Saat mereka berdua sedang asyik menyantap sarapan, tiba-tiba seorang pria lepas dari pengawasan para pengawal Marco. Pria itu berjalan dengan cepat mendekati meja tempat Claire dan Marco menikmati sarapan pagi itu. Pria ini tampak sangat terlatih sehingga bisa menghindar dari pengawasan para pengawal Marco. Tentu saja hal ini bisa terjadi, karena pria ini adalah pengawal pribadi keluarga kerajaan Querencia.
“Putri Claire, izinkan saya berbicara!” ucap seorang pria yang tiba-tiba tepat berada di hadapan Claire dan Marco.
“Jack?! Sedang apa kamu di sini?” Claire terbelalak melihat kehadiran Jack.
“Saya ingin bicara dengan Anda, Putri!” jawab Jack.
“Jack, maaf kami tidak mau diganggu!” Marco memandang tajam ke arah Jack dengan penuh amarah.
“Maaf, ini bukan urusan Anda!” jawab Jack kesal.
Marco berdiri mencengkeram krah kemeja Jack, “Dasar bodoh! Apa yang menjadi urusan Claire, akan menjadi urusanku juga!”
“Marco, tolong tenanglah! Jangan membuat keributan di sini. Aku tidak mau kejadian ini muncul di berita,” Claire menarik lengan Marco supaya kembali duduk, “Jack pergilah! Jangan ganggu aku lagi!”
“Kau dengar, Jack?” tatapan mata Marco langsung tertuju ke arah Jack.
“Saya ingin bicara, Putri!” Jack berlutut di samping Claire.
Ulah Jack semakin menjadi-jadi saat meminta perhatian dari Claire. Selama Jack tidak diperhatikan maka Jack akan terus membuat ulah di depan publik, sampai Claire mau menuruti permintaannya untuk berbicara berdua.
“Jack! Apa yang kau lakukan! Jack sebaiknya kita bicara di istana, pergilah!!” Claire mulai panik dengan ulah Jack.
Marco memberi isyarat pada para pengawal yang berada tak jauh dari mereka. Beberapa pengawal segera berlari ke arah Sang Raja. Marco menunjuk ke arah Jack pada para pengawalnya, akhirnya para pengawal Marco berhasil menyuruh Jack pergi. Marco dan Claire menyudahi sarapan mereka lalu masuk ke dalam mobil Marco untuk kembali ke istana. Di sepanjang jalan, Marco hanya diam sesekali melirik Claire yang sibuk dengan ponselnya. Claire sibuk mengirim pesan pada Jack berisi kekesalannya. Sesampainya di istana, Claire meminta Marco untuk menunggunya di dalam apartemen sementara dia dan Jack akan berbicara di salah satu ruang tunggu di lantai satu.
“Tunggulah aku di apartemen, Marco!” pinta Claire.
“Tidak Claire aku ikut denganmu. Aku harus mendengar apa yang akan diucapkan pria itu padamu!” jawab Marco dengan tegas.
“Marco, masalah ini tidak akan selesai. Dia akan meminta bertemu lagi dan lagi kalau aku menemuinya bersamamu! Aku harus berbicara berdua saja dengan Jack!”
“Tidak akan kubiarkan, aku akan selalu bersamamu! Dia harus tahu kalau kamu adalah calon istriku! Jack harus menjauhimu! Tidak akan kubiarkan dia menemuimu lagi!” jelas Marco.
“Marco!!” Claire geram melihat Marco yang keras kepala.
“Kenapa? Aku salah?” tanya Marco sinis.
Akhirnya Claire mengalah, mereka berdua menuju ke salah satu ruangan di lantai satu. Di sana Jack sudah menunggu dengan gelisah sambil mondar-mandir. Saat Claire dan Marco memasuki ruangan, tampak kekesalan di raut wajah Jack. Jack mengira bisa berbicara berdua saja dengan Claire, namun kenyataannya Marco selalu mengawal kemanapun Claire pergi. Sepertinya Marco tidak memberi kesempatan pada Jack yang ingin melancarkan aksinya untuk meyakinkan Claire bahwa Jack masih mencintainya.
“Putri Claire, saya ingin bicara berdua saja dengan Anda. Saya mohon!” pinta Jack.
“Aku sudah menuruti kemauanmu Jack. Sekarang bicaralah! Marco adalah calon suamiku, dia sudah berbaik hati memberi izin pada kita untuk bertemu maka dia berhak mendengar apa yang akan kamu bicarakan padaku!” jelas Claire.
“Tapi, Putri Claire!”
Claire memotong dengan cepat, “Duduklah Jack!”
Jack duduk dengan kesal, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali untuk mengatur emosinya yang memuncak. Sedangkan Marco duduk di samping Claire dengan tenang.
“Apa yang ingin kamu katakan, Jack?” tanya Claire.
“Dia, sudah memiliki kekasih, Putri!” Jack menunjuk Marco.
Claire mencoba menenangkan diri, dia melirik Marco yang hanya tersenyum sinis ke arah Jack. Marco tidak terpancing emosi sama sekali, “Ya, Jack. Aku kekasihnya!”
“Bukan Anda yang saya maksud, Putri! Dia terlambat datang ke acara makan malam kemarin karena dia menemui kekasihnya!” jelas Jack.
“Mungkin maksudmu mantan kekasihnya Jack??” jawab Claire tenang, “hanya itu yang ingin kamu katakan Jack?”
Jack cukup terkejut karena Claire tidak terpengaruh sama sekali, “Satu lagi, Putri. Saya tahu, Anda masih mencintai saya.”
“Jack! Lancang sekali kamu mengatakan itu!” Claire bereaksi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jack, “dengar Jack, aku tidak mencintaimu dan aku minta kamu melupakan semua yang pernah kita jalani! Pikirkanlah Alya dan bayi dalam kandungannya!” Claire tercekat saat mengatakan hal itu. Sebenarnya ada rasa sakit di dalam d**a dan air mata yang tak tertahankan di pelupuk matanya.
“Jack, sebaiknya kamu pergi. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara kamu dan calon istriku!” Marco yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya ketika melihat Claire hampir menangis.
Jack mengabaikan kata-kata Marco dan terus memohon pada Claire agar mau mendengarkan dan mempercayai kata-katanya. Jack berusaha keras untuk meyakinkan Claire agar Claire meninggalkan Marco dan kembali bersamanya.
“Putri Claire, saya mohon..jangan memikirkan orang lain saat ini! Tolong pikirkan perasaan yang masih kita miliki!” pinta Jack pada Claire.
“Jack!” Claire memperingatkan Jack yang telah lancang berbicara.
“Anda baru saja mengenalnya, Putri! Tidak mungkin Anda akan mencintainya secepat itu!” tebak Jack.
Marco hanya tersenyum mendengar ucapan Jack. Marco tidak menyangka Jack akan melakukan hal yang menurutnya sangat kekanak-kanakan ini demi merebut kembali hati Claire.
“Kamu tidak berhak menilai perasaanku, Jack!” teriak Claire.
“Anda tidak adil pada saya, Putri! Saya tidak melakukan hal yang Anda tuduhkan pada saya. Saya tidak melakukan apapun pada Nona Alya!” Jack membela diri.
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Jack!” Claire meneteskan air matanya.
“Dengar Jack, aku tahu ini bagian dari hubungan kalian di masa lalu. Tapi tolong, sepertinya calon istriku sudah tidak ingin berbicara denganmu lagi!” Marco menengahi situasi.
“Saya akan pergi kalau Putri Claire yang menyuruh saya pergi!” tantang Jack.
“Baiklah! Claire? Kamu yang memutuskan, dia pergi atau tinggal di sini!” Marco memandang Claire dengan tatapan yang sangat teduh, tidak ada kemarahan sama sekali dalam diri Marco.
“Pergilah, Jack! Aku tidak ingin menemuimu lagi! Dan ingat jangan mengganggu aku! Uruslah dan pikirkanlah Alya dan bayi dalam kandungannya!” pinta Claire.
Jack mengepalkan tangannya lalu berpamitan, “Saya permisi!”
Jack terpaksa pergi meninggalkan ruangan dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Keinginannya untuk meyakinkan hati Claire agar tetap bersamanya harus kandas karena kehadiran Marco di dalam ruangan itu bersama Claire.
Marco memandang wajah Claire yang tampak memendam kesedihan yang mendalam, Claire berjalan menjauh menuju kea rah jendela ruangan itu. Dari kaca jendela, Claire bisa melihat Jack yang berjalan cepat meninggalkan istana.
“Aku harap kamu tidak berpikir untuk bisa bersamanya, Claire!”
Claire menoleh ke arah Marco, “Tentu saja tidak! Kenapa kamu berkata seperti itu?!”
“Kamu melihatnya dari jendela, seakan menyesali kepergiannya!” ejek Marco.
Claire menatap Marco dengan tajam, “Jangan asal bicara kalau tidak tahu apa yang aku pikirkan!”
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Marco.
“Tidak ada! Jangan berpikir seolah-olah hanya aku yang memiliki masalah di sini Marco!”
Marco terseyum, “Apakah aku bermasalah?”
“Sudah jelas kamu yang menimbulkan masalah dengan wanita itu! Bagaimana Jack bisa tahu kamu menemui wanita itu!” tantang Claire.
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu!"
Claire menatap tajam mata Marco. Marco yang mengerti kalau Claire sedang marah langsung mengajaknya untuk berbicara di apartemen raja.
___
tbc