Marcel Diberhentikan dari Pekerjaannya

1099 Kata
Kemudian, Alexa mengangkat wajah dan meluruskan pandangannya ke wajah sang ayah, dengan tegas ia mengakui bahwa dirinya benar menjalin cinta dengan Marcel. Pengakuan Alexa membuat Marcel terkejut. Marcel sangat menyayangkan sikap jujur yang ditunjukkan Alexa itu, ia khawatir Tuan Tau Chun Ho menghukum Alexa atau mengirim Alexa ke luar negri untuk menghindari kedekatan dengan dirinya. "Good! Kalian selama ini sudah membohongi aku," kata Tuan Tau tersenyum sinis sambil bertepuk tangan sebagai bentuk sindiran terhadap Marcel dan juga Alexa. Marcel sudah paham kemungkinan yang akan terjadi jika Tuan Tau benar-benar marah, ia pasti akan kehilangan pekerjaan sebagai bodyguard dan akan segera keluar dari rumah mewah itu. Tuan Tau terus memandang tajam ke arah Marcel yang tertunduk diam seribu bahasa, tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Marcel sudah tak berdaya, untuk membela diri pun rasanya sangat sulit ia lakukan. "Mulai detik ini, kamu keluar dari rumah ini, dan untuk gaji nanti aku transfer ke rekeningmu!" tandas Tuan Tau tanpa bicara yang lain lagi, ia bangkit dan langsung berlalu dari hadapan Marcel dan Alexa. "Ayah!" teriak Alexa bangkit dan mengejar ayahnya. Sesegera mungkin Marcel langsung bangkit dan keluar dari rumah tersebut, ia langsung melangkah menuju kamarnya yang berada di samping rumah megah itu. "Aku harus segera keluar dari rumah ini, Tuan Tau sudah mengusirku," desis Marcel. Marcel tidak melakukan pembelaan sedikitpun ia sadar itu memang kesalahannya dan Marcel terima risikonya dengan ikhlas. Marcel langsung mengemas pakaiannya ke dalam tas besar bersiap untuk segera pergi dari rumah tersebut. Sementara Alexa masih melakukan protes kepada ayahnya terkait keputusan dari Tuan Tau yang langsung memberhentikan Marcel dari pekerjaannya sebagai bodyguard pribadinya. Alexa tidak menerima keputusan dari Tuan Tau Chun Ho, dan terus berusaha menjelaskan semuanya agar ayahnya itu tidak menyalahkan Marcel. "Harus Ayah ketahui, itu semua bukan kesalahan Marcel!" kata Alexa berusaha untuk meyakinkan ayahnya. "Lantas ini semua salahmu?" tanya Tuan Tau membentak keras. "Ya, Ayah. Akulah yang sudah mencintai Marcel, dan aku yang mengungkapkan perasaanku ini terhadap Marcel. Apakah Ayah tidak ingin putrimu ini bahagia dengan pria pilihanku sendiri?" "Sudahlah, terserah kamu saja!" pungkas Tuan Tau langsung masuk ke dalam kamarnya. Sikap dan keputusan Tuan Tau, tentu membuat Alexa bersedih. Namun itu semua sudah tak dapat diubah lagi, gadis cantik itu hanya menangis di depan pintu kamar ayahnya, tak ada lagi yang bisa ia perbuat selain menangis dan memohon agar ayahnya memaafkan Marcel. **** Di tempat terpisah, Marcel sudah berkemas untuk segera angkat kaki dari kediaman Tuan Tau Chun Ho. Karena dirinya sudah resmi diberhentikan secara tidak hormat oleh tuannya. Ketika Marcel hendak melangkah keluar dari kamar, Melda datang menghampirinya. "Kak Marcel!" panggil Melda dengan bola mata berkaca-kaca. "Iya, kamu kenapa, Mel?" tanya Marcel sembari menutup pintu kamarnya. "Maafkan aku, Kak. Aku yang melaporkan semuanya kepada Tuan besar tentang hubungan Kakak dengan Nona Marcel, aku melakukan itu karena aku sayang kamu, Kak." Melda tampak menyesali perbuatannya. Ia pun memohon-mohon kepada Marcel agar memaafkan kesalahannya. Dengan penuh kelembutan, Marcel pun berkata seraya memberikan maaf kepada Melda yang telah berbuat jahat terhadapnya, "Tidak apa-apa, cukup aku dan Tuan Tau saja yang tahu. Jangan sampai Alexa tahu kalau kamu yang sudah melaporkan ini semua!" kata Marcel tersenyum menatap Melda. "Kamu harus tetap bekerja di sini, kasihan orang tuamu!" sambung Marcel sedikitpun tidak marah terhadap Melda, meskipun gadis itu merupakan dalang utama di balik kemarahan Tuan Tau Chun Ho. Tanpa banyak bicara lagi, Marcel langsung melangkah menuju ke arah mobilnya. "Kak Marcel, maafkan aku, Kak!" teriak Melda. Namun, Marcel tidak mengindahkan teriakannya itu. Sehingga Melda pun hanya tertunduk lesu dan bersimpuh di lantai meratapi kepergian Marcel dan menyesali segala perbuatannya. Perlahan Marcel melajukan mobilnya, dan langsung melaju keluar dari halaman rumah tersebut, tidak lama kemudian Alexa berlari kencang menuju kamar Marcel. "Mel, apakah Marcel sudah pergi?" tanya Alexa raut wajahnya tampak mendung dihinggapi kesedihan yang teramat mendalam. "Kak Marcel sudah pergi, Non," jawab Melda berusaha menahan kesedihannya. Terbesit dalam pikirannya, ia ingin mengatakan hal yang sebenarnya, dan ingin mengakui bahwa dirinya yang sudah melakukan kesalahan besar terhadap Alexa dan Marcel. Akan tetapi, ia teringat pesan Marcel, bahwa dirinya tidak boleh memberitahu Alexa akan hal itu. "Kenapa kamu tidak mencegahnya, Mel?" Alexa merasa kesal terhadap Melda karena tidak berusaha untuk mencegah Marcel pergi dari rumahnya. Melda hanya diam tertunduk di hadapan Alexa, ia sangat menyesal dengan perbuatannya. Namun, Melda tidak mengatakan apa-apa di hadapan Alexa tentang pengaduan dirinya kepada Tuan Tau yang secara sengaja memberi tahukan Tuan Tau tentang hubungan Alexa dengan Marcel. Setelah itu, Alexa langsung berlalu dari hadapan Melda. Ia kembali melangkah dan masuk ke dalam rumah. **** Ketika sudah tiba di kediamannya, Marcel tidak langsung turun dari mobil. Ia sempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Alexa. 'Kamu jangan bersedih, ini semua adalah awal ujian yang Tuhan berikan untuk hubungan kita!' tulis Marcel dalam sebuah pesan singkat yang ia kirimkan kepada nomor kontak kekasihnya. Dengan cepat Alexa pun langsung membalas pesan tersebut, 'Entah siapa yang memberitahukan ini semua kepada ayahku? Maafkan aku, Cel! Karena aku, kamu harus kehilangan pekerjaan," balas Alexa. 'Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting aku tidak kehilangan kamu!' tulis Marcel lagi. 'Nanti sore ayahku berangkat ke Bandung. Boleh, 'kan jika aku main ke rumah kamu?' pungkas Alexa dalam pesan singkat tersebut. 'Iya, aku tunggu!' balas Marcel langsung menutup ponselnya. Marcel hanya tersenyum dan langsung keluar dari dalam mobil, melangkah menuju ke arah pintu rumahnya. Baru saja membuka pintu, dari arah belakang terdengar suara lirih seorang pria, "Marcel!" ucap suara tersebut. Marcel membalikan badan dan mengarah kepada pria yang baru tiba itu, "Ya, Tuhan! Denis. Kapan kamu pulang?" tanya Marcel tampak bahagia dengan kehadiran Denis yang merupakan sahabat baiknya sedari kecil. Denis adalah tetangga dekat Marcel yang sudah hampir beberapa tahun terakhir bekerja di Taiwan. Hari itu, Marcel dan Denis baru dipertemukan lagi. "Aku pulang kemarin sore. Tadi malam aku ke sini kamu tidak ada," jawab Denis. "Aku tinggal di rumah Tuan Tau," jawab Marcel langsung mempersilahkan Denis untuk masuk ke dalam rumahnya, "Ayo, Den. Silahkan masuk! Kita ngobrol di dalam saja!" Denis hanya tersenyum, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Setelah berada di dalam rumah, Marcel langsung mempersilahkan Denis untuk duduk, "Duduk dulu, Den!" "Iya, Cel. Terima kasih." Denis duduk di sopa yang ada di ruang tengah rumah sahabatnya itu. Bola matanya terus bergulir mengamati isi rumah yang tampak berantakan itu. "Rumah kamu berantakan banget, Cel. Memangnya sudah berapa bulan kamu tidak menempati rumah ini?" tanya Denis mengerutkan kening memandang wajah sahabatnya. "Semenjak pulang dari Beijing aku tidak pernah pulang ke sini, sekitar satu bulanan lebih," jawab Marcel tersenyum. "Pantas saja, rumah kamu berantakan," kata Denis geleng-geleng kepala. "Terus, ceritanya hari ini kamu sedang pulang kandang atau libur?" sambung Denis bertanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN