Setelah Marco meninggalkan istana, rasanya beban hidup Claire sedikit terangkat. Claire merasa sangat lega seperti seorang tahanan yang baru saja bebas dari jeruji penjara. Claire segera keluar meninggalkan tempat pertemuan yang cukup membuatnya tertekan malam ini.
***
Claire melangkah keluar menuju kompleks kolam renang istana sambil membawa sebotol red wine. Claire berjalan sambil menenggak botol red wine yang ada di genggaman tangannya lalu duduk di gazebo memandang air kolam renang yang tampak tenang. Tak terasa air mata Claire menetes. Claire mengenang kembali kejadian empat tahun yang lalu saat dia pertama kali bertemu Jack. Claire berusia 17 tahun sedangkan Jack berusia 23 tahun.
~Flashback On~
Pengawal pribadi Claire yang bernama Christina diminta oleh Ratu Tyara untuk mengawal Alicia, adik Ratu Tyara. Alicia melanjutkan kuliah di New York setelah lulus dari Querencia University. Hari itu sepulang sekolah, seharusnya seperti biasa Claire dijemput oleh Christina dan seorang sopir. Namun, saat Claire tersadar di dalam mobil hanya ada seorang pria tampan, Claire yang bingung langsung mengira bahwa dia akan diculik.
“Siapa kamu?!” Claire menjerit ketakutan saat menyadari tidak ada Christina di dalam mobil kerajaan yang menjemputnya.
“Saya Jack, Putri Claire. Saya yang bertugas mengawal Anda hari ini,” jawab Jack sopan.
“Aku tidak percaya! Hentikan mobilnya! Turunkan aku!” Claire semakin histeris dan memukuli Jack dari belakang.
“Putri Claire tolong tenangkan diri Anda, saya pengawal Anda hari ini. Hentikan memukuli saya! Saya tidak bisa fokus mengemudi!”
Claire dengan cepat melakukan sambungan telepon, “Hallo Ma! Kenapa bukan Christina yang menjemputku?!”
Claire terdiam dan mulai tenang begitu mendengarkan penjelasan dari mamanya, “Oh, baiklah. Bye, Ma!”
Jack melirik Claire dari spion depan, Claire balas memandang Jack lalu membuang muka ke arah jendela mobil. Jack tersenyum melihat ulah Sang Putri yang pemarah. Semenjak itu Jack dan Claire saling menyukai.
~Flashback Off~
Claire kembali menenggak red wine langsung dari botolnya, air mata terus mengalir merasakan sakit hati yang mendalam, walaupun di luar Claire bisa menutupi perasaannya dan melepaskan Jack untuk bersama dengan Alya, namun tetap saja Claire adalah manusia biasa yang juga sakit hati dan terluka jika kekasih hatinya bercinta dengan perempuan lain terlebih perempuan itu adalah bibinya. Claire sudah menghabiskan hampir setengah botol red wine itu, Claire mulai mabuk. Dia tertawa keras di tengah kompleks kolam renang istana yang sepi itu, lalu menangis tersedu. Dalam ilusinya saat mabuk, Claire melihat Jack sedang berenang di dalam kolam renang.
“Jack! Jack tunggu aku, aku akan ikut berenang. Kita akan berlomba Jack! Aku akan mengalahkanmu!” Claire meracau.
Claire melepas gaun merah yang sejak tadi masih dipakainya lalu menceburkan diri ke dalam kolam, “Jack tunggu aku! Jack?” Claire berenang dengan cukup membahayakan karena dalam keadaan mabuk.
“Jack? Kamu dimana?! Jack! Jack tolong! Tolong!” tiba-tiba Claire melambaikan tangannya ke atas untuk meminta pertolongan karena dia sudah hampir tenggelam.
Marco POV
Aku meninggalkan apartemen raja setelah mengobrol sebentar dengan Claire. Aku menghirup udara yang benar-benar segar di luar istana. Mungkin karena perasaan bahagiaku sehingga udara yang kuhirup terasa lebih segar malam ini. Tiba-tiba kakiku serasa dituntun untuk menuju kompleks kolam renang istana, tempat pertemuan pertamaku dengan Claire. Aku tersenyum mengingat kembali pertemuan pertama kami, betapa cantik dan galaknya wanita pujaanku. Aku memilih duduk di salah satu gazebo yang lampunya temaram. Aku tidak mau ada orang yang menggangguku walaupun aku tahu tengah malam seperti ini tidak akan ada orang di istana yang datang untuk mengunjungi kolam renang.
Namun, tiba-tiba aku terkejut saat mendengar suara langkah kaki. Dari suara sepatunya, sudah pasti itu adalah suara langkah kaki seorang perempuan. Claire! Itu Claire! Aku hendak menghampirinya namun kuurungkan niatku saat melihatnya menenggak botol red wine beberapa kali. Jelas sekali dia tidak sedang dalam kondisi yang baik. Dia duduk di gazebo dekat kolam renang sambil meminum berkali-kali red wine dari botol itu, dia terlihat kacau saat mabuk. Tertawa dan berteriak-teriak tidak jelas. Aku menarik napas panjang, saat dia mulai memanggil nama Jack. Rasanya darahku mendidih mendengar Claire menyebut namanya. Dia mabuk berat dan oh tidak...tidak....dia melepas gaunnya! Jangan katakan kalau kamu mau berenang dalam kondisi mabuk Claire! Claire kau sangat bodoh!
Marco segera berlari melepas sepatu serta jasnya saat melihat Claire meminta pertolongan. Marco berenang menolong Claire yang hampir tenggelam. Marco membopong tubuh Claire menuju ke gazebo, tubuhnya menggigil. Marco membungkus tubuh Claire yang setengah telanjang itu dengan jasnya.
“Claire! Claire!” Marco menepuk pipi Claire berkali kali tapi Claire tidak membuka mata.
Marco bersiap memberi napas buatan. Marco mendongakkan dagu Claire, menekan d**a Claire berkali-kali kemudian menutup lubang hidungnya dan meniupkan napas buatan lewat mulut. Marco memperhatikan d**a Claire tidak bergerak naik, Marco mengulang napas buatan sekali lagi. Saat itulah Claire tersedak dan terbatuk batuk mengeluarkan air kolam yang tertelan dari mulutnya. Marco meluapkan rasa bahagianya dengan memeluk erat tubuh Claire.
“Aku hampir kehilanganmu seandainya aku tidak di sini, Claire!”
“Tidak Marco jangan peluk aku..lepas Marco,” ucap Claire lirih tak berdaya.
“Dengar Claire! Aku akan melakukan apapun yang aku mau padamu saat ini!”
Marco membopong tubuh Claire keluar dari kompleks kolam renang istana. Tubuh Claire semakin menggigil terkena hembusan angin malam. Claire membenamkan kepalanya di pelukan Marco, Claire sudah tidak peduli lagi karena dia memang membutuhkan kehangatan saat ini. Marco mengecup puncak kepala Claire dan bergegas membawa Claire ke apartemennya di dalam istana. Marco meminta salah satu penjaga menghubungi Whitney. Dengan bantuan Whitney, Marco membawa Claire ke kamarnya. Whitney memakaikan Claire baju tidurnya.
“Whitney, tolong tidak usah laporkan ini pada Raja. Putri Claire mabuk, aku tidak mau Raja memarahinya,” pesan Marco pada Whitney.
“Baik, Yang Mulia.”
“Whitney, tidurlah di kamar Putri Claire malam ini. Aku takut dia akan demam atau muntah. Tolong jaga dia malam ini. Besok pagi-pagi sekali aku akan datang ke sini lagi.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Terima kasih, Whitney.”
***
Sinar matahari pagi menembus tirai kamar Claire. Claire mengerjapkan matanya beberapa kali, samar-samar dia melihat Whitney yang tersenyum ke arahnya.
“Syukurlah Putri, Anda sudah bangun.”
“Ada apa, Whitney?” tanya Claire kebingungan.
“Anda mabuk berat semalam, Putri Claire!” Whitney sedikit memarahi Claire.
“Oya? Benarkah?” Claire mencoba mengingat-ingat.
“Iya Putri, tubuh Anda menggigil dan basah kuyup.”
“Apakah Jack yang membawaku kemari, Whitney?” tanya Claire.
“Jack? Anda pasti bercanda Putri! Yang membawa Anda kemari adalah Sang Raja tampan!” wajah Whitney merona.
“Marco?”
“Iya Putri, semalaman saya berpikir. Apakah Anda berenang dalam keadaan mabuk, Putri? Karena saat masuk ke istana, Anda dan Raja Marco basah kuyup, Putri!”
Claire mencoba mengingat, “Ya Tuhan! Marco melihat aku mabuk Whitney! Aku berenang saat mabuk dan sepertinya aku tenggelam di kolam renang, itu yang aku ingat.”
“Berarti Raja Marco yang menyelamatkan Anda, Putri!”
Claire menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, jelas Claire malu kalau benar Marco melihatnya dalam keadaan mabuk berat.
“Selamat pagi, Claire! Boleh aku masuk?” Marco muncul dari balik pintu kamar Claire.
“Saya permisi dulu, Putri,” ucap Whitney.
“Masuklah, Marco!” jawab Claire.
Saat berpapasan dengan Whitney, Marco mengucapkan terima kasih, “Whitney, terima kasih sudah menemani Putri Claire.”
“Sama-sama Yang Mulia, sudah menjadi tugas saya.”
Marco duduk di samping Claire yang masih berbaring di ranjang, “Bagaimana keadaanmu, Claire?”
“Kamu melihatku dalam keadaan mabuk?” tanya Claire tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
“Ya, sayangnya memang begitu, Claire.”
“Kamu melihat semuanya?”
“Ya,” jawab Marco singkat.
“Apa saja yang kamu dengar, Marco?” Claire cemas.
“Hmm...entahlah kamu meracau. Aku hanya mendengar kamu tertawa dan menangis,” kata Marco berbohong, Marco tidak mau Claire mengingat kembali bahwa Jack lah yang membuatnya mabuk.
“Bukankah seharusnya kamu sudah berada di hotel saat aku mabuk?!” tanya Claire kesal dan malu karena Marco melihatnya saat mabuk.
“Kalau aku tidak berada di sana, aku tidak yakin pagi ini kamu masih bisa berbincang denganku!”
“Kamu ingin aku berterima kasih?” jawab Claire kesal.
“Tidak Claire, tentu saja tidak. Aku bersyukur, pagi ini kamu baik-baik saja. Tidak perlu berterima kasih.”
“Aku lapar!”
“Mandilah, aku akan mengajakmu sarapan di luar istana.”
“Baiklah, tunggu aku di luar!”
Claire bergegas mandi. Begitulah cara Claire berterima kasih pada Marco, dengan membiarkan Marco mengajaknya makan di luar.
***
Marco mengajak Claire ke sebuah restoran sederhana di pusat kota. Mereka sarapan di depan restoran di pinggir jalan, momen ini menarik perhatian publik dan para pencari berita. Claire tampak cantik memakai gingham overall mini dress motif kotak-kotak warna hitam putih dengan kaos putih lengan pendek di bagian dalamnya. Rambutnya diikat dengan gaya messy hair.
“Kamu sengaja membawaku ke sini supaya dilihat banyak orang?” tanya Claire.
“Tepat sekali, Putri Claire!” jawab Marco sambil menyantap sarapannya.
“Baiklah! Sepertinya kamu sudah pandai bersandiwara, Marco!” Claire melekatkan wajahnya ke wajah Marco sambil memaksakan senyumnya.
“Aku belajar banyak darimu, Claire!”
Tanpa ragu Marco mencium bibir Claire dengan lembut, Claire terkejut wajahnya merona saat Marco melepaskan bibirnya dan menyelesaikan ciuman pertama mereka. Claire yang galak dan cerewet itu menundukkan kepala, Marco meliriknya lalu tersenyum.
Claire berbisik, “Jangan berani-berani menciumku lagi!”
“Baiklah, Claire. Aku akan menciummu kalau kamu memintanya,” jawab Marco sambil terkekeh.
“Aku tidak akan memintanya!” Claire melotot.
Dalam sekejap, acara sarapan King Marco dan Putri Claire menjadi trending topik di beberapa media sosial, acara gosip, berita televisi, dan media cetak. Marco memang sengaja memamerkan hubungannya dengan Claire mengingat dua minggu lagi Claire meminta untuk menikah. Marco ingin publik mengetahui hubungan mereka sebelum mereka melangsungkan pernikahan.
---
Tbc