4. Pertemuan Kedua

1835 Kata
Putri Claire sudah berada di dalam mobil bersama Anne, Sang Oma. Mereka dikawal oleh Whitney dan beberapa pengawal yang diutus khusus oleh Henry untuk mengikuti mereka ke panti asuhan. Hari ini kedua wanita berbeda usia itu akan mengadakan makan siang bersama anak-anak panti asuhan di Querencia. Ada beberapa panti asuhan di Querencia, salah satunya adalah panti asuhan yang terletak di pusat kota. Panti asuhan ini dikelola oleh para biarawati. Keluarga kerajaan selalu mengagendakan makan siang bersama anak-anak panti ini sebulan sekali. Kali ini adalah giliran Claire dan Anne. Kegiatan keluarga kerajaan di panti asuhan tidak pernah diliput media karena prinsip kerajaan, berbuat amal bukan untuk konsumsi publik. Kedatangan Claire dan Anne disambut hangat oleh Suster Agatha kepala panti asuhan. “Selamat datang Putri Claire dan Ibu Suri Anne!” Suster Agatha memberi salam pada Claire dan Anne. “Apa kabar, Suster Agatha?” sapa Anne dengan sopan. “Kabar kami semua di panti ini baik, Ibu Suri,” jawab Suster Agatha. “Syukurlah! Bahan makanan langsung dibawa pengawal ke dapur panti, Suster!” jelas Anne. “Terima kasih, Ibu Suri! Mari kita langsung ke aula, acara akan segera di mulai. Oya, Ibu Suri dan Putri Claire, hari ini kami juga kedatangan tamu salah satu kerabat kerajaan.” “Oya? Siapa Suster?” tanya Claire. “Raja Marco, beliau pernah berkunjung kemari bersama Raja Henry dan Ratu Tyara,” jelas Suster Agatha. Seketika raut wajah Claire berubah pucat, Anne bisa melihat perubahan pada diri Claire. Walaupun kesal, Claire harus menutupinya karena Claire tidak mau kekesalannya pada Marco diketahui oleh pengurus dan penghuni panti asuhan. “Oya? Apakah Marco sudah datang?” tanya Anne. “Sudah, Ibu Suri. Yang Mulia Marco sudah bersama dengan anak-anak di aula. Mari kita ke sana!” “Mari, Suster Agatha!” Anne tampak begitu bersemangat bertemu dengan Marco. Setibanya mereka di aula panti asuhan, Claire melihat Marco sedang dikerumuni anak-anak. Marco belum melihat kedatangannya, Claire juga meminta Suster Agatha untuk tidak mengganggu kebersamaan Marco dengan anak-anak. Marco tampak sangat dekat dengan mereka bahkan Marco melepas jas yang dipakainya dan menggulung lengan kemejanya supaya bisa lebih leluasa bermain dengan anak-anak. Sepertinya Marco membawakan anak-anak panti ini mainan-mainan baru. “Putri Claire! Itu Putri Claire!” teriak salah seorang anak yang melihat kedatangan Claire. Spontan anak-anak yang tadinya mengerumuni Marco berpindah mengerumuni Claire. Marco sontak menoleh ke arah datangnya magnet pemikat anak-anak panti itu, Marco memandang Claire dengan tatapan penuh kekaguman lalu tersenyum. Hari ini Claire memakai baju casual, blouse katun warna putih polos dipadu dengan navy skinny jeans dan cork wedges warna navy senada dengan jeansnya. Marco berjalan menuju Claire dan Ibu Suri Anne. Marco mengulurkan tangannya pada Anne, “Selamat siang, Ibu Suri,” Marco mencium punggung tangan Anne dan membuat Anne meleleh dengan keramahan Marco. "Selamat siang, Marco!" jawab Anne. Marco kali ini mengulurkan tangannya pada Claire, “Selamat siang, Putri Claire.” Claire terpaksa menyambut uluran tangan Marco, “Selamat siang.” Saat Marco akan mencium tangan Claire, dengan sigap Claire menarik tangannya, Marco tesenyum melihat tingkah Claire. Marco, Anne, dan Claire ditemani para pengurus panti menikmati rangkaian acara yang disiapkan oleh anak-anak. Anak-anak membuat pertunjukan singkat berupa paduan suara yang sangat indah dan membuat para tamu terharu. Acara selanjutnya adalah makan siang bersama anak-anak panti asuhan. Selama kebersamaan itu Marco tak henti-hentinya memandang Claire dengan tatapan penuh kekaguman. Acara terakhir adalah acara foto bersama, Marco dan Claire didaulat oleh anak-anak panti untuk duduk berdampingan saat difoto lalu anak-anak berjajar di belakang mereka berdua. Claire kali ini terpaksa memberikan senyuman yang paling manis. Setalah acara foto bersama dengan anak-anak panti asuhan tibalah saatnya Claire, Anne, dan Marco berpamitan pada anak-anak panti. Tiba-tiba seorang anak perempuan yang cantik dan imut menarik-narik baju Claire. Claire menoleh, “Ada apa, cantik?” “Namaku Melody,” jawabnya. “Melody, namamu bagus sekali!” Claire berlutut di lantai supaya dia dan Melody sama tinggi. “Terima kasih, Putri Claire! Putri, aku ingin menjadi seperti Anda!” jelasnya. Claire terperanjat, “Seperti aku?” “Iya, Anda cantik...sangat cantik semua yang ada di sini memandang Anda. Saya ingin jadi Putri kerajaan supaya semua orang bisa memandang saya,” jawab Melody sambil menunduk. Claire mengangkat dagu Melody, “Dengar Melody, kamu tidak perlu jadi Putri Claire supaya bisa dilihat orang, kamu adalah Melody yang cantik, pintar, dan pemberani. Lihatlah, aku sendang memandangimu!” Claire menghibur Melody. Melody menarik tangan Claire lalu tangan mungilnya yang satu lagi menarik tangan Marco, “Berjanjilah Putri Claire dan Raja Marco, bahwa kalian akan sering datang kemari! Bukan sendiri-sendiri tapi berdua! Aku ingin punya mama dan papa seperti kalian...” Marco dan Claire berpandangan, “Putri Claire, apakah Anda mau berjanji akan sering datang kemari bersamaku?” Marco menatap mata Claire dengan kesungguhan. “Ehm, aku..aku berjanji Melody, aku akan sering datang kemari bersama Raja Marco,” jawab Claire sambil memandang Melody untuk menghindari tatapan mata Marco. “Terima kasih, Putri Claire! Terima kasih, Raja Marco!” Melody memeluk mereka berdua membuat Marco dan Claire hanya berjarak beberapa centi saja. Anak-anak panti asuhan mengantar mereka sampai di halaman depan panti. Kesempatan ini dimanfaatkan Marco untuk mendekati Claire. “Putri Claire, tunggu sebentar,” Marco menarik lengan Claire sesaat sebelum masuk ke dalam mobil. Claire memandang lengannya yang dipegang oleh Marco dan Claire merasa keberatan, namun di depan anak-anak panti, Claire tidak mau menunjukkan sikap kasarnya pada Marco. “Ada apa!” Claire membuang muka. “Saya ingin bicara berdua dengan Anda, sebentar saja.” “Apa?! Aku tidak mau bicara denganmu di sini! Aku tidak mau anak-anak melihat kita bicara berdua di sini!” “Baiklah, Anda punya ide di mana kita bisa bicara berdua, Putri?” Claire tampak kesal, “Kita bicara di istana!” “Baik, Putri Claire.” Marco tersenyum senang karena dia berhasil membuat Claire untuk bicara berdua dengannya. Claire masuk ke dalam mobil, sebelum mobil meninggalkan halaman panti asuhan Claire membuka kaca jendela mobil untuk melambaikan tangannya pada anak-anak panti. Claire melihat Melody berteriak ke arahnya. “Berjanjilah datang lagi bersama Raja Marco, Putri!” Claire berteriak, “Aku berjanji, Melody!” Rombongan mobil Claire dan Marco menuju ke arah istana Querencia. Di dalam mobil, Claire tampak kesal. Anne tersenyum melihat Claire yang cemberut dan diam saja di sepanjang perjalanan menuju istana. “Ada apa, Claire?” “Tidak ada apa-apa, Oma!” “Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?” “Lihatlah, Oma! Itu rombongan mobil Marco mengikuti kita ke istana!” “Bukankah kamu yang memintanya ke istana?” “Dia pandai sekali memanfaatkan situasi, Oma! Dia memintaku bicara berdua di panti!” “Lalu kenapa kamu tidak bicara saja di panti?” “Aku tidak mau anak-anak melihat aku dan Marco bertengkar, karena aku pasti akan marah tiap kali berbicara dengan Marco, Oma!” “Aku rasa kalian berdua cocok, kamu sudah mengambil keputusan? Jack atau Marco?” “Tidak keduanya, Oma! Aku pasti akan mendapatkan pasangan hidup yang sempurna! Tapi bukan mereka berdua!” jawab Claire. “Jangan terlalu yakin, Claire! Oh Claire, dari mana sifat keras kepalamu itu menurun? Mama dan Papamu keduanya adalah anak-anak yang sangat penurut, begitu juga kakak-kakakmu!” “Mungkin sifatku menurun dari Oma!” jawab Claire sambil tersenyum. Anne geleng-geleng kepala, “Tentu tidak, Sayang! Mungkin ini keturunan dari Alana?” Anne tertawa disambut tawa dari Claire. “Bisa jadi, Oma! Dia kan juga omaku!” *** Rombongan mobil berhenti di depan istana, Claire berjalan dengan cepat masuk melalui pintu barat sedangkan Anne yang berjalan jauh di belakang Claire ditemani Marco dan Whitney. “Whitney suruhlah pelayanku menjemput di bawah, aku akan menunggu di ruang tunggu dekat lift. Beri tahu Claire, Marco aku minta untuk menemaniku sampai pelayanku datang.” “Baik, Ibu Suri!” Whitney segera menelpon ruang pelayan dan memberi tahu Claire seperti yang diperintahkan Anne. “Marco, ayo temani aku di ruang tunggu!" “Baik, Ibu Suri. Mari saya antarkan.” “Terima kasih, Marco.” Ibu Suri Anne dan Marco duduk di ruang tunggu yang sangat nyaman, ruangan ini didominasi warna kuning emas. Ibu Suri mengajak Marco untuk membicarakan hal penting tentang Claire. “Marco, apakah benar kamu mencintai Claire dengan tulus? Bukan karena dia Putri dari Raja Querencia?” tanya Anne dengan serius. “Saya mencintai Putri Claire dengan tulus, Ibu Suri. Bahkan sejak saya belum mengetahui asal-usul Putri Claire saya sudah langsung mencintainya.” “Marco, dia baru saja dikecewakan oleh seorang pria yang dulu adalah pengawal pribadinya,” jelas Anne. “Saya sudah mengetahuinya, Ibu Suri. Saya juga tahu bahwa hubungan mereka sudah berakhir, saya tahu Putri Claire membohongi saya tentang rencana pernikahannya.” “Ya, kadang Claire lebih memakai emosinya dari pada akal sehat. Maafkan cucuku, Marco.” “Tidak apa-apa, Ibu Suri. Saya akan berusaha meyakinkan Putri Claire untuk menerima lamaran saya.” “Aku yakin kamu bisa, Marco! Kamu harus bersabar dengan sifatnya yang pemarah itu. Satu lagi Marco, dia bilang padaku tentang rasa tidak nyaman karena perbedaan usia yang cukup jauh diantara kalian berdua. Kamu harus bisa meyakinkan Claire, usia yang terpaut jauh itu bukanlah masalah yang perlu dibesar-besarkan!” “Terima kasih atas nasihat Anda, Ibu Suri. Saya akan meyakinkan Putri Claire untuk menerima saya.” “Aku doakan semoga kamu berhasil, Marco. Sudah saatnya kamu menemui dia, pelayanku juga sudah datang, aku akan istirahat di apartemenku.” “Senang berbicara dengan Anda, Ibu Suri. Saya mohon pamit.” *** Marco berjalan dengan gagah dan sangat percaya diri saat memasuki kompleks kolam renang istana. Putri Claire tampak sedang menunggu Marco di salah satu gazebo yang berada di pinggir kolam renang istana. “Putri Claire,” sapa Marco dengan lembut. “Silakan duduk!” jawab Claire ketus. “Maaf, bila Anda tidak menyukai pertemuan ini, Putri.” “Aku pikir kamu sudah kembali ke Paris!” “Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di Querencia, Putri. Walaupun Anda mengusir saya dari istana bukan berarti saya tidak boleh tinggal di Querencia, kan?” “Katakan saja apa maksudmu meminta bertemu denganku!” “Saya sudah menemui Jack dan dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun apalagi berencana menikah,” jelas Marco dengan tenang. “Kamu?! Lancang sekali kamu menemui Jack!” “Saya hanya ingin memastikan apakah benar yang Anda katakan kemarin malam, Putri!” Marco menatap tajam mata Claire. Claire memalingkan muka, dia tidak ingin Marco mengetahui ada kebohongan dimatanya walaupun Claire sadar bahwa Marco sudah tahu kalau dia berbohong. “Jadi, apakah Anda bersedia menerima lamaran saya, Putri Claire?” “TIDAK!” “Baiklah, saya akan mengatakan langsung pada Raja Henry bahwa Anda telah memutuskan memilih Jack daripada saya!” Marco bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari kompleks kolam renang. Setelah beberapa saat Claire terdiam dalam alam tak sadar, akhirnya dia berdiri dan berlari mengejar Marco. Dia tidak ingin Marco menyampaikan pada Henry bahwa dia akan menikah dengan Jack, Claire tidak akan sudi kembali pada Jack, laki-laki yang sudah dipakai oleh Alya, bibinya. “MARCO!!!” Claire berteriak memanggil Marco. ‘Sialan kamu Marco!’ umpat Claire dalam hati. --- Tbc  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN