12. Claire dan Alya

1502 Kata
Claire dan Marco tiba di Querencia malam harinya setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 4 jam. Marco langsung mengantarkan Claire ke istana dan menyerahkan Claire pada Whitney, pengawal pribadi Claire. “Claire, terima kasih karena kamu mau memberikan perhatian pada persiapan pernikahan kita. Aku sangat menghargainya,” ucap Marco. “Sama-sama, Marco. Aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau mengabulkan permintaanku,” jawab Claire. Marco segera berpamitan dan melajukan mobilnya ke hotel tempat biasanya Marco menginap. *** Querencia pagi ini sedikit mendung, Claire bergegas menuju ke perpustakaan di lantai 3. Wajah Claire tampak tegang, karena pagi ini dia menerima pesan singkat dari Alya yang mengatakan bahwa Alya ingin bertemu dengannya di perpustakaan istana. Claire membuka pintu perpustakaan dan melihat Alya hanya seorang diri di dalam perpustakaan. Alya sedang sibuk merapikan buku-buku di perpustakaan. “Alya!” Claire memanggil nama Alya dan membuat sang empunya nama terkejut. “Oh, Claire! Rupanya kamu sudah datang. Silakan duduk, Claire.” Alya merapikan kursi supaya mereka berdua merasa sedikit nyaman. Claire dan Alya duduk berhadap-hadapan dibatasi sebuah meja di depan mereka. Claire memandang Alya yang tampak sedikit gugup, sedangkan Claire tampak waspada dengan apa yang akan dikatakan oleh Alya. Sudah lama Claire tidak berbicara dengan Alya yang memang selalu berusaha menghindarinya. Namun, pagi ini Claire terpaksa harus bertemu dan berbicara dengan Alya. “Terima kasih Claire, kamu sudah mau datang menemuiku.” “Ada perlu apa, Alya?” tanya Claire. “Claire, aku rasa banyak hal yang harus kita bicarakan.” “Baik, aku akan mendengarkan.” “Claire, ingatkah kamu? Saat itu kamu berumur 5 tahun sedangkan aku berumur 11 tahun. Saat itu aku melihatmu sedang membaca buku cerita yang aku yakini adalah milikku. Buku cerita kesukaanku, cerita tentang putri raja dari negeri dongeng.” “Astaga, Alya! Haruskah aku mengingat kejadian belasan tahun yang lalu? Maaf Alya, aku sudah tidak ingat!” “Aku sangat kesal karena kamu telah mengambil milikku. Aku melihat kamu membolak-balik bukunya dengan kasar padahal aku sangat hati-hati saat membaca buku itu,” lanjut Alya, “aku menarik buku itu, tapi kamu bisa mempertahankannya. Saat itu aku berpikir karena itu adalah bukuku maka lebih baik aku merobeknya daripada kamu memilikinya. Buku cerita itu sobek. Kamu menangis meraung-raung sehingga semua pengawal dan penjaga berlarian ke arah kita. Mereka mengira aku telah melakukan kejahatan padamu!” “Aku benar-benar tidak ingat, Alya!” tegas Claire. “Aku menjelaskan pada semua orang termasuk pada Raja dan Ratu bahwa itu adalah bukuku dan aku berhak merobeknya. Tapi tidak ada yang mendengarkanku. Semua menyalahkan aku karena telah merobek bukuku sendiri. Bahkan Ratu dengan keras memperingatkanku bahwa itu adalah bukumu, Raja yang membelikannya untukmu.” “Aku rasa wajar kalau Ratu memperingatkanmu, kamu telah merobek buku yang bukan milikmu!” jawab Claire. “Aku masih meyakini itu adalah buku cerita milikku. Kenapa kamu selalu diperlakukan istimewa?” “Aku tidak merasa seperti itu,” jawab Claire. “KAMU MENGAMBIL MILIKKU, CLAIRE!” Alya berteriak sambil menggebrak meja dihadapannya dan bibirnya bergetar menahan amarah. “Alya kamu sudah gila!” Claire berdiri menjauhi Alya. “Kamu mengambil bukuku, kamu mengambil Alice saudaraku, dan sekarang kamu mengambil Jack dariku!” “Itu semua tidak benar! Alice memang lebih senang bermain bersamaku karena kamu egois Alya! Kamu selalu ingin tampil paling sempurna dan selalu menjelek-jelekkan Alice! Lalu, Jack? Aku tidak mengambilnya darimu! Kamu yang bertingkah seperti w************n tiap kali ada Jack! Kamu yang merebutnya dariku!” “Aku mengenal Jack sejak kecil, aku lebih dulu mencintainya! Aku menyuruhnya untuk bekerja di istana supaya kami bisa lebih dekat! Tapi kamu! Kamu sang putri raja yang manja selalu saja mendapatkan apa yang aku inginkan!” “Alya, dengar! Aku rasa pembicaraan ini tidak ada gunanya!” “Dia melihatmu saat keluar dari supermarket dan mengejarmu walaupun sudah aku halangi! Aku sampai memohon-mohon padanya! Merendahkan harga diriku, berlutut di lantai agar dia tidak mengejarmu!” tangis Alya meledak, “padahal sebelumnya dia memperlakukan aku dengan sangat manis! Tapi begitu melihatmu semua berubah, Claire!” Claire terdiam, dia mengingat kembali kejadian di supermarket tempo hari. Memang benar apa yang dikatakan Alya. Jack memang memperlakukan Alya dengan sangat manis, bahkan membuat Claire cemburu. Claire tidak menyadari bahwa saat itu Jack melihatnya bahkan sempat mengejarnya, karena Claire memang berlari cukup kencang saat itu. Seingat Claire, setelah berlari cukup jauh Claire berhasil memanggil taksi yang membawanya kembali ke istana. “Alya, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Jack! Bukan salahku kalau dia masih mencintaiku!” “Kamu sebaiknya segera pergi dari istana ini, Claire!” “Alya! Lancang sekali kamu bicara seperti itu padaku! Kamu yang seharusnya pergi dari istanaku! Kamu seharusnya berterima kasih padaku karena aku tidak melaporkan perbuatan m***m kalian pada Raja! Kalian menodai istana ini!” Claire meluapkan amarahnya lalu keluar meninggalkan Alya. Alya mengejar Claire karena khawatir Claire akan melaporkannya pada Raja. Alya menarik tangan Claire dan memuntirnya sampai Claire merintih kesakitan. Di saat yang bersamaan Jack muncul melihat kejadian itu, Jack berlari memisahkan Claire dan Alya. “ Alya! Hentikan! Apa yang kamu lakukan!” teriak Jack pada Alya sambil meraih tangan Claire dari cengkeraman Alya. “Jack?” Alya terkejut melihat Jack muncul dan menolong Claire. “Jack, tolong beritahu pada calon istrimu ini! Jangan pernah menggangguku lagi! Aku tidak peduli pada kalian berdua!” kata Claire sambil mengibaskan tangan Jack yang menggenggam tangannya. *** Claire sedang diobati lukanya oleh Whitney karena kuku tangan Alya menggoreskan luka di pergelangan tangan Claire sampai berdarah. Ratu Tyara tampak tergesa-gesa berlari menuju ke kamar Claire. “Claire? Ada apa!” Ratu Tyara panik melihat luka di tangan Claire. “Putri Claire berselisih dengan Nona Alya, Yang Mulia! Nona Alya menyerang Putri,” jawab Whitney sambil menempelkan perban pada luka Claire yang telah diobati. “Whitney, mulai sekarang tolong perketat pengawalan untuk Putri Claire! Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi! Raja Henry bisa marah besar kalau mengetahuinya!” “Baik, Yang Mulia. Maafkan saya karena lengah dalam mengawasi Putri Claire,” jawab Whitney penuh penyesalan. “Baiklah Whitney, tolong tinggalkan kami berdua.” “Baik, Yang Mulia. Saya mohon pamit undur diri.” “Terima kasih, Whitney!” jawab Claire. *** “Claire, bagaimana ini bisa terjadi?!” “Alya mengirimiku pesan dan meminta bertemu, Ma!” “Apa yang dia inginkan darimu, Claire?” tanya Ratu sambil mengelus tangan Claire yang diperban. “Dia bicara tentang buku cerita yang disobek, tentang aku merebut Alice, dan tentang Jack!” jelas Claire. Ratu tampak marah, “Dia masih mengungkit tentang buku cerita itu?” “Iya, Ma. Apa sebenarnya yang terjadi, Ma? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.” “Buku itu milik Alya. Saat kalian sedang bermain bersama, Alice membacakan buku cerita itu untukmu dan kamu menyukainya. Seperti biasa kamu meminta Papa untuk membelikannya. Saat Papa sudah membelikannya dan kamu membacanya, Alya mengira kamu mengambil buku miliknya. Dia merebut dan merobek buku itu. Mama memarahinya karena tidak seharusnya dia merobek buku itu. Seandainya itu benar bukunya, dia seharusnya juga tidak perlu merobek buku itu.” “Apakah dia sudah tidak menyukaiku sejak kecil, Ma?” tanya Claire. “Alya anak yang pintar, sejak kecil dia senang menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca buku. Sampai suatu hari dia menemukan buku yang menjelaskan bahwa Frederick, ayahnya, menyerahkan kekuasaannya pada Papamu. Dari situ dia tidak bisa menerima kenyataan, dia pernah berkata pada Mama dalam kemarahannya bahwa seharusnya dialah yang jadi Putri Raja. Sejak saat itu dia tidak menyukaimu karena menurut Alya kamu merebut posisinya.” “Tapi Ma, bukankah pewaris sah tahta Querencia memang Papa?” “Ya, seharusnya Frederick dan Oma Alana sudah menceritakannya. Dengar Claire, walaupun dia adik tiri Mama, tapi Mama tidak akan pernah membiarkannya melukaimu lagi!” tegas Ratu. “Jangan khawatir, Mama. Tadi dia sempat bilang supaya aku bisa segera pergi dari istana ini dan aku memang akan pergi, kan?” “Ya, kamu akan pergi untuk menjadi Ratu, Sayang! Bukan pergi karena diusir Alya!” “Ma? Apakah tidak sebaiknya Alya tinggal di luar istana? Dia memiliki obsesi yang berbahaya!” “Sebenarnya tidak sebahaya itu Claire, tapi Papamu sudah membicarakan dengan Mama, setelah mereka menikah, Papa akan mengirim Jack untuk bertugas di kota lain supaya Alya mengikuti Jack.” “Oh, begitu?” jawab Claire sedikit terkejut. “Claire? Mama berharap, kamu sudah tidak memikirkan Jack lagi! Marco seribu kali lebih baik daripada Jack. Mama dan Papa akan tenang kalau kamu bisa menikah dengan Marco.” “Ma? Papa dan Mama menginginkan aku menikah dengan Marco bukan karena kerajaan kita akan jatuh miskin, kan?” “Mengapa kamu berpikir seperti itu, Claire?!” Tyara mengerutkan dahinya. “Marco sangat kaya, Ma. Aku sempat berpikir aku dijodohkan demi hartanya.” Tyara tertawa, “Claire, ingatlah bahwa kami tidak menjodohkanmu. Marco yang melamarmu. Kalau kamu setuju menerimanya itu akan menjadi hubungan yang baik untuk kedua kerajaan. Kalaupun waktu itu kamu memutuskan tidak menerimanya, kami juga tidak akan memaksa.” “Iya Ma, aku tahu. Memang akulah yang memutuskan untuk menikah dengan Marco,” jawab Claire. --- Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN