Kemarahan Tuan Tau Chun Ho

1033 Kata
Pukul 11:00, Alexa mendapatkan telepon dari Bimo salah satu orang kepercayaan ayahnya yang mengurus beberapa perusahaan miliki sang Ayah yang ada di kota Bogor. Bimo meminta Alexa untuk segera datang ke kantornya karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Alexa menyangkut perusahaan tersebut. "Baik, Mas. Nanti sekitar pukul satu aku ke sana," pungkas Alexa di akhir perbincangannya dengan Bimo. "Telepon dari siapa, Lex?" tanya Marcel penasaran. "Bimo, dia orang kepercayaan ayahku," jawab Alexa sembari memandang wajah Marcel. "Oh, aku kira saudara kamu!" kata Marcel tak jemu memandangi wajah Alexa. Terbesit tanya dalam diri Marcel, "Apakah kenyataan akan indah menjalin hubungan asmara dengan Alexa? Akankah membawa kebahagiaan untuknya di kemudian hari, dan apakah Tuan Tau akan dapat menerima kenyataan tersebut?" Keraguan pun menyeruak, entah kenapa? Marcel saat itu sangat takut kehilangan Alexa. "Kamu kenapa, Cel? Ada apa di wajahku? Seperti orang baru kenal saja!" "Aku bangga, mempunyai kekasih sebaik dan secantik kamu," puji Marcel lirih dengan memegang telapak tangan Alexa, menggenggam erat penuh kasih sayang. Alexa hanya tersenyum, kemudian bersandar di bahu Marcel sambil mengangkat wajah memandang ketampanan Marcel. Perlahan, Marcel mengangkat tangan dan mengarahkannya tepat di atas kepala kekasihnya itu, dengan penuh kelembutan Marcel membelai rambut indah sang kekasih yang tampak halus dan hitam berkilau. Alexa sangat menikmati belaian lembut tangan pria tampan itu. Beberapa saat kemudian, Mereka langsung meninggalkan tempat itu. Keduanya langsung menemui Bimo di kantor cabang perusahaan milik Tuan Tau Chun Ho yang ada di kota Bogor. Bimo melaporkan tentang kesiapan perusahaan cabang yang ia kendalikan itu kepada Alexa. Terutama mengenai beberapa proyek besar yang akan segera digarap. Alexa menyetujui dan segera memberikan mandat kepada Bimo untuk segera memulai proyek-proyek tersebut. "Baik, Nona. Saya akan segera melaksanakan tugas ini, dan pekan depan saya akan memulai satu proyek awal," tandas Bimo berbicara di hadapan Alexa dan Marcel. "Terima kasih, Mas Bimo. Semoga proyek yang Anda pegang ini lancar dan selesai tepat waktu," jawab Alexa tersenyum ramah. Setelah semuanya selesai, Alexa dan Marcel langsung pamit kepada Bimo. Saat itu juga keduanya segera kembali ke Jakarta untuk melaporkan tugas yang sudah mereka kerjakan. Setibanya di rumah megah milik Tuan Tau Chun Ho, Marcel diizinkan untuk beristirahat oleh sang tuan besar. Sementara Alexa saat itu langsung berbicara empat mata dengan ayahnya terkait tugas yang baru saja ia kerjakan. Alexa menyampaikan laporan Bimo kepada Tuan Tau, bahwa proyek perusahaan milik ayahnya yang ada di Bogor akan segera memulai mengerjakan beberapa proyek besar dalam waktu satu pekan ke depan. "Ayah bangga kepada kamu, Nak. Semoga kamu ke depannya bisa me jadi CEO perusahaan milik Ayah," ujar Tuan Tau tersenyum bangga. **** Pagi harinya, Tuan Tau meminta Melda untuk memanggil Marcel menghadapnya, "Melda!" panggil Tuan Tau sedikit berteriak. Raut wajahnya tampak dipenuhi rasa emosi tinggi, entah apa penyebab kemarahannya itu? "Iya, Tuan," sahut Melda bergegas menghampiri sang tuan besar. Melda tampak khawatir ketika melihat raut wajah pria paruh baya itu yang menunjukkan kemarahan. "Semoga Tuan Tau tidak memarahiku," kata Melda dalam hati. Ia merasa dirinya akan dimarahi oleh Tuan Tau, karena baru saja Melda melakukan kesalahan. Ia sudah memecahkan dua guci kesayangan Tuan Tau. Kejadian tersebut tanpa ia sengaja, mungkin karena Melda lalai sehingga tanpa terduga dirinya menabrak guci-guci tersebut. "Iya, Tuan. ada apa?" tanya Melda tidak berani menatap wajah pria paruh baya itu. Ia berdiri di hadapan Tuan Tau yang terlihat menyimpan kemarahan yang sangat besar. "Melda, kamu panggil Marcel dan suruh menghadap saya sekarang!" perintah Tuan Tau dengan nada tinggi. "Iya, Tuan." Melda langsung melaksanakan tugas tersebut, ia bergegas melangkah menuju ke arah samping kediaman megah itu, untuk segera memanggil Marcel yang tengah berada di kamarnya. Setibanya di depan kamar Marcel, Melda langsung mengetuk pintu kamar tersebut. "Tok ... tok ... tok ... Kak Marcel!" panggil Melda lirih. "Iya, ada apa?" sahut Marcel balas bertanya. "Kakak dipanggil Tuan, disuruh menghadap sekarang!" jawab Melda langsung berlalu dari tempat tersebut, tanpa menunggu Marcel keluar dari kamarnya. "Mau apa, Mel?" Marcel bangkit dan membuka pintu. "Ya, Tuhan! Dasar si Melda," gerutu Marcel sambil geleng-geleng kepala. Marcel sedikit kesal ketika membuka pintu, Melda sudah tidak ada. Kemudian, Marcel langsung berpakaian rapi dan bergegas menghampiri Tuan Tau yang sedari tadi sudah menunggunya. Setibanya di hadapan bos besarnya, Marcel langsung dipersilahkan duduk oleh Tuan Tau Chun Ho, "Silahkan duduk! Aku mau bicara penting denganmu." Tuan Tau tampak seperti menyimpan kemarahan besar terhadap Marcel. Marcel pun sudah dapat memastikan, bahwa Tuan Tau memanggilnya itu pasti terkait masalah hubungannya dengan Alexa. Marcel menduga kuat bahwa hubungannya dengan Alexa sudah diketahui oleh pria paruh baya kelahiran Beijing itu. "Melda!" panggil Tuan Tau kepada asisten rumah tangganya. Melda bergegas menghampiri, "Ya, Tuhan! Ada apa lagi ini?" gumam Melda melangkah menghampiri sang tuan. "Ada apa, Tuan?" tanya Melda lirih. "Kau sudah memanggil Marcel?" "Sudah, Tuan." "Sekarang panggil Alexa suruh menghadapku secepatnya!" perintah Tuan Tau masih menampakkan sikap marahnya di hadapan Melda. "Ba–baik, Tuan." Melda tampak gugup di hadapan Tuan Tau. Kemudian, ia langsung melangkah menuju ke lantai dua rumah tersebut, untuk segera memanggil Alexa. "Non Alexa!" panggil Melda berdiri di balik pintu kamar Alexa. Alexa menyahut, dan balas bertanya, "Iya, Ada apa, Mel?" "Tuan memanggil Nona!" jawab Melda. Alexa bangkit dan langsung keluar dari dalam kamar, "Mau apa sih Ayah?" "Tidak tahu, Non. Sebaiknya, Non segera turun!" "Iya." Alexa dan Melda langsung turun ke lantai satu. Alexa segera menemui ayahnya yang berada di ruang tengah rumah mewah itu. Alexa langsung duduk di samping Marcel berhadapan langsung dengan sang ayah yang tampak menyimpan perasaan emosi terhadap dua orang yang ada di hadapannya itu. "Kalian harus jujur, jawab pertanyaanku! Apakah kalian benar menjalin hubungan asmara?" tanya Tuan Tau tiba-tiba saja berkata demikian. Tentu apa yang ia katakan itu sangat mengagetkan Alexa dan Marcel. Sorot matanya tajam mengarah kepada Marcel dan juga putrinya. "Tidak, Tuan!" sanggah Marcel berusaha untuk menutupi hubungannya dengan Alexa. "Jangan bohong!" bentak Tuan Tau dengan suara lantangnya, raut wajahnya tampak memerah menahan emosi yang bergejolak dalam jiwa dan pikirannya saat itu. Napasnya pun seakan-akan menderu-deru. Baik itu Marcel ataupun Alexa, mereka masih diam tidak bisa berkata-kata di hadapan pria paruh baya itu. Mereka hanya menunduk dan pasrah menerima apa pun keputusan yang akan diambil oleh Tuan Tau, apakah Marcel akan bertahan di rumah itu atau sebaliknya, Tuan Tau akan memecatnya? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN