“Claire,” Marco membuyarkan lamunan Claire saat mereka berdua sedang duduk menghadap ke taman istana. Claire hanya menoleh dan tidak menjawab Marco. Suasana di istana siang itu sangat tenang dan sepi karena hari ini sesuai jadwal, istana sedang ditutup untuk umum.
“Apakah kamu bisa mendengar suaraku?” tanya Marco usil.
“Ya! Tentu saja!” jawab Claire kesal.
“Jawablah kalau aku memanggilmu. Ya, Marco? Atau ya, Sayang?” ucap Marco sambil melirik Claire.
“Tidak lucu!”
“Kamu marah karena tidak kubawakan bunga?” goda Marco lagi.
“Marco! Bisakah kamu tidak menggangguku?! Ada keperluan apa kamu menemuiku? Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan, aku mau beristirahat!”
“Apakah pernikahan kita tidak penting bagimu? Apakah hanya menandatangani perjanjian di atas kertas saja lalu semua selesai?” protes Marco.
“Katakan saja apa maksudmu, Marco?!”
“Aku mau kita mempersiapkan pernikahan kita!” tegas Marco.
Claire menghela napas, “Baiklah, baiklah! Apa yang harus kita persiapkan?!”
“Apakah kamu tidak mau pergi denganku untuk memilih cincin pernikahan, gaun pernikahan, mahkota yang akan kamu pakai, kue pernikahan, hidangan untuk tamu, dan buket bunga?”
“Apakah harus kita yang mengatur semua? Bukankah kamu punya banyak staf kerajaan yang bisa mengurus semuanya itu?”
“Kamu tidak mau terlibat??” desak Marco.
“Gaun, cincin, dan bunga bisa aku pilih dari internet. Bukankah dengan kekuasaan yang kamu miliki, kamu bisa mewujudkan semua yang aku minta?”
“Aku ingin kita pergi dan memilihnya bersama!” jawab Marco.
“Apakah itu perintah?! Apakah tidak ada yang lebih praktis daripada pergi berdua?!”
“Baiklah, terserah kamu saja! Lagi pula ini hanya pernikahan palsu, sebaiknya kamu pilih cincin palsu, mahkota palsu, dan bunga palsu, Claire! Kalau sudah menemukannya hubungi aku, aku akan membayarnya! Aku permisi!”
Belum sempat Claire menjawab Marco, pria itu sudah berlalu dari hadapan Claire. Tampaknya Marco sangat kesal dengan sikap Claire yang menganggap pernikahan mereka tidak begitu penting sehingga Claire tidak mau repot mempersiapkannya. Claire terdiam melihat kepergian Marco.
~Claire POV~
Apakah aku salah? Aku hanya ingin sesuatu yang praktis untuk mempersiapkan pernikahanku. Jujur, aku tidak begitu antusias mempersiapkannya. Kenapa aku harus terjebak dalam situasi ini?! Menikah dengan pria yang tidak aku cintai dalam waktu yang secepat ini! Ya, aku akui ini semua kebodohanku! Menerima lamarannya dan mempercepat rencana pernikahan kami. Semua itu aku lakukan karena aku sangat kesal pada Jack dan Alya!
***
Claire sudah berada di apartemen Ibu Suri Anne, Omanya. Satu-satunya orang yang selalu bisa diandalkan saat yang lain sedang sibuk dengan urusan kerajaan.
“Ada apa, Claire? Kamu sudah duduk di sini hampir sepuluh menit dan belum mengatakan apapun,” tanya Anne sambil menyeruput tehnya.
“Oma, aku merasa ada yang aneh pada diriku. Rasanya aku bingung dengan diriku sendiri, Oma!”
“Itu karena kamu mau menikah, Claire. Perasaanmu itu dinamakan cemas. Kamu mungkin mencemaskan rencana pernikahanmu dan kehidupanmu setelah menikah nanti. Tapi percayalah, Claire, Marco pria yang baik.”
“Seberapa jauh Oma mengenalnya? Apa benar yang Oma katakan kalau dia pria yang baik?”
“Kamu meragukannya?”
“Dia sering kali membuatku kesal dan marah, Oma!”
“Kamu belum mau membuka diri untuknya, Claire. Jadi, perasaan yang ada hanyalah kesal dan marah. Cobalah kamu membuka hatimu. Apakah perlu Oma bantu untuk berkomunikasi dengan Marco?”
“Ah, tidak! Tidak perlu, Oma!”
“Oma tahu, ini berat buatmu. Apalagi setelah tahu Alya hamil anak Jack, bukan?” tanya Ibu Suri Anne.
“Aku tidak mau membahasnya, Oma!”
“Kamu keras kepala, Claire. Oma selalu bingung darimana sifat keras kepalamu itu berasal?” Anne mengelus rambut cokelat keemasan milik Claire.
“Oma, salahkah aku kalau aku tidak begitu antusias mempersiapkan pernikahanku? Marco mengajakku untuk memilih cincin, gaun, bunga, dan keperluan pernikahan yang lain. Tapi aku menolaknya, aku malas pergi berdua dengannya. Aku bisa memilihnya lewat ponsel, Oma!”
“Kamu mengecewakannya, Claire. Dia mencintaimu. Berikanlah sedikit kemurahan hatimu untuk menyenangkan hatinya. Kali ini Omamu yang tua ini memohon padamu, Claire! Apakah kamu mau melakukannya demi Oma?”
“Oma! Kenapa malah jadi seperti ini? Aku kira dengan menemui Oma hatiku akan lebih tenang. Ternyata Oma lebih menyayangi Marco!” jawab Claire cemberut.
Ibu Suri terkekeh, “Percayalah pada wanita tua ini, Claire! Kamu pasti akan bahagia bersama Marco! Hubungilah dia, persiapkanlah pernikahan kalian dengan baik.”
***
Claire meninggalkan apartemen Ibu Suri dengan perasaan gelisah, dia ingin melakukan apa yang diminta Ibu Suri, tapi mengingat sikap Marco yang menyebalkan, Claire jadi ragu untuk melakukannya. Di kamar, Claire hanya termenung. Sesekali dia melihat ponselnya, ada bisikan dalam hatinya untuk menghubungi Marco namun bisikan yang lain berkata, jangan Claire!
Claire yang jenuh akhirnya memutuskan untuk pergi keluar istana, Claire ingin berjalan-jalan dan melakukan penyamaran supaya tidak ada yang mengenalinya. Claire pergi ke cafe es krim dan makan es krim rasa cokelat kesukaannya. Claire pergi ke bioskop, menonton film komedi yang membuatnya mengeluarkan hormon endorfin sehingga bisa melupakan sejenak segala permasalahan yang dihadapinya, terakhir Claire berniat untuk pergi ke supermarket untuk memborong sekeranjang snack untuk menemani kesendiriannya di kamar nanti malam. Saat Claire sedang asyik memasukkan berbagai macam snack ke dalam keranjang belanja, dia melihat sepasang kekasih yang tidak asing baginya. Ya, mereka adalah Alya dan Jack! Jack tampak menemani Alya berbelanja, saat ini Jack memang masih bertugas sebagai pengawal pribadi keluarga Alya. Wajar bila dia menemani Alya, lagi pula mereka akan segera menikah. Claire memperhatikan dengan sembunyi-sembunyi, Jack tampak sangat telaten menemani Alya, berbincang, dan tertawa berdua. Seketika luka hati Claire kembali menganga melihat mereka berdua dan ingatan akan perselingkungan mereka kembali terlintas jelas di matanya.
Claire kembali ke istana dengan perasaan yang hampa. Di kamar, Claire mandang ponselnya, ada beberapa pesan masuk dari Marco. Claire membacanya.
Marco: Claire?
Marco: Sudah memilih? Katakan padaku bila sudah, aku akan membayarnya.
Claire memandang layar ponselnya, cukup lama. Claire sudah menerima lamaran Marco namun membuka hati untuk Marco memang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Bayangan Jack dan Alya lalu Marco silih berganti memenuhi otaknya, akhirnya Claire memutuskan untuk membalas pesan dari Marco. Kalau Jack sudah bahagia dengan Alya dan calon bayinya, maka Claire bertekad untuk segera melupakan semua kenangan dan perasaannya pada Jack.
Claire: Belum. Aku akan memilihnya bersamamu besok.
Marco: Benarkah?
Claire: Jangan mulai berdebat lagi karena aku bisa berubah pikiran!
Marco: Baiklah, Claire. Besok aku akan menjemputmu di istana.
Claire: Baiklah
Marco: Claire?
Claire: Ya?
Marco: Terima kasih
Claire menghela napas lega, entah kenapa dia melakukan hal itu. Namun, perasaannya sedikit lebih baik saat memutuskan untuk membalas pesan Marco dan menyetujui untuk mempersiapkan berbagai macam hal yang diperlukan menjelang pernikahan mereka.
***
Pagi yang cerah, Marco sudah sampai di istana tepat saat Henry dan keluarganya makan pagi.
“Selamat pagi, semuanya!” sapa Marco.
“Selamat pagi, Marco! Ayo, kita sarapan!” ajak Tyara.
“Ayo, Marco bergabunglah sarapan bersama kami!” sambung Henry.
“Terima kasih, sepertinya aku datang di waktu yang tepat,” Marco berjalan menuju ke kursi makan di samping Claire, “selamat pagi, Sayang.” Marco mengecup lembut pipi Claire.
“Selamat pagi, Marco.” Claire tampak gugup mendapat ciuman dari Marco tapi dia tidak bisa menolak ciuman itu di depan kedua orang tuanya.
“Yang Mulia, hari ini aku minta izin mengajak Claire mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pernikahan kami,” jelas Marco.
“Tentu saja kami mengizinkannya, Marco!” jawab Henry.
“Aku akan mengajak Claire terbang ke Paris, karena aku ingin dia memilih cincin dan mahkota milik keluargaku. Tentu saja kamu boleh merombaknya bila ingin terlihat modern, Claire!” jelas Marco menoleh ke arah Claire.
“Ke Paris? Keluargaku juga punya perhiasan dan mahkota, Marco!” protes Claire.
“Kamu akan menjadi Ratu di kerajaanku, Claire. Sudah seharusnya kamu memakai perhiasan dan mahkota hadiah dariku di hari pernikahan kita.”
“Itu benar, Claire! Mama dulu juga memakai mahkota milik keluarga papamu. Sekarang kamu juga harus memakai mahkota milik keluarga Marco,” jelas Tyara.
“Ya, Claire. Marco dan Mamamu benar. Pergilah, ambilah waktu berdua dengan Marco supaya kalian bisa lebih mengenal.”
“Baiklah, Pa,” jawab Claire kurang bersemangat.
***
Marco dan Claire sudah berada di dalam jet kerajaan milik Marco, mereka akan terbang ke Paris dan menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Waktu yang cukup lama ini ingin dimanfaatkan Marco untuk berbincang dengan Claire.
“Claire, terima kasih sudah mau pergi bersamaku,” kata Marco sambil menggenggam tangan Claire.
“Sudah kupikirkan dan memang sebaiknya begitu, Marco!” Claire menatap mata Marco yang berwarna hitam, tajam, dan menawan itu.
“Kita akan langsung ke istana sesampainya di Paris. Aku akan mengabulkan permintaanmu untuk memilih segala sesuatunya secara online dan akan menghubungi mereka untuk langsung ke istana menemui kita berdua," jelas Marco.
“Oya? Terima kasih, Marco! Aku menghargainya.” Claire memberikan senyuman yang tulus untuk Marco.
“Aku harap, kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik Claire.”
“Aku tidak berjanji, Marco. Kamu tahu hubungan kita hanya sebatas kontrak menikah,” jawab Claire sambil melepaskan genggaman tangan Marco.
“Baiklah, Claire! Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku akan berusaha membuatmu mencintaiku!” jawab Marco sambil kembali meraih tangan Claire dan menggenggamnya erat.
---
Tbc