2. Pertemuan Pertama

1733 Kata
Sinar matahari pagi yang cerah menembus sampai ke dalam kamar Claire. Claire tampak cantik meskipun baru bangun, dia bangkit dari tempat tidur lalu memandang ke taman belakang istana yang tampak sepi. Claire segera mencuci muka dan menggosok gigi lalu menyambar kimono tidurnya menuju ke taman belakang istana. Istana masih tampak lengang, setelah turun menggunakan lift dari lantai 3 apartemennya menuju ke lantai dasar, Claire segera menuju ke taman. “Selamat pagi, Putri Claire!” sapa salah seorang pelayan dapur istana. “Selamat pagi,” jawab Claire sopan. “Apakah Anda menginginkan sesuatu, Putri? Secangkir teh panas atau secangkir cokelat panas mungkin?” “Cokelat panas sepertinya enak, terima kasih.” “Baik Putri, akan segera saya siapkan.” Claire duduk di salah satu teras, memandangi taman bunga yang indah tak berapa lama kemudian pelayan sudah membawakan cokelat panas permintaan Sang Putri ditambah camilan untuk menemani waktu santai Sang Putri di pagi hari. Seluas mata memandang ada rumput hijau yang dipadukan dengan bunga warna-warni yang sangat indah di taman ini. Setelah menikmati cokelat panas, Claire melangkahkan kaki menuju ke taman yang berada beberapa tingkat di bawah taman bunga. Taman ini dibuat lebih rendah karena ada beberapa area yang hanya boleh diakses oleh anggota keluarga kerajaan, tamu keluarga, dan pegawai istana yang bertugas. Claire menuruni 15 anak tangga menuju ke taman air. Kolam ikan besar menyambut tepat di tengah-tengah taman yang maha luas itu. Kolam ikan membentang di tengah-tengah taman, sebagai pemisah jalan sisi barat dan sisi timur. Ada beberapa air mancur di kolam ikan raksasa ini. Bagian barat taman terdapat kolam renang, area masuknya berupa delapan buah pilar tinggi yang terbuat dari batu putih, diantara pilarnya diletakkan patung bergaya romawi dari batu putih, tiga di sebelah kiri dan tiga di sebelah kanan sehingga menyisakan dua buah pilar di tengah sebagai jalan masuk menuju ke kolam renang. Bagian timur taman ini terdapat secret garden dengan danau buatan dan air terjun buatan yang cantik. Di bagian paling ujung dari istana ini terdapat helipad dan sebuah taman romantis yang pemandangannya langsung menuju ke lautan lepas tepat di belakang istana. Claire memasuki area kolam renang, dia seolah melampiaskan rasa rindunya dengan berenang, masa kecilnya banyak dihabiskan di tempat ini untuk berenang. Claire melepas kimono tidurnya hingga dia hanya menggunakan pakaian dalam warna hitam. Claire berenang selama kurang lebih 10 menit tanpa menyadari kehadiran seorang pria di pinggir kolam renang. Saat Claire hendak keluar dari kolam renang, betapa terkejutnya dia. “Selamat pagi, Putri Claire,” sapa seorang pria yang sudah tidak muda lagi dimata Claire. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Claire keluar dari kolam renang. “Lancang sekali kamu masuk ke sini!” Claire dengan sigap menepis tangan pria itu. Claire keluar dari kolam renang lalu dengan cepat menyambar kimono tidurnya yang dipegang oleh pria itu. “Maafkan saya Putri, tapi saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk bertemu dengan Anda.” Pria itu memandang lekuk tubuh Claire dengan tatapan mata yang penuh kekaguman. “PENJAGA!!!!!!!!! TOLOOONGGG!!!!!!!!” Claire berteriak dan segera memakai kimono tidurnya saat menyadari bahwa pria ini sedang menjelajahi tubuhnya dengan tatapan mata yang cukup liar. Teriakan Claire menggegerkan para penjaga yang sedang bertugas, para penjaga lari tunggang langgang mencari ke arah datangnya suara. “Putri! Anda tidak perlu berteriak!” kata pria itu berusaha menenangkan Claire. “Kamu penyusup kurang ajar!” Claire mendorong tubuh pria yang berusaha mendekatinya itu. Tak berapa lama beberapa orang penjaga bersenjata lengkap berhasil menemukan Claire. “Putri Claire! Anda tidak apa-apa?" “Usir penyusup ini pergi dari sini!!!” Claire berteriak dengan murka. “Baik, Putri Claire!” Tidak mau terkena masalah dengan Sang Putri, para penjaga akhirnya mengarahkan senjatanya kepada pria itu. Pria itu tampak terkejut dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Beberapa saat setelah pria itu berhasil dibawa pergi oleh penjaga, Claire tampak berjalan cepat memasuki kompleks istana. Claire naik lift khusus menuju ke lantai 3 kemudian setengah berlari dia menuju ke ruang kerja Henry yang ada di lantai 3 kompleks istana sebelah barat bagian depan. Claire yang masih memakai kimono tidur warna putih tipis menerawang karena basah, membuka pintu ruang kerja Henry tanpa mengetuk terlebih dahulu. “Papa aku akan...” Claire terkejut, berhenti bicara, dan membelalakkan matanya. “Claire? Ada apa, Sayang?” Henry juga terkejut dengan kedatangan Claire. “Kenapa dia ada di sini?!” Claire menunjuk tepat ke muka pria penyusup yang sedang berada di dalam ruang kerja papanya dan yang membuat Claire bertambah murka adalah dia tampak begitu akrab dengan papanya. “Claire!” Henry memperingatkan putrinya untuk bersikap sopan. “Dia memasuki taman istana saat aku sedang berenang, Papa!” Claire marah tidak terima dengan teguran Papanya. “Yang Mulia Raja Henry, saya sungguh menyesal dan meminta maaf atas kelancangan saya. Saya bersedia menerima hukuman.” “Ayolah, Marco! Kita sudah membahasnya, kalaupun ada hukuman itu bukan dari aku. Bersiaplah menerimanya dari Putriku!” jawab Henry tersenyum. “Oh, jadi kalian sudah saling kenal? Benarkah Papa?!” Claire menodongkan pertanyaan pada Henry. “Benar, Claire. Dia adalah tamu keluarga yang menginap di istana. Oleh sebab itu, penjaga tidak melarangnya saat dia berjalan-jalan di taman istana.” “Walaupun dia melihatku tanpa pakaian?!” “Putri Claire, Anda tahu itu tidak benar! Anda masih memakai pakaian,” jelas pria itu. “Pakaian dalam maksudmu?! Sungguh aku tidak bisa menerima ini, Papa!” “Claire, Papa tidak bisa menghukumnya dia tidak bersalah berjalan-jalan di taman istana. Bila kamu mau menghukumnya, Marco sendiri sudah mengatakan bahwa dia siap menerima hukuman.” “Baiklah! Suruh dia pergi dari istana ini sekarang, Papa!” “Claire?!” “Hukumanku sudah jelas, Papa!” Claire berteriak dengan lantang dan penuh amarah lalu keluar dari ruang kerja Henry, membanting pintu dengan sangat keras membuat Henry dan Marco sang tamu terkejut. Henry menarik napas panjang, “Maafkan Putriku, Marco! Claire memang punya sifat yang keras.” “Tidak apa-apa, Henry. Bila memang aku harus pergi sekarang, paling tidak kamu sudah tahu niatku untuk melamar Putrimu.” “Marco, sesungguhnya aku tidak berhak memberikan jawaban. Aku tidak mau menjodohkan Putriku, Claire. Tapi, kejadian hari ini mungkin akan membuatmu sangat sulit mewujudkan keinginanmu.” “Tidak apa-apa Henry. Maafkan aku tidak bisa menahan keinginanku untuk menemuinya saat aku melihatnya di taman.” “Biarkan aku bicara dengan istriku, Ratu Tyara, siapa tahu dia bisa membujuk Claire untuk menerimamu tetap tinggal di sini paling tidak sampai makan malam.” “Terima kasih, Henry. Aku sangat menghargainya.” Marco Victor de Louis adalah Raja Kerajaan Paris. Dia adalah raja yang belum beristri di usianya yang hampir kepala empat. Marco pertama kali melihat Claire, saat Claire melihat pameran lukisan di istananya. Claire yang berparas cantik, berkepribadian kuat, dan bertubuh seksi membuat Marco langsung jatuh hati dan tergila-gila pada Claire. Marco memerintahkan pengawal-pengawal kepercayaannya untuk mencari informasi tentang Claire yang saat itu sedang kuliah di salah satu universitas di Paris. Betapa terkejutnya Marco saat mengetahui bahwa Claire adalah putri dari Raja Henry, penguasa Querencia. Semenjak itu, Marco mulai menjalin kerja sama dengan Kerajaan Querencia demi mewujudkan niatnya untuk memiliki Claire. Baru setelah Marco mengetahui bahwa Claire telah berpisah dengan kekasihnya, Marco menyatakan niatnya itu kepada Henry. *** Claire kelihatan masih sangat kesal, dia mengurung diri di dalam kamarnya. Selintas teringat kembali kejadian pagi tadi di kolam renang istana saat Marco menjelajahi tubuhnya dengan mata yang penuh gairah. Dasar tua bangka! umpatnya. Tok..tok...tok... Terdengar pintu kamar Claire diketuk. “Claire? Mama boleh masuk?” tanya Tyara. “Masuk, Mama!” “Claire, apakah kamu tidak ingin makan siang bersama Mama dan Papa?” “Aku kurang enak badan, Ma. Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makan siang di kamar.” “Claire? Apakah kamu marah pada Papa?” selidik Tyara. “Tentu tidak, Mama! Papa pasti sudah cerita, ya?” Tyara mengangguk, “Iya, Sayang.” “Aku kesal pada pria tua bangka yang bernama Marco itu!” Tyara menahan tawa, “Claire...istilah apa yang kamu ucapkan itu. Bukankah itu tidak sopan, Sayang?” “Dia lebih tidak sopan, Ma! Dia melihat tubuhku yang hanya memakai bra dan underwear dengan tatapan mata yang sangat liar! Bukankah itu memang sifat tua bangka?!” Claire berkata dengan penuh amarah. “Claire, bersikap sopanlah! Dia bukan tua bangka. Dia Raja Kerajaan Paris, teman Papa. Dia belum tua Claire. Bahkan, dia belum berusia 40 tahun. Dia dewasa, matang, dan berwibawa bukan tua bangka.” “Kenapa Mama dan Papa seperti membelanya?!” Claire cemberut. “Dia akan makan malam bersama kita, Claire. Bersikaplah yang sopan sekali ini saja, Sayang. Mama mohon!” “Apa?! Tapi Ma, aku sudah mengusirnya keluar dari istana.” “Kamu tidak akan melakukannya, Sayang. Dia donatur terbesar panti asuhan Querencia selama setahun tarakhir ini.” “Lalu? Kenapa kalau dia donatur terbesar, Ma!” “Mama hanya minta kamu bersikap sopan, Claire.” “Mama dia... Ah sudahlah Mama pasti akan membelanya!” “Bukan begitu Claire! Coba katakan pada Mama apa kesalahan Marco?” “Dia masuk ke taman istana, Ma!” “Dia tamu keluarga, Claire, bukan wisatawan. Ingat, tamu keluarga bisa mengakses semua bagian di istana kecuali apartemen tempat tinggal keluarga kita dan ruang kerja. Para tamu tidak akan bisa masuk apartemen dan ruang kerja, bukan? Ada penjagaan serta sistem keamanan di pintu apartemen dan ruang kerja.” Claire terdiam, “Baiklah, aku akan berusaha bersikap sopan.” *** “Bagaimana, Sayang?” tanya Henry pada Tyara. “Sudah bisa diatasi. Claire akan bersikap sopan saat makan malam.” “Dia memperbolehkan Marco makan malam bersama kita?” “Iya, Henry.” “Tapi sepertinya dia akan sangat marah bila tahu Marco berniat melamarnya.” “Apa?!” Tyara terbelalak. “Iya, Marco mengatakan padaku pagi ini di ruang kerjaku.” “Henry, untuk masalah ini aku tidak bisa menjamin reaksi Claire akan baik-baik saja! Aku yakin dia akan sangat marah dan malu. Dia tidak menyukai Marco!” “Lalu bagaimana?” “Jangan biarkan Marco mengumumkan saat makan malam dengan keluarga besar. Malam ini kita akan makan malam berempat saja. Kita batalkan makan malam dengan keluarga besar!" “Aku sungguh tidak tahu apa maksud Marco sampai dia memberi tahuku pagi ini, Tyara. Sebenarnya, malam ini sebagai penghormatan untuknya memang aku rencanakan makan malam dengan keluarga besar, tapi kalau kejadiannya seperti ini sebaiknya aku mengikuti saranmu saja.” “Iya, Henry. Claire bisa marah besar dan mempermalukan Marco di depan keluarga kita. Sebaiknya kita mencegah hal itu.” --- Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN