Claire mengejar Marco yang sudah sampai di pintu masuk istana bagian belakang. Saat Marco sampai di lift khusus untuk tamu dan kerabat kerajaan, Marco lapor pada penjaga bahwa dia akan menemui Raja Henry. Tiba-tiba Claire menarik tangan Marco saat akan masuk lift, Marco terkejut namun dengan cepat Marco yang kuat dan gagah itu menarik tubuh Claire masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup. Marco menarik tubuh Claire ke dalam pelukannya, Claire berusaha keras untuk melepaskan diri.
“LEPAS MARCO!”
“Anda sangat cantik kalau sedang marah, Putri! Sayang sekali kalau saya lepaskan.” Marco membelai wajah Claire dengan lembut.
“Jangan bermimpi bisa mendapatkan cintaku!” Claire menepis tangan Marco sesaat sebelum pintu lift terbuka.
Marco tersenyum lalu menarik tangan Claire menuju ke ruang kerja Henry. Claire memejamkan mata, ada desiran aneh yang mengganggu perasaannya saat Marco menyentuh wajahnya tapi segera dibuangnya perasaan itu. Tidak mungkin Claire takluk dengan perlakuan manis Sang Raja.
Tok...tok...tok... Marco mengetuk pintu ruang kerja Henry.
“Masuk!” seru Henry.
Marco membuka pintu dan menarik tangan Claire untuk ikut masuk, “Selamat siang, Henry!” Marco menyapa Henry.
“Marco? Claire? Ada apa?” tanya Henry bingung, “ayo silakan duduk!”
“Maaf kami mengganggu waktumu Henry! Begini Henry, kami berdua menemuimu karena Putrimu sudah memutuskan pilihannya dan dia akan mengatakannya sendiri padamu sekarang,” kata Marco dengan serius sambil memandang Claire.
Claire POV
Dasar Marco sialan! Berani-beraninya dia mengaturku! Laki-laki ini memang kurang ajar, tapi kenapa aku menuruti saja apa yang menjadi maunya?! Sekarang dia memintaku mengatakan pilihanku di depan Papa! Dan lihatlah, dia berhasil membuatku hanya berdiri diam di sini mengikuti skenarionya!
“Claire?” Henry memanggil Claire yang sedang melamun.
“Eh, ehmm, iya..Papa.. Aku sudah memutuskan,” jawab Claire.
“Baiklah, apa keputusannya?” tanya Henry.
Claire melirik Marco, Marco tampak tenang saat memandang Claire. Bukannya Marco yang tampak gelisah menunggu jawaban dari Claire tapi malah Henry lah yang gelisah, “Aku menerima lamaran Marco, Papa!”
Marco tersenyum puas karena skenarionya berhasil dan Henry pun menghela napas dengan lega. Henry memang lebih senang bila Claire memilih Marco daripada Jack. Henry tidak akan melepaskan anak gadis kesayangannya pada laki-laki yang tidak direstuinya. Di mata Henry, Marco adalah laki-laki yang sangat cocok untuk putrinya. Marco matang, mapan, dan bertanggung jawab.
“Baiklah, Marco! Putriku sudah membuat keputusan!”
“Terima kasih, Henry!”
“Papa! Tapi semua hal tentang hubunganku dengan Marco akan aku bicarakan berdua dengan Marco! Kami yang membuat keputusan!” potong Claire sebelum Marco banyak bicara.
Marco berbisik di telinga Claire, “Maksudmu, kamu yang memutuskan. Bukan begitu, Putri?”
“Tentu saja Claire! Kalian yang akan memutuskannya. Marco besok datanglah ke istana, aku akan mengadakan makan malam dengan seluruh keluargaku mengumumkan hubungan kalian berdua,” jelas Henry.
“Baik, Henry. Aku sangat menghargainya, aku pasti akan datang.”
***
Claire dan Marco berjalan keluar dari ruang kerja Henry. Claire berjalan cepat namun Marco berhasil menarik lengan Claire.
“Ada apa?!” tanya Claire galak.
“Maukah kamu makan malam denganku hari ini, Claire?”
“Tidak!” jawab Claire cepat.
“Bukankah kita harus saling mengenal? Besok keluargamu akan mengundangku makan malam dan mengumumkan hubungan kita, tapi kita belum saling mengenal lebih dalam.”
Claire memicingkan matanya, “Apa maksudmu mengenal lebih dalam?”
“Oh tidak, bukan maksud yang macam-macam, Claire! Mereka pasti akan bertanya apa kita sudah saling mengenal?”
“Akan aku jawab apa adanya, kita memang belum saling mengenal! Apa kamu keberatan, King Marco?!” jawab Claire setengah mengejek Marco.
“Oh, tidak tidak aku tidak keberatan! Sama sekali tidak!” jawab Marco dengan sabar.
“Ada beberapa perjanjian yang harus kita tanda tangani sebelum kita menjalin hubungan! Silakan datang besok siang ke istana menemuiku!” jelas Claire.
“Baiklah Claire..” Marco tersenyum melihat betapa keras kepalanya wanita yang dicintainya itu.
“Selamat siang! King Marco!”
“Selamat siang, Calon Ratu!”
Claire geram dan meninggalkan Marco yang masih berdiri di depan pintu ruang kerja Henry. Marco tersenyum melihat Claire.
***
drrrrttt..drrrrtttt..
Claire yang sedang termenung di dalam kamar menoleh ke arah ponselnya. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Claire membuka pesan tertulis itu, ‘Simpanlah nomorku, kamu pasti akan memerlukanku. Marco.’ Claire melempar ponselnya ke atas kasur, lalu mengacak rambutnya. Claire mengambil macbooknya lalu jari-jari lentiknya sibuk mengetik.
Tok..tok..tok...
“Claire ini Mama, boleh Mama masuk?” tanya Tyara dibalik pintu kamar Claire.
“Masuk Mama!”
Tyara masuk dan duduk di samping Claire yang sedang asyik mengetik, “Mama sudah dengar dari Papa, Sayang. Benarkah kamu sudah menerima lamaran Marco?”
“Benar, Mama!” jawab Claire sambil masih terus asyik memandang layar macbooknya.
“Claire, apakah kamu masih mencintai Jack? Mama tahu Jack memang tampan,” goda Tyara.
“Mama...dengar Ma, aku memilih Marco karena Jack tidak sebaik yang kupikir,” jelas Claire.
“Benarkah? Mama hanya tidak mau kamu salah memilih.”
“Aku sudah menentukan pilihanku, Ma!”
“Baiklah, Claire. Mama hanya mau memastikan kamu bahagia dengan siapapun yang kamu pilih.”
“Claire pasti bahagia, Ma!”
“Tapi, Claire...kamu bahkan belum mengenal Marco,” tampak kecemasan pada diri Tyara.
“Mama, aku tidak akan langsung menikah. Aku dan Marco akan saling mengenal terlebih dulu,” jawab Claire sambil memeluk Mamanya.
“Baiklah, Claire. Mama percaya padamu!”
“Terima kasih, Ma! Ma, apakah menurut Mama Marco laki-laki yang baik?” tanya Claire sambil mencari jawaban di mata Mamanya.
“Selama Mama mengenal Marco, dia laki-laki yang baik Claire. Dia adalah putra dari Raja Louis XVIII, Mama pertama kali bertemu saat Mama dan Papa melakukan kunjungan tugas ke Paris, saat itu Marco berumur 8 tahun. Kamu harus mengobrol dengan Marco, dia teman bicara yang sangat baik, Claire!” jelas Tyara pada putrinya.
“Tapi, yang aku tahu dia sangat menyebalkan, Ma!”
“Dia sangat sopan, sangat manis, dan pandai menarik hati siapapun Claire. Mama dengar banyak wanita dari kaum bangsawan sampai artis terkenal yang mendekatinya dan tergila-gila padanya.”
“Aku harap dia tidak punya masa lalu yang buruk, Ma!”
“Mama rasa kamu harus lebih mengenalnya, ambilah waktu untuk berdua saja dengannya. Kamu akan menjalin hubungan dengan Marco, sebaiknya kamu harus tahu latar belakang Marco, Claire.”
“Baiklah, Ma. Akan aku coba...” Claire memeluk Tyara dan meletakkan kepalanya dibahu Tyara. Tyara mencium puncak kepala Claire putri kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
***
Pagi-pagi benar setelah merenung semalaman, akhirnya Claire mengirimkan pesan pada Marco.
[Claire : Marco ini aku Claire.]
[Marco : Ya, Sayang tentu saja aku sudah tahu.]
[Claire : Jangan panggil aku sayang!]
[Marco : Baiklah, ada apa Claire?]
[Claire : Aku mau bicara, datanglah ke istana pagi ini dan temuilah Whitney pengawal pribadiku, nanti dia yang akan mengantarmu.]
[Marco : Baiklah sayang...ehhmmm maksudku Claire...]
***
Claire memandangi layar ponselnya dan cemberut membaca pesan dari Marco. Claire meletakkan ponselnya lalu menuju ke kamar mandi dan mematut diri menyambut Marco.
Claire memandang penampilannya di cermin, lalu tiba-tiba Claire tersadar bahwa dia sangat mempedulikan penampilannya hari ini. Claire menghela napas panjang dan menghempaskan tubuhnya di sofa menyadari kekonyolannya.
“Putri Claire, Raja Marco sudah menunggu di ruang kerja Anda.”
“Baik Whitney, aku akan segera ke sana!”
Claire berjalan keluar dari kamarnya menuju ke lift yang akan membawanya ke ruang kerjanya di lantai 4, Claire mengakses kamera cctv ruang kerjanya dari ponsel. Marco terlihat sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dengan serius.
“Selamat pagi,” sapa Claire saat memasuki ruang kerjanya.
“Selamat pagi, Putri Claire. Anda cantik sekali pagi ini!”
“Terima kasih, King Marco!” Claire tersenyum dengan terpaksa lalu duduk berhadap-hadapan dengan Marco. Marco memperhatikan Claire yang sedang memegang beberapa berkas di tangannya.
“Baiklah, Claire! Aku sudah berada di sini, apa yang harus aku tanda tangani?”
“Ini, bacalah!”
Marco menerima berkas dari Claire, isinya perjanjian pernikahan. Yang intinya setelah dibaca oleh Marco adalah beberapa hal yang terkait dengan hubungan mereka selama terikat pernikahan. Claire setuju menikah dengan Marco dua tahun lagi. Claire menginginkan pernikahannya hanya berlangsung 2 tahun dan mereka akan menandatangani kontrak yang baru bila masih ingin melanjutkan hubungan. Tidak ada hubungan seks. Tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Marco membaca dengan seksama lalu membuat beberapa coretan dan tulisan di atasnya lalu menyerahkan pada Claire.
Claire mencermati catatan dari Marco, “Tidak ada hubungan seks kecuali Claire menginginkannya??!”
“Ya, aku rasa itu adil,” jelas Marco sambil tersenyum.
“Kamu terlalu percaya diri, Marco!” Claire bersungut-sungut.
“Itu kelebihanku, Claire. Aku juga menambahkan satu poin terakhir yang cukup penting,” jelas Marco sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Tidak ada yang boleh berselingkuh?” gumam Claire membaca tulisan tangan Marco.
“Tentu saja itu sangat penting untuk menghindari kontroversi, bukan?”
“Baiklah, akan aku perbaiki perjanjian ini sebelum kita tanda tangani. Terima kasih Marco, kamu bisa keluar dari ruangan ini!”
“Apakah tidak sebaiknya kita keluar untuk makan siang, Claire?”
“Aku rasa tidak!” jawab Claire cepat.
“Baiklah, ternyata kamu memang sulit didapatkan. Tapi aku semakin menyukai tantangan ini. Aku permisi Claire,” Marco mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Claire namun tidak disambut oleh Claire yang malah menunjukkan arah pintu keluar.
“Selamat tinggal, Marco!”
“Sampai ketemu nanti malam, Claire,” jawab Marco untuk mengingatkan Claire bahwa nanti malam mereka akan bertemu di acara makan malam.
___
Tbc