Claire dan Marco telah mencapai kesepakatan. Claire berjanji pada Marco bahwa dia akan memperbaiki perjanjian pernikahan yang akan mereka tanda tangani. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Marco dalam perjanjian itu sehingga Marco membuat beberapa coretan di atas kertas perjanjian yang sudah dibuat Claire.
Marco yang sudah sangat berpengalaman dan sering membuat perjanjian kesepakatan dengan orang-orang penting tampak tersenyum geli saat membaca surat perjanjian yang dibuat oleh Claire.
Walaupun begitu, Marco tetap menghargai Claire dengan membuat sedikit saja revisi pada perjanjian yang sudah susah payah dibuat oleh Claire, wanita yang sangat dicintainya itu. Marco menyadari, Claire membuat perjanjian itu dengan perasaan tertekan.
***
Claire telah tampil sempurna menggunakan one shoulder dress warna merah menyala dengan belahan panjang di bagian samping depan. Walaupun dia tidak mencintai Marco, namun tetap saja dia ingin tampil memesona di depan semua orang saat mengumumkan bahwa dia menerima lamaran Marco.
“Putri Claire, Anda sudah ditunggu di ruang tamu di lantai dua,” jelas Whitney.
“Baiklah Whitney aku akan segera turun,” jawab Claire.
Claire mematut diri sebentar di depan cermin riasnya, dia nampak begitu sempurna dengan rambut cokelat keemasan yang diurai. Claire keluar dari kamarnya menuju ke pintu keluar apartemen raja dan ratu lalu masuk lift yang membawanya ke ruang tamu di lantai dua. Di ruang tamu inilah biasanya raja dan ratu menerima tamu yang berasal dari kerabat kerajaan. Claire memasuki ruang tamu, lalu dia mengedarkan pandangan. Keluarga besarnya sudah berkumpul di ruangan itu sambil menikmati wine.
“Selamat malam,” sapa Claire kepada semua yang hadir.
“Selamat malam, Claire!” Beberapa orang membalas sapaan Claire dan yang lainnya mengangkat gelas wine untuk menyambut kedatangan Claire.
Claire duduk di samping mamanya, “Dia belum datang, Ma?”
“Belum Sayang, Marco sudah menghubungi Papamu kalau dia akan sedikit terlambat.”
“Mungkin dia juga menghubungi aku tapi ponselku tertinggal di kamar, Ma.”
Saat tengah asyik mengobrol tiba-tiba datanglah seorang pria yang suaranya tidak asing di telinga Claire, “Selamat malam semuanya.”
Claire menoleh untuk memastikan si pemilik suara, “Jack?!”
Saat yang lain terdiam tidak membalas sapaan Jack, tiba-tiba Alana menyambutnya, “Selamat malam Jack!”
“Jack, sedang apa kamu di sini?” hardik Henry dengan wajah yang tidak bersahabat.
“Maafkan saya Yang Mulia Raja, saya berada di sini atas undangan Ibu Ratu Alana,” jawab Jack sambil sekilas memandang Claire yang sangat cantik malam ini.
“Iya, Yang Mulia Raja! Jack berada di sini atas undanganku.”
“Mama, seharusnya Mama meminta izin dulu pada Henry karena ini adalah acaranya!” tegur Tyara pada Alana mamanya.
“Selamat malam, maaf saya datang terlambat,” sapa seorang pria.
“Selamat malam, Marco! Mari bergabung, kami semua sudah menunggu kedatanganmu,” jelas Henry menyambut kedatangan Marco dengan wajah ceria.
“Terima kasih, Henry.” jawab Marco dengan sopan.
Marco memandang Claire yang sangat cantik dan menggoda malam ini, Marco menyunggingkan senyumnya lalu mendekati Claire. Semua mata memandang ke arah mereka berdua. Marco mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Claire, Claire yang terkejut terpaksa menyambut tangan Marco karena tidak mungkin Claire menolak Marco dihadapan semua yang datang. Marco memang pandai memanfaatkan situasi. Marco mengecup punggung tangan Claire dengan lembut. Claire terpaksa tersenyum.
“Anda sangat cantik malam ini, Putri Claire,” bisik Marco lalu mencium pipi Claire dan duduk di sampingnya.
Claire terkejut lalu menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Marco, “Ehm..terima kasih, Marco!”
“Baiklah, semuanya sudah hadir di sini. Aku akan memberikan pengumuman pada kalian semua!” jelas Henry, “kalian semua aku undang di sini karena aku akan mengumumkan bahwa Putriku Claire sudah menerima lamaran pernikahan dari Raja Kerajaan Paris yaitu Marco Victor de Louis. Mari kita semua berdiri untuk merayakannya!” kata Henry.
Semua orang yang hadir berdiri. Marco memeluk pinggang Claire, Claire terkejut namun dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Marco. Claire terpaksa bersandiwara dan tampak bahagia di depan keluarganya. Henry tersenyum puas lalu mengangkat gelas wine-nya yang disambut oleh anggota keluarga yang lain.
“Selamat Claire, selamat Marco!” ucap Tyara bahagia lalu memeluk Putri kesayangannya.
“Terima kasih, Mama!”
“Hei gadis kecil! Benarkah kau akan menikah mendahului kami?” sapa Hector kakak tertua Claire.
“Hector..” Claire memeluk Hector.
Hector berbisik, “Benarkah ini keputusanmu?”
Claire mengangguk, “Benar, Hector.”
“Baiklah, akan kubunuh dia kalau dia menyakitimu!”
“Hei! Kasar sekali, calon putra mahkota Querencia ini!” bisik Claire sambil melepaskan pelukan kakaknya.
“Selamat Claire!” David memeluk adik kesayangannya.
“Terima kasih, David!”
“Claire!” Edgar memeluk Claire adiknya sambil berbisik, “selamat Princess, tapi bukankah dia terlalu tua untukmu? Walaupun dia memang tampan, tapi dia terlalu tua untukmu Claire!”
“Hei, Edgar! Jaga bicaramu, dia tidak tua. Dia sudah matang.” Claire spontan memuji Marco di depan kakaknya.
“Claire, Marco kemarilah!” pinta Ibu Suri Anne.
Marco menggenggam tangan Claire berjalan menuju ke arah Ibu Suri, “Ya Ibu Suri, ada apa?” jawab Marco.
“Marco jagalah Claire, dia cucu kesayanganku. Jangan pernah kau sakiti dia, karena seluruh leluhur kerajaan Querencia akan mengutukmu!” jelas Anne dengan serius.
“Baik, Ibu Suri akan selalu saya ingat pesan Anda.”
“Wah..cucu kesayanganku akan menikah,” tiba-tiba Alana mendekati Claire dan Marco, “Claire, semoga pernikahanmu tidak terlalu lama lagi. Kamu harus segera menyusul Alya dan Jack yang akan menikah sebulan lagi karena Alya sudah mengandung anak Jack.”
Semua yang hadir di ruang tamu kerajaan tampak sangat terkejut, beberapa orang membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alana. Termasuk Tyara yang sangat kecewa karena merasa Alana berusaha menyaingi pengumuman lamaran Claire.
“Mama! Tidak seharusnya Mama membuka aib Alya di sini!” jawab Tyara yang sangat terkejut dan kecewa dengan tindakan mamanya.
“Ini bukan aib, Ratu. Ini kabar gembira pernikahan adik Anda!” jawab Alana membela diri.
“Mama!” Tyara tampak sangat marah.
Henry mendekati Tyara dan berbisik, “Tyara sudahlah, kamu seharusnya berbahagia. Claire sudah memilih pria yang tepat.”
Claire juga terkejut, dia memandang wajah Jack yang tertunduk dan tampak putus asa. Claire tahu Jack masih mencintainya, namun tindakan Jack yang bermain api di belakang Claire memang tidak bisa dimaafkan, apalagi sampai membuat Alya hamil. Walaupun Claire sedih dan terluka namun Claire berusaha untuk tidak peduli. Claire meraih tangan Marco.
“Sayang sekali, Oma Alana. Sepertinya saya yang akan mendahului pernikahan mereka karena kami akan menikah dua minggu lagi, benar kan Sayang?” Claire memandang wajah Marco sambil tersenyum dan memberi kode pada Marco untuk menyetujuinya.
“Hmm..tentu saja, Sayang. Kita sudah membahasnya!” jawab Marco dengan tenang mengimbangi sandiwara Claire.
“Claire, benarkah?” tanya Tyara terkejut.
“Benar, Mama. Kami memang sudah membicarakannya dan berniat memberitahukan pada keluarga besar hari ini. Benar kan, Sayang?”
Marco menjawab dengan pasti, “Ya, itu memang benar Ratu Tyara. Kami sudah membicarakannya dan sudah membuat keputusan.”
“Baiklah, Marco. Bila memang itu keputusan kalian berdua, kami sangat senang mendengarnya,” jawab Henry.
Claire memandang ke arah Alana, walaupun Alana adalah omanya tapi jelas Alana menabuhkan genderang perang padanya. Tapi bukan Claire kalau tidak bisa membalasnya, sekarang tampak terlihat Alana yang kecewa karena rencananya mengatur pernikahan Alya mendahului pernikahan Claire harus menerima kegagalan. Alana meneguk wine sambil merenung.
“Baiklah semuanya! Ayo, kita ke ruang makan keluarga! Makan malam sudah siap. Kita akan merayakan pengumuman pernikahan Claire dan Marco!” ajak Tyara pada seluruh anggota keluarganya.
Semua orang berjalan meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang makan, tinggalah Marco dan Claire berdua di ruang tamu.
“Claire, kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Marco.
“Aku akan memperbaiki lagi perjanjian kita!” jawab Claire.
“Benar kamu akan menikah denganku dua minggu lagi?” tanya Marco meyakinkan sekali lagi.
“Aku akan menjadi Ratu dua minggu lagi, jelas?!”
Marco tersenyum, “Sangat jelas, Claire.”
Marco menekuk lengan kanannya lalu disodorkan ke arah Claire, Claire memegang lengan Marco dengan terpaksa lalu membuang muka. Marco menggamit tangan Claire menuju ke ruang makan. Semua anggota keluarga sudah duduk menunggu kedatangan Marco dan Claire. Jack tampak duduk di samping Alya, diam-diam Jack memperhatikan kemesraan antara Claire dan Marco. Claire dan Marco duduk berdampingan di ruang makan. Mereka semua menikmati makan malam istimewa untuk merayakan kabar gembira hari ini.
Setelah selesai makan malam ada yang langsung berpamitan menuju ke apartemen masing-masing, sedangkan Henry, Tyara, Claire, dan Marco menuju ke ruang tamu di apartemen raja dan ratu. Mereka berbincang dengan lebih nyaman di sana karena tidak akan ada anggota keluarga kerajaan lain yang bisa mendengarkan perbincangan mereka.
“Marco, aku meminta maaf karena ibuku sempat membuat suasana menjadi kurang nyaman,” kata Tyara penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, Ratu Tyara! Pengumuman pernikahan Alya dan Jack juga merupakan kabar gembira untuk kita semua,” jawab Marco sambil melirik Claire.
“Kalian sudah memutuskan untuk menikah dua minggu lagi, apakah kalian punya cukup waktu untuk mempersiapkannya?” tanya Henry sedikit was-was.
“Tenang saja, Henry! Semua akan segera diurus oleh stafku, jangan menjadi beban bagi keluarga di sini. Henry, sebelumnya aku meminta izin padamu untuk mengadakan upacara pernikahan di Paris karena Claire tentu saja akan menjadi ratu di kerajaanku.”
“Tidak masalah, Marco. Memang seharusnya upacara pernikahan kalian dilakukan di Paris,” jawab Henry.
“Persiapkanlah pernikahan kalian dengan baik, mengingat waktu yang sangat singkat,” pesan Tyara pada Marco dan Claire.
“Iya, Ma. Oh ya Papa, bolehkah setelah upacara di Paris kita juga merayakannya di Querencia?” tanya Claire.
“Tentu saja, Claire. Kami tetap akan mengadakan perayaan pernikahan di sini,” jawab Henry.
“Terima kasih, Papa.”
“Sama-sama, Sayang. Baiklah Marco dan Tyara kami akan istirahat dulu. Kalian tinggalah di sini kalau masih ingin mengobrol.”
“Terima kasih, Henry!” jawab Marco.
Henry dan Tyara meninggalkan ruang tamu di apartemen mereka, kini tinggalah Marco dan Claire duduk berdua di sana. Marco masih saja terpesona melihat kecantikan Claire malam ini.
“Claire, terima kasih atas keputusanmu malam ini.”
“Marco, lebih baik kita bertemu lagi besok pagi,” jawab Claire menghindari percakapan dengan Marco.
“Baiklah, Claire. Aku akan kembali lagi besok. Selamat malam, Sayang.”
Marco mendekatkan wajahnya ke wajah Claire, mereka berpandangan cukup lama. Marco mengarahkan bibirnya ke bibir sensual milik Claire. Namun, dengan cepat Claire memalingkan wajahnya. Marco hanya bisa mencium rambut harum milik Claire, Marco tersenyum kemudian berpamitan meninggalkan istana.
---
tbc