Marco dan Claire sudah berada di dalam jet kerajaan milik Marco, mereka akan terbang ke Paris dan menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Waktu yang cukup lama ini ingin dimanfaatkan Marco untuk berbincang dengan Claire.
“Claire, terima kasih sudah mau pergi bersamaku,” kata Marco sambil menggenggam tangan Claire.
“Sudah kupikirkan dan memang sebaiknya begitu, Marco!” Claire menatap mata Marco yang berwarna hitam, tajam, dan menawan.
***
Claire kembali menginjakkan kaki di Istana St. Louis Paris. Setahun yang lalu Claire pernah berkunjung di istana ini sebagai wisatawan biasa. Claire diajak oleh salah satu temannya untuk melihat pameran lukisan yang diadakan di Istana St. Louis. Claire sangat antusias karena selain dia menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan seni dia juga ingin membandingkan karya seni dari kerajaan Paris dengan karya seni dari kerajaannya. Saat itulah pertama kali Marco melihat Claire dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Marco tidak bisa berhenti memikirkan Claire walaupun saat itu dia telah memiliki kekasih, seorang model bernama Jennifer Rosemary.
Hari ini Claire kembali memasuki istana Paris, bukan sebagai wisatawan melainkan sebagai calon Ratu di istana itu. Marco mengajak Claire berkeliling, sebelum mereka mengurus segala hal untuk persiapan pernikahan mereka.
“Istanamu tidak sebesar istanaku Marco,” kata Claire saat berjalan berdua dengan Marco mengelilingi istana.
“Itu tidak benar Claire, aku sudah membandingkannya dengan basis data. Istanaku memang hanya memiliki 2 lantai Claire. Tapi lebih luas dari istanamu.”
“Benarkah?” jawab Claire masih belum percaya.
“Nanti aku akan mengajakmu ke hutan istana agar kamu percaya,” jawab Marco.
“Istanamu punya hutan?”
“Ya, ada pedesaan buatan juga. Biasanya dipakai untuk tempat peristirahatan kalau jenuh dengan pekerjaan di istana.”
“Hmm...sepertinya menarik. Tidak ada di istanaku.”
“Ya, St. Michael kan replika dari St. Louis tapi tidak semua bagian dari istana St. Louis berhasil ditiru,” jawab Marco sambil tertawa.
“Jangan sembarangan bicara Marco, itu tidak benar kan?!”
“Sayangnya itulah cerita sebenarnya. Leluhurmu ingin membuat istana yang menandingi istana St. Louis. Istanaku berdiri lebih awal, Claire.”
“Benarkah?? Aku akan mencari tahu apakah yang kamu bicarakan itu benar atau kamu hanya mau mengejek keluargaku??”
“Tidak, aku tidak bermaksud mengejek keluargamu, Claire! Tapi memang leluhurmu ingin membuat istana tandingan.”
“Tunggu sampai aku tahu yang sebenarnya, Marco! Aku pernah masuk istanamu tapi sepertinya tidak begitu luas. Benarkah istanamu lebih besar dari istanaku? Aku tidak percaya!”
“Bagian yang boleh diakses oleh pengunjung memang aku batasi, Claire. Jadi, yang kamu kunjungi itu hanya bagian-bagian kecilnya saja.”
“Kenapa kamu batasi?”
“Banyak perabot dan benda-benda peninggalan kerajaan yang sudah rapuh. Kami masih melakukan beberapa perbaikan. Ayo, kita ke ruang kerjaku!” ajak Marco.
***
Claire mengikuti Marco masuk ke dalam salah satu kompleks apartemen dalam istana. Begitu pintu terbuka terdapat kesibukan di dalamnya. Para staf dan pegawai Marco menyambut Marco dan Claire dengan ucapan selamat datang dan selamat siang. Claire membalas mereka dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Mereka berdua langsung menuju ke ruang kerja Marco di lantai dua. Ruang kerja Marco tidak terlihat bergaya kerajaan, tapi ini benar-benar ruang kerja yang modern. Marco mengajak Claire untuk duduk.
“Pegawaimu banyak,” kata Claire.
“Ya, mereka mengurusi urusan kerajaan dan juga bisnisku.”
Tak berapa lama kemudian terdengar ketukan di pintu ruang kerja Marco, dua orang stafnya membawakan minuman untuk mereka berdua. Dengan sopan mereka mempersilakan Marco dan Claire untuk menikmati sajian lalu undur diri meninggalkan ruangan.
“Apakah orang tuamu atau saudaramu juga akan ikut dalam persiapan pernikahan kita hari ini?” tanya Claire.
Marco terdiam sejenak, “Orang tuaku sudah meninggal, Claire.”
“Oh, maafkan aku Marco, aku..” sesal Claire.
“Tidak apa-apa, kamu memang tidak tahu banyak tentangku. Aku tidak punya saudara. Orang tuaku meninggal saat aku berumur 10 tahun karena kecelakaan pesawat. Saat itu juga aku menjadi Raja didampingi oleh orang kepercayaan ayahku.”
“Kerabatmu yang lain?”
“Kakekku pewaris tunggal, ayahku juga pewaris tunggal. Kerabatnya yang lain tidak ada yang tinggal di istana, jadi selama hampir 30 tahun aku sendirian di istana bersama para pelayan, pengawal, dan pegawai istana.
“Di istana sebesar ini kamu tinggal sendirian??” tanya Claire tidak percaya.
“Iya, Claire.”
“Berapa banyak wanita yang kamu bawa masuk ke istana?” selidik Claire.
“Pentingkah buatmu?” tanya Marco dengan tatapan serius.
“Tidak!” jawab Claire cepat.
“Baiklah, maka tidak akan kujawab.”
Tok...tok...tok... ruang kerja Marco kembali diketuk. Seorang staf perempuan yang sudah cukup tua masuk ke dalam ruang kerja Marco.
“Selamat siang, Yang Mulia. Selamat siang, Putri Claire.”
“Selamat siang,” jawab Claire sopan.
“Selamat siang, Martha. Claire kenalkan ini, Martha. Dia salah satu sekretaris pribadiku, sekretarisku yang satu lagi bernama Kent tapi dia masih mengurus pekerjaan yang lain.”
“Senang berkenalan denganmu, Martha.”
“Saya juga sangat senang, Putri. Akhirnya, Raja kami menemukan wanita yang tepat,” ucap Martha sambil tersenyum bahagia.
“Martha!” Marco memandang Martha dengan tatapan memperingatkan.
“Maafkan saya, Yang Mulia. Yang Mulia saya sudah mengatur kunjungan Anda dan Putri Claire ke ruang penyimpanan perhiasan dan mahkota. Bila sudah siap tolong hubungi saya, saya akan mengantar Anda dan Putri Claire ke sana.”
“Kita akan ke sana sekarang, Martha!” jawab Marco.
“Baiklah Yang Mulia, mari saya antarkan. Mari Putri Claire.”
“Terima kasih, Martha!” jawab Claire cukup senang karena keramahan Martha, dalam hati Claire muncul rasa lega saat mengetahui sekretaris pribadi Marco tidak seperti yang dibayangkannya muda, cantik, dan seksi.
Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang penyimpanan perhiasan dan mahkota istana. Beberapa kali mereka melewati pintu baja yang baru terbuka setelah alat keamanan memindai mata, jari tangan, dan juga postur tubuh Marco. Sampai akhirnya mereka melewati lorong menuju ruang bawah tanah. Pemindaian yang sama berlaku saat pintu terakhir menuju ruang penyimpanan harta istana itu akan dibuka. Mereka memasuki ruangan yang sangat luas, mirip museum. Marco mengajak Claire masuk ke dalam salah satu kamar khusus yang memajang cincin kerajaan. Claire ternganga dibuatnya.
“Pilihlah yang kamu suka Claire, setelah kamu memilihnya aku akan memanggil pengrajin perhiasan istana untuk mengubah cincin pilihanmu menjadi lebih modern bila kamu menginginkannya.”
Claire memandang Marco. Claire menyadari betapa seriusnya Marco padanya. Apalagi saat berjalan menuju ke tempat ini, Martha sempat membisikkan bahwa Marco tidak pernah membawa seorangpun masuk ke ruang penyimpanan perhiasan dan mahkota istana ini.
“Claire? Pilihlah!” Marco membuyarkan lamunan Claire.
“Oh, iya baiklah aku akan memilihnya.”
Akhirnya, setelah melihat-lihat dan mempertimbangkan dengan baik pilihan Claire jatuh ke salah satu cincin yang tersimpan di sebuah kotak kayu. Cincin berlian white gold itu memiliki berlian berbentuk emerald dan tambahan 2 potong berlian persegi panjang di kedua sisinya.
Marco terdiam sejenak, “Benarkah itu pilihanmu?”
“Iya, kalau kamu mengizinkannya,” jawab Claire.
“Tentu saja aku mengizinkannya. Itu cincin pertunangan ibuku dan sekarang akan menjadi milikmu.”
“Oh, maafkan aku Marco. Aku akan mengganti pilihanku kalau kamu keberatan.”
“Tidak, tidak! Kenapa aku harus keberatan?”
“Itu milik ibumu, aku hanya istri sementaramu,” jawab Claire sambil menatap Marco.
“Pakailah, itu pilihanmu. Nanti aku akan memanggil pengrajin perhiasan untuk membuatnya terlihat modern.”
“Tidak perlu, Marco! Ini sudah sangat istimewa. Aku akan langsung memakainya saja tidak perlu diubah.”
“Baiklah, nanti biar Martha yang mengurusnya untuk hari pernikahan kita. Kalau kamu tidak keberatan cincin ini punya pasangan mahkota yang cocok, kamu bisa memakainya.”
“Baiklah aku akan memakai mahkota pasangan cincin ini.”
Mereka keluar dari ruangan itu lalu Marco menyerahkan cincin dan mahkota pilihan Claire kepada Martha untuk dipercantik agar lebih berkilau oleh ahlinya. Berikutnya Marco mengajak Claire untuk makan siang berdua di istana.
“Kalau kamu lelah, kita bisa menginap semalam di sini lalu kembali ke Querencia besok, Claire!”
“Tidak Marco sebaiknya kita selesaikan semuanya hari ini.”
“Baiklah, Claire kalau itu maumu.”
***
Marco dan Claire menuju ke ruang keluarga, Martha dan seorang sekretaris laki-laki bernama Kent sudah menunggu mereka di ruangan itu. Mereka menyiapkan smart TV layar lebar untuk memudahkan Claire memilih gaun pengantin, buket bunga, dan kue pernikahan. Sedangkan keperluan lain Claire menyerahkan sepenuhnya pada Marco. Setiap kali Claire selesai memilih keperluannya, Martha segera menghubungi perwakilan brand tersebut untuk segera datang ke istana. Satu per satu dari mereka datang ke istana untuk mempresentasikan produk dan membuat kesepakatan dengan Claire. Akhirnya, gaun pengantin, buket bunga, dan kue pengantin telah dipilih oleh Claire.
“Marco, kalau kamu masih sibuk biar aku pulang sendiri ke Querencia,” jelas Claire saat melihat Marco masih sibuk dengan Kent.
“Tidak Claire, aku akan mengantarmu. Kent akan ikut kita ke Querencia supaya aku bisa mengatur segala sesuatunya saat berada di sana.”
***
Mereka sudah kembali berada di dalam jet pribadi menuju ke Querencia. Marco masih sibuk meeting dengan Kent mempersiapkan pernikahan. Claire melihat betapa seriusnya Marco mempersiapkan semua ini, pasti berat bagi Marco yang sudah tidak memiliki keluarga harus mempersiapkan pernikahannya seorang diri. Tiba-tiba muncul rasa bersalah dalam diri Claire, dia sempat tidak peduli dengan persiapan pernikahan mereka dan membuat Marco marah padanya. Claire sadar mempersiapkan pernikahan dalam 2 minggu bagi seorang raja bukanlah hal yang mudah. Sudah pasti Marco akan mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut pernikahannya karena pernikahan mereka akan ditonton oleh ratusan juta pasang mata di seluruh dunia.
---
Tbc