Sorot mata indahnya terus terarah ke wajah pria tampan yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Selingkuh dengan siapa? Kekasihku itu hanya kamu!" jawab Marcel mencubit tipis pipi Alexa penuh kasih sayang.
"Aku hanya bercanda, Sayang." Alexa tersenyum balas mencubit pipi pria tampan yang setiap hari selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan kafe tersebut datang dengan membawa dua cangkir kopi hitam dan cappuccino pesanan Marcel, "Silahkan, Tuan! Nyonya!" ucap pelayan itu bersikap ramah.
"Terima kasih, Mas," sahut Marcel melontar senyum kepada pelayan kafe itu.
"Dulu, ketika aku masih duduk di bangku SMA setiap kali ke kantin, aku pasti memesan kopi hitam," ujar Alexa lirih.
"Memangnya, kamu suka dengan kopi hitam?" tanya Marcel meluruskan pandangan matanya ke wajah cantik sang bidadari pujaan hati.
Alexa menjawab sambil tersenyum manis, "Iya, dulu aku ini penggemar kopi hitam. Tapi, semenjak mengalami penyakit lambung, ayah melarang keras, dan sekarang aku pindah haluan sama cappucino."
"Coba kau minum cappuccino itu sambil memandang wajahku! Pasti kamu akan merasakan betapa manisnya cappucino itu, karena aura kemanisan wajahku akan menempel ke dalam rasa minuman itu," gurau Marcel tertawa lepas.
Jon yang menyaksikan pemandangan seperti itu, hanya tersenyum-senyum. Ia pun berkata dalam hati, "Sungguh beruntung nasibmu kawan. Bekerja sebagai pengawal dan dicintai gadis yang kau kawal."
Setelah hampir satu jam berada di kafe tersebut, Marcel dan Alexa langsung pamit kepada Jon, dan segera berlalu dari tempat tersebut.
"Kami pulang dulu, Jon. Jika kau butuh aku telepon saja!" imbuh Marcel lirih.
"Baiklah, Kawan. Sukses buat kamu, dan aku sebagai sahabatmu pasti akan terus mendukung," jawab Jon tersenyum lebar dan memeluk erat tubuh Marcel.
Setelah itu, Marcel dan Alexa langsung berlalu dari hadapan Jon, dan mereka pun segera keluar dari kafe tersebut.
Dua pasang mata terus mengamati gerak-gerik Marcel dan Alexa. Dua orang pria bertubuh kekar berdiri di sudut halaman parkir area pusat perbelanjaan itu, sikap mereka sangat mencurigakan. Mereka seperti hendak mempunyai niat jahat terhadap Marcel dan Alexa. Secara tidak sengaja Marcel berpaling ke arah dua pria itu.
"Siapa mereka?" desis Marcel dalam hati.
Kemudian, ia berpaling ke arah Alexa. "Sebaiknya kamu masuk ke dalam mobil! Aku akan menghampiri dia orang itu!" kata Marcel lirih.
Alexa berpaling ke arah dua orang itu. "Siapa mereka, Cel?" tanya Alexa tampak penasaran dahinya mengernyit, sepasang bola matanya terus mengamati gerak-gerik kedua orang itu.
"Entahlah, kamu masuk, yah!" pinta Marcel langsung melangkah menghampiri dua orang pria yang berada di sudut halaman parkir itu.
Dengan penuh kecemasan dan merasa khawatir akan keselamatan kekasihnya. Alexa pun menuruti perintah Marcel.
"Kamu hati-hati, Sayang!" ucap Alexa.
Marcel hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Alexa langsung masuk ke dalam mobilnya dan terus mengamati gerak-gerik kedua orang itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Marcel segera melangkah menghampiri kedua orang itu. "Aku harus memastikan siapakah mereka?" desis Marcel sambil berjalan menuju sudut halaman parkir.
Dengan sikap tenang, Marcel berdiri tegak di hadapan kedua pria bertubuh kekar itu.
"Rupanya nyalimu besar juga, Pengawal?" tanya salah seorang dari kedua pria tersebut. Dua pria itu bersikap angkuh, dan menampakkan wajah sinis terhadap Marcel.
Marcel tetap bersikap tenang dan tidak menampakkan kemarahan sedikit pun. Lantas, ia bertanya lirih, "Mohon maaf, Kawan. Kalian ini siapa? Aku pikir kalian ada perlu denganku. Katakan! Perlu kalian apa?"
Dua orang pria itu tertawa lepas, kemudian melangkah mendekati Marcel. Salah satu dari mereka membuang ludah di hadapan Marcel, sikap yang ia tunjukkan sangatlah tidak sopan dan memancing emosi Marcel.
Namun, Marcel masih bisa menahan amarahnya. Ia terlihat santai, meskipun dadanya mulai bergejolak ditumbuhi emosi yang tinggi.
Mereka tidak mengindahkan pertanyaan dari Marcel, justru mereka mengambil tindakan yang tidak terduga. Salah satu dari mereka maju dan langsung mengayunkan kepalan tangan yang membulat kuat hendak menyasar kepala Marcel.
Dengan sigap, Marcel meraih tangan pria itu, dan memutar ke belakang. Sehingga pria bertubuh kekar itu tak dapat bergerak lagi.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mencelakai Nona Alexa?" bentak Marcel kedua tangannya mulai menguasai tubuh kekar itu.
Belum sempat mendapatkan jawaban, satu serangan dari pria yang satu lagi mengarah deras hampir mengenai wajah Marcel. Akan tetapi, naluri Marcel sangat kuat. Kaki kanannya menendang keras bagian tangan pria tersebut menghadang serangan yang sangat cepat.
Setelah itu, Marcel langsung menendang keras punggung orang yang dikuasainya itu. Sehingga dua pria itu saling bertubrukan dan jatuh.
"Katakan! Siapa yang sudah menyuruh kalian?" bentak Marcel.
Mereka bangkit, salah satu dari kedua pria tersebut balas membentak keras, "Kau tidak perlu tahu, siapa yang sudah menyuruh kami. Hadapi lagi aku!"
Tangan kanannya kemudian melayang bersamaan dengan langkah cepat dari gerakan kakinya, hinggap tepat di wajah kiri Marcel.
Marcel sedikit terdorong oleh kuatnya pukulan tersebut. Dari ujung mulutnya mengalir darah segar, Marcel tidak mempedulikan hal itu. Ia segera membalas dengan tendangan keras mengenai lambung lawannya.
Setelah menendang keras kepada satu lawannya, Marcel kemudian menyerang pria yang satunya lagi dengan sebuah pukulan yang menyerbu secara beruntun tanpa terduga oleh lawannya. Sehingga hanya dalam waktu singkat saja, Marcel sudah dapat melumpuhkan dua orang yang ia anggap kuat itu.
Dua orang itu kemudian bangkit. Dengan segenap kesiapsiagaan, Marcel sudah pasang kuda-kuda untuk kembali menghajar dua orang itu.
"Ayo, kalian maju lagi!" tantang Marcel dengan sikap teguh siap melakukan serangan berikutnya.
Akan tetapi, dua orang pria bertubuh kekar itu sudah tidak berani lagi dalam melakukan serangan, dan mereka pun tidak mengindahkan perkataan Marcel. Keduanya langsung mundur dan berlalu dari hadapan Marcel.
"Sayang!" teriak Alexa berdiri di daun pintu mobil mewahnya. "Kami hebat!" teriaknya lagi tersenyum lebar penuh rasa kagum terhadap pria yang sangat dicintainya itu.
Marcel balas tersenyum dan langsung melangkah menghampiri Alexa.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini!" kata Marcel langsung masuk me dalam mobil.
Demikianlah, mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut. Marcel melajukan mobil dengan kecepatan rendah menuju sebuah tempat yang berada di pinggiran kota Bogor.
"Kapan kita ke kantor cabang perusahaan ayahmu yang satu lagi?" tanya Marcel lirih sambil mengemudikan mobil.
"Nanti saja, kita tunggu telepon dari staf pribadi ayah!" jawab Alexa tersenyum manis. "Wajahmu memar, sebaiknya diobati dulu?" tambahnya berkata penuh kelembutan.
Marcel menjawab dengan pandangan tetap fokus ke jalan yang sedang dilaluinya, "Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri!"
"Tapi, sakit, 'kan?" tanya Alexa.
"Rasa sakit ini tidak akan terasa, jika kamu tetap di sampingku!" jawab Marcel sedikit menoleh sambil melontar senyum kepada Alexa.
****