Claire sedang memberi sentuhan akhir pada riasannya, dia tampak begitu cantik walaupun hanya dibalut dengan dress warna hitam lengan panjang model pencil dress selutut. Malam ini Claire tidak ingin tampil mencolok dan tidak ingin tampil sempurna di mata Marco. Namun, tetap saja kecantikan alami Sang Putri terpancar dengan sendirinya.
Tok...tok...tok...
“Masuk!"
“Selamat malam Putri Claire. Anda sudah ditunggu di ruang makan,” lapor Whitney pengawal pribadi Claire, seorang pengawal perempuan yang selama ini bertugas mengawal Claire selama di Paris.
“Baiklah Whitney, aku akan segera ke ruang makan.”
Claire melangkahkan kakinya dengan malas, dia benar-benar tak ingin bertemu dengan Marco malam ini. Claire naik lift menuju ruang makan di apartemen lantai empat. Biasanya Raja dan Ratu akan mengadakan jamuan makan untuk tamu yang sudah dianggap cukup akrab di dalam apartemennya di lantai empat ini. Pelayan membukakan pintu ruang makan untuk Claire. Claire mengedarkan pandangan, ruang makan sudah disetting dengan empat kursi saja dan tinggal satu tempat duduk yang tersisa yaitu di samping Marco.
“Selamat malam,” sapa Claire dingin.
Marco dengan sigap menarik kursi untuk Claire, Claire memandang Marco dengan tatapan yang tidak bersahabat karena Claire merasa diperlakukan secara berlebihan oleh Marco.
“Selamat malam, Claire!” jawab Henry dan Tyara kompak.
“Selamat malam, Putri Claire.” Marco memberikan senyum menawannya untuk Claire namun Claire tidak menghiraukan Marco sama sekali.
Ratu Tyara memberi kode pada para pelayan untuk segera menyiapkan makan malam. Para pelayan menghidangkan hidangan pembuka di atas meja. Lalu Henry mulai berbincang ringan dengan Marco.
“Marco kamu harus menikmati semua hidangan khas Querencia ini!”
“Terima kasih, Henry!” Marco tersenyum senang melihat hidangan pembuka yang tersaji di depannya.
“Selamat menikmati, Marco!” Tyara mempersilakan tamunya untuk menyantap hidangan.
“Terima kasih, Ratu Tyara. Terima kasih juga Putri Claire karena mengizinkan saya untuk makan malam di istana.” Marco menatap Claire dengan tatapan mata yang teduh.
“Tidak perlu berterima kasih,” jawab Claire ketus tanpa melihat Marco. Marco tersenyum simpul.
Mereka berempat menikmati makan malam dengan tenang, hanya ada pembicaraan antara Henry, Tyara, dan Marco sedangkan Claire hanya menjadi pendengar saja, dia tidak mau terlibat dalam pembicaraan itu. Setelah makan malam selesai mereka berkumpul di ruang keluarga.
“Claire seperti yang Papa katakan padamu, Papa akan memperkenalkan kamu pada seseorang dan seseorang itu adalah Marco. Tapi sepertinya kalian berdua sudah saling mengenal,” jelas Henry.
“Sebenarnya aku tidak mengenal Tuan Marco ini, Papa. Kami hanya bertemu sekilas di taman. Kami tidak saling kenal!” jawab Claire.
“Maafkan saya, Putri Claire. Saya memang meminta izin pada Raja Henry untuk berkenalan dengan Anda.”
“Saya rasa tidak perlu! Kita tidak ada kepentingan apa-apa!”
“Raja Henry, saya rasa saya akan menyampaikan sekarang di hadapan Anda, Ratu Tyara, dan Putri Claire. Maksud saya yang sebenarnya, selain berkenalan adalah melamar Putri Claire untuk menjadi istri saya,” jelas Marco.
“Apa??!!!” Claire berteriak.
“Marco, aku dan Ratu Tyara menghargai maksud kedatanganmu ke Querencia. Namun, semua keputusan ada di tangan putriku,” jawab Henry.
“Baiklah. Bagaimana Putri Claire?” Marco menatap mata Claire dengan serius.
“Apa Anda sudah gila, Tuan Marco? Saya bahkan tidak mengenal Anda!!” gigi Claire gemeretak menahan amarah.
“Kita bisa saling mengenal terlebih dulu.” Marco tidak menyerah.
“TIDAK!!” jawab Claire sambil berteriak.
“Marco, saya rasa jawaban Putri saya sudah jelas.” Tyara menengahi mereka berdua.
“Ratu Tyara, kalau memang Putri Claire tidak mau, paling tidak saya meminta alasan yang kuat dari Putri Claire dan saya akan mundur.”
“Saya sudah punya calon suami, Tuan Marco!” jawab Claire cepat.
“Claire benarkah itu?” tanya Henry.
“Benar, Papa!”
“Baiklah bila memang benar Anda sudah punya calon suami, Anda katakan namanya sekarang dan saya akan meninggalkan istana ini, Putri.”
“Jack, iya Jack! Namanya Jack!”
“Jack?? Tapi Claire...” Tyara terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Jack Dawnson? Pengawalmu?!” Henry tampak kecewa.
“Iy..iya, Papa! Aku akan menikah dengannya! Aku mencintainya!” jawab Claire tak peduli walaupun melihat kekecewaan dimata Papanya. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya membuat pria yang bernama Marco itu menyerah dan pergi menjauh.
“Claire!” Henry memperingatkan Claire.
“Baiklah Henry sepertinya saya sudah mendapat jawaban dari Putri Claire. Sepertinya Anda akan mendapatkan calon menantu yang sangat baik, Henry. Kabari saya saat Anda akan menggelar pernikahan putri Anda. Putri Claire, bila Anda berubah pikiran, saya akan selalu ada buat Anda,” jawab Marco tersenyum.
“Tidak perlu! Aku akan segera menikah! Terima kasih!” jawab Claire ketus.
“Baiklah, sepertinya saya harus segera meninggalkan istana ini. Henry, saya pamit!” Marco memeluk Henry kemudian menepuk pundaknya, “Ratu Tyara.” Marco mengulurkan tangannya, Tyara menyambut tangan Marco lalu dengan sopan Marco mencium punggung tangan Tyara.
“Sampai ketemu lagi, Marco!” ucap Tyara.
“Pasti, pasti kita akan bertemu lagi, Ratu! Putri Claire,” Marco mengulurkan tangannya seperti yang dia lakukan pada Tyara, namun Claire membuang muka. Marco tersenyum tipis.
“Pengawalku akan mengantarmu, Marco!”
“Terima kasih, Henry!”
Selepas kepergian Marco, ruang keluarga itu menjadi hening. Henry memandangi Claire, mencari kebohongan di mata putrinya. Tyara tampak cemas karena takut Henry akan memarahi putrinya. Claire tampak jengah dengan situasi ini.
“Papa, bicaralah! Marahlah! Jangan hanya diam seperti itu!” pinta Claire.
“Claire, kenapa harus Jack?!” tanya Tyara.
“Ada apa dengan Jack?” Claire balik bertanya.
“Bukan begitu maksud Mama, Claire! Bukankah kalian jarang bertemu? Apakah benar hubunganmu dengan Jack seserius itu? Atau itu hanya untuk menghindari Marco?”
“Maafkan Claire, Ma! Dulu memang Claire berpacaran dengan Jack, tapi sekarang sudah tidak lagi.”
“Claire! Kenapa kamu harus berbohong pada Marco?” tanya Tyara.
“Alasan kuat apalagi yang akan membuat dia mundur selain tahu kalau aku sudah punya calon suami, Ma?!”
“Claire, alasanmu sungguh keterlaluan! Marco akan tahu kalau kamu berbohong!” jelas Henry.
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau menikah dengan pria tua itu, Papa!”
“Tapi bukan dengan cara berbohong dan membawa-bawa nama Jack!” jawab Henry, “sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu ucapkan itu!”
“Maksud Papa apa?!” tanya Claire ketakutan.
“Segera menikah dengan Jack!” tegas Henry.
“APA?!!!”
“Perintah Papa sudah jelas!”
“Aku tidak mau, Pa!!”
“Kalau begitu terimalah Marco!”
“Papa! Kenapa harus seperti itu?! Aku tidak mau menikah dengan salah satu dari mereka!”
“Claire! Kamu Putriku dan aku tidak mengajarimu berbohong dengan cara-cara yang akan mempermalukan orang tuamu! Jack atau Marco?” tantang Henry.
“Beri aku waktu, Pa. Aku akan memikirkannya.”
***
Claire membanting semua barang-barang yang ada di meja riasnya. Dia sangat marah dengan keadaannya sekarang ini. Dia harus mempertanggung jawabkan ucapannya sendiri untuk menikah dengan Jack, yang sudah pasti masih sangat mencintainya. Ataukah Claire memilih untuk menerima Marco? Mengingat Jack berselingkuh dengan Alya. Claire memejamkan mata sejenak lalu pergi keluar kamar, dia berjalan-jalan di taman belakang istana. Udara di taman sangat dingin, Claire menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tidak mungkin dia kembali pada Jack, mengingat kejadian menjijikkan yang telah dilakukan Jack di belakang Claire. Tapi haruskah dia menerima Marco?
Taman tidak bisa membantu menyelesaikan masalah, akhirnya Claire menuju ke apartemen Anne.
“Oma? Sudah mau tidur?” tanya Claire setibanya di apartemen Anne. Claire memang akhir-akhir ini dekat dengan Anne ketimbang dengan Alana, karena Alana selalu membela Alya walaupun Claire sudah memberi tahu Alana bahwa Alya menggoda Jack.
“Belum. Ada apa Claire? Apakah kamu sudah bertemu pria itu?”
“Sudah, Oma! Dia Marco Victor de Louis!”
“Maksudmu, Marco King of Paris?”
“Iya, Oma! Ternyata dia meminta izin pada Papa untuk melamarku!”
“Apa?” walaupun Anne tidak percaya namun dia tersenyum gembira.
“Iya! Melamarku, Oma! Sangat menyebalkan!"
“Lalu, apa kamu menerimanya?”
“Tentu saja tidak, Oma!”
"Kenapa tidak?”
“Dari nada bicara Oma sepertinya Oma menginginkanku menerimanya!”
“Bukan begitu maksud Oma Claire. Hanya saja Marco pria yang baik dan bertanggung jawab, tidak seperti Jack!” sindir Anne.
“Jack? Ya..ya..Jack! Dan aku mengatakan pada Marco kalau aku mencintai Jack dan akan menikah dengannya!”
“Claire...Oma tahu kamu memang mencintai Jack!”
“Hah? Benarkah?? Tapi kami berdua merahasiakan hubungan kami selama ini, Oma! Bagaimana Oma bisa tahu??”
“Kamu tidak akan bisa membohongi nenek tua seperti Oma, Claire!”
Claire tertawa, “Tapi itu sudah berakhir, Oma! Sekarang Papa marah dan menyuruhku memilih, menikah dengan Jack atau menerima lamaran Marco!”
“Lalu, kenapa kamu tidak menerima Marco saja?”
“Oma! Tidakkah Oma lihat dia terlalu tua!”
“Dia tidak tua, Claire. Dia hanya sudah matang dengan usianya yang sekarang. Lagi pula dia tampan!” goda Anne.
“Oma, ayolah..aku masih 21 tahun dan harus menikah dengan pria yang 17 tahun lebih tua dariku? Saat aku masih dalam kandungan, dia sudah berusia 17 tahun! Astaga Oma!!” Claire menutup wajahnya dengan putus asa.
Anne tertawa terbahak-bahak melihat ulah cucu kesayangannya, “Claire sudahlah, kembalilah ke kamarmu dan renungkanlah, siapa yang akan kamu pilih! Oya, besok kita ada acara makan siang dengan anak-anak panti asuhan, jangan lupa!”
“Baiklah, Oma. Aku akan kembali ke kamar dan aku tidak akan lupa acara makan siang besok.” Claire memeluk Anne dan mencium pipi oma kesayangannya itu.
***
Claire merenung di dalam kamarnya dia tidak mungkin kembali pada Jack, dia terlalu berharga untuk kembali pada Jack. Claire seketika terbayang Marco, dia sudah pasti tampan pada jamannya karena ketampanan dan daya tariknya masih tetap ada hingga sekarang. Penampilannya selalu menarik perhatian layaknya seorang don juan. Badan tinggi, seksi, dan atletis. Rambut hitam abu-abu yang cepak membuatnya selalu terlihat rapi, alis tebal, hidung mancung, tatapan mata cokelatnya sangat menggoda, rahang yang sangat tegas dengan belahan dagu yang samar-samar membuatnya lebih sempurna ditambah lagi senyum tipisnya yang sangat menawan. Yang terakhir, dia adalah King of Paris, wanita manapun tidak akan keberatan bersamanya, kecuali Claire. Akhirnya, Claire mengakui bahwa Marco memang tampan namun tidak untuk dijadikan pacar apalagi suami, jarak usia yang mencapai 17 tahun itu sangat meresahkan Claire.
---
Tbc