“Kita bicara di apartemenmu, di sini tidak aman,” ajak Marco.
Claire hanya diam lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke apartemennya, Marco mengikuti Claire dari belakang. Marco tersenyum melihat Claire yang berjalan dengan cepat meninggalkannya, sampai Marco harus menunggu lift berikutnya untuk menuju ke apartemen raja di lantai 2. Claire sudah duduk menunggu kedatangan Marco di salah satu ruang tamu di apartemennya.
“Baiklah sepertinya aku harus mendengar langsung darimu, Marco!” ucap Claire dengan nada kesal.
Gara-gara Marco masih menjalin hubungan dengan wanita itu, akhirnya Jack berhasil mengetahui kelemahan Marco. Hal ini dipakai Jack sebagai alasan untuk kembali lagi bersama Claire.
“Aku sudah memutuskan hubunganku sejak lama Claire.” Marco duduk di samping Claire.
“Ya.. ya.... 24 jam yang lalu memang sudah cukup lama, King Marco!” jawab Claire sambil membuang muka untuk menghandari kontak mata dengan Marco yang berada sangat dekat dengannya.
Marco tersenyum, “Kamu cemburu?”
“What?!! Jangan bermimpi terlalu tinggi, Marco!” umpat Claire.
Marco kembali tersenyum, “Tidak adakah kemungkinan kamu akan cemburu dan mencintaiku, Claire?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Dan ingat Marco, aku menanyakan ini bukan karena aku cemburu! Kamu sendiri yang menambahkan dalam perjanjian kita bahwa kita harus menghindari kontroversi,” jawab Claire tenang.
“Namanya Jennifer Rosemary, aku memutuskan hubungan dengannya sejak pertama kali aku melihatmu di pameran seni kerajaanku, Claire,” jelas Marco sambil menatap manik mata Claire.
“Pameran seni? Bukankah itu setahun yang lalu?” tanya Claire sambil mengingat-ingat.
“Ya, kurang lebih setahun yang lalu tapi Jennifer tidak pernah menyerah untuk memintaku kembali.”
“Apakah dia kerabatmu?” selidik Claire.
“Dia seorang model terkenal di Paris, Claire.”
“Hmm..aneh sekali kamu meninggalkannya,” jawab Claire sambil memainkan ponselnya, dengan cepat dia mengetik nama Jennifer Rosemary dan terpampanglah foto-foto wanita itu yang ternyata adalah model majalah pria dewasa, “wow!!”
“Kenapa? Kamu sudah melihat foto-fotonya yang vulgar?” tanya Marco saat melihat ekspresi wajah Claire yang terkejut melihat foto-foto Jennifer.
“Mengapa kamu tidak menikahinya saja dan membiarkan aku hidup bebas?” tanya Claire heran.
Marco balik bertanya pada Claire, “Apakah menurutmu aku mencintainya, sampai harus menikah dengannya?”
“Entahlah, Marco. Lagi pula aku tidak peduli dengan perasaan kalian. Dalam perjanjian ini juga tertulis bahwa kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing.”
Claire menyodorkan berkas perjanjian pernikahan yang sudah dibenahinya sesuai permintaan Marco.
Marco menerima berkas itu dan membacanya dengan seksama. Marco mencermati perjanjian pernikahan yang sudah dibenahi oleh Claire dan memastikan poin-poin penting permintaannya tercantum di sana. Claire setuju menikah dengan Marco dua minggu lagi. Claire menginginkan pernikahannya hanya berlangsung 2 tahun dan mereka akan menandatangani kontrak yang baru bila masih ingin melanjutkan hubungan. Tidak ada hubungan seks, kecuali Claire menginginkannya, syarat itu adalah ide gila dari Marco. Sudah jelas Claire tidak menginginkan Marco, seharusnya tidak ada syarat semacam itu. Tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Tidak ada yang boleh berselingkuh selama menjalani hubungan.
“Baiklah, aku sudah membacanya dan akan aku tandatangani sekarang.” Marco mengeluarkan pena lalu menandatangani perjanjian yang ada dihadapannya itu.
Claire menerima berkas dari Marco dan kini giliran Claire yang menandatanganinya, “Terima kasih, Marco. Kita terikat pernikahan selama 2 tahun dan sebaiknya kamu segera memikirkan skenario perceraian kita. Aku ingin perceraian kita lancar, secepat mungkin, dan tidak dicurigai publik maupun media massa!”
Marco menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu sangat menyebalkan, Claire!”
“Itu resiko pernikahan kontrak, Marco!” jawab Claire dengan cepat.
“Baiklah, Claire. Tapi ingatlah satu hal, saat kamu mulai mencintaiku kamu harus segera mengatakannya padaku!” Marco menatap mata Claire.
Claire tertawa, “Aku katakan sekali lagi, Marco! Jangan terlalu percaya diri!”
Marco menarik lengan Claire hingga tubuh mereka tidak berjarak lagi. Claire mendongakkan kepalanya menantang Marco dengan tatapan mata berkilat karena emosi. Marco semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
“Lupakanlah Jack, Claire! Kamu terlalu berharga untuknya! Berikanlah hatimu padaku!” Marco mencengkeram dan mengguncang kedua lengan Claire dengan tangannya yang kokoh.
“Lepaskan aku, Marco! Kamu menyakitiku!” teriak Claire sambil berontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Marco.
Plak!! Claire menampar pipi Marco saat dia berhasil lepas dari cengkeraman Marco. Marco mengusap pipinya yang perih karena tamparan dari Claire. Marco tersenyum sinis.
“Jangan pernah mengatur hidupku!” ucap Claire penuh amarah.
“Kamu akan membayar tamparan ini, Claire! Oya satu hal lagi, tolong jaga jarak dengan Jack karena aku tidak mau kamu bernasib sama seperti Alya! Permisi!”
Marco keluar dari ruangan itu dengan kesal, dia sungguh tidak menyangka kalau Claire teramat sangat keras kepala. Namun, Marco tetap bertekad untuk menaklukkan Claire wanita keras kepala itu. Di dalam ruangan, Claire mengumpat dan membantingi gelas wine yang ada di atas meja untuk melampiaskan amarahnya pada Marco.
***
Semenjak kejadian itu, Marco tidak menghubungi Claire maupun mengunjungi Claire di istana. Sudah dua hari Marco menghilang tanpa pesan. Claire pun tidak mau ambil pusing, dia menyibukkan diri dengan mengawasi persiapan pembukaan butik baru miliknya.
Siang ini Claire makan bersama dengan Henry, Tyara, dan Ibu Suri Anne. Tiba-tiba sosok pria menyebalkan yang serasa ingin dihilangkan oleh Claire dari muka Bumi itu muncul.
“Selamat siang!” sapa Marco.
“Wah...wah ini kejutan Marco!” ucap Henry menyambut kedatangan Marco.
Claire melirik ke arah Marco yang sedang membawa buket bunga mawar merah nan indah. Claire semakin kesal karena Marco menghilang tanpa pesan dan sekarang berusaha merayunya dengan sebuket bunga?
“Kamu tidak perlu repot-repot membawa bunga untukku, Marco!” Claire menegur Marco.
Marco hanya tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut Claire.
“Oh, tidak Claire bunga ini untuk Ibu Suri Anne, bukan untukmu!” Marco melangkahkan kakinya menuju ke tempat duduk Ibu Suri.
“Wah, terima kasih Marco! Kamu memang tahu bagaimana cara membahagiakan hati seorang wanita. Benar kan, Claire?” tanya Ibu Suri.
Claire hanya terdiam sambil menyantap makan siangnya. Marco melirik Claire dan tersenyum puas karena berhasil membuat Claire kesal. Ratu Tyara meminta Marco untuk makan siang bersama mereka, Claire terpaksa makan satu meja dengan pria menyebalkan dalam hidupnya.
---
Tbc