jawab Marcel kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. "Tadinya mau aku angkat, tapi aku tidak berani takut kalau itu selingkuhan kamu," kata Alexa bergurau. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN