Claire meletakkan kepalanya di pangkuan Tyara. Ratu menyadari bahwa putrinya ini sedang dalam perasaan yang kacau. Tyara tahu bahwa putrinya pernah mencintai Jack, namun ada hal yang membuat Claire membenci Jack hingga menerima lamaran Marco. Tyara membelai lembut rambut putri kesayangannya.
"Memang akulah yang memutuskan menikah dengan Marco," ucap Claire sekali lagi.
“Ya, kamu harus mengingat itu seumur hidupmu. Oya, Sayang satu hal yang harus kamu tahu, kerajaan kita tidak akan jatuh miskin. Bagaimana kamu bisa punya pikiran seperti itu, Claire?”
Claire terkekeh, “Hanya pemikiranku saja, Mama. Aku yakin Papa dan Mama berusaha keras untuk memajukan kerajaan kita.”
“Baiklah Claire, sebaiknya kamu beristirahat,” pesan Tyara sambil membelai rambut Claire putri kesayangannya.
***
Ratu Tyara berjalan melewati lorong istananya yang megah, pandangan Ratu fokus ke depan. Wajahnya menyiratkan kemarahan, langkah kakinya semakin cepat menuju ke apartemen keluarga Frederick di lantai 3 istana ini. Sambil memegang sebuah buku, langkah Sang Ratu seolah tak bisa dihentikan oleh siapapun.
Tyara duduk sambil menatap Alya. Sedangkan Alana dan Frederick tampak bingung dengan kedatangan Ratu Tyara yang tiba-tiba ke apartemen keluarga mereka.
“Alya, kalau kamu masih mempermasalahkan buku cerita masa kecil yang kamu akui sebagai milikmu maka aku akan membuat semuanya lebih jelas hari ini!” Tyara menatap mata Alya dengan tajam.
Alya menundukkan kepalanya, Alya sudah menduga hari ini dia akan terkena masalah setelah kejadian pertengkarannya dengan Putri Claire. Alya hanya bisa menunggu, apa tindakan yang akan dilakukan Ratu kepadanya.
“Ratu, ada apa ini?” tanya Frederick menengahi.
“Anakmu, sekaligus adikku ini telah melakukan perbuatan yang membahayakan Putriku,”
“Ada apa, Tyara?” tanya Alana ikut panik.
“Alya membuat pergelangan tangan Putri Claire berdarah dan aku tidak akan tinggal diam!”
“Alya, benarkah itu?” tanya Alana tidak percaya.
“Alya, apa yang kamu lakukan?!” Frederick membentak Alya.
“Maafkan aku, Ratu. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa marahku pada Putri Claire!” jawab Alya.
“Kenapa kamu marah pada Putri Claire?! Soal buku cerita ini??” Tyara menyodorkan buku cerita bersampul warna keemasan itu ke arah Alya dangan cukup kuat hingga membuat Alya terdorong mundur dari duduknya.
“Aku tidak mengerti, Yang Mulia,” jawab Alya kebingungan sambil melihat buku tebal dihadapannya.
“Ini adalah buku cerita pengantar tidur yang isinya menceritakan tentang putri-putri kerajaan di negeri dongeng. Aku yakin kamu mengenal buku ini dengan baik,” jelas Tyara.
“Iya, Ratu. Saya mengenal buku ini. Memang sudah lama saya tidak melihatnya sejak kejadian belasan tahun yang lalu. Tapi saya tidak akan pernah melupakan buku milik saya,” jawab Alya.
“Pernah ada coretan tangan di buku cerita milikmu, Alya?”
“Seingat saya tidak, Ratu.”
“Sama sekali tidak??” tanya Tyara serius.
“Tidak, karena saya sangat berhati-hati memperlakukan buku ini.”
“Baik, aku kunci kata-katamu. Buka halaman terakhir!” perintah Ratu.
Alya memandang Ratu Tyara, walaupun tidak mengerti dengan maksud ucapan Ratu namun Alya melakukan apa yang diperintahkan Ratu kepadanya.
Wajah Alya pucat saat membuka buku itu, “Ini...”
“Ya, itu bukan milikmu. Buku itu dipesan khusus oleh Raja untuk Putri Claire. Raja meminta ada tambahan satu halaman yang menampilkan cerita singkat tentang putrinya. Halaman terakhir itu ditandatangani oleh penulisnya.”
“Jadi, Anda tahu ini bukan buku milik saya?” tanya Alya sedikit kesal.
“Buku yang sama tapi sayang sekali itu bukan milikmu, Alya! Kamu telah salah membenci Putri Claire sejak kecil! Aku pernah memberitahu bahwa ini bukan bukumu, tapi kamu marah dan mengatakan kalau seharusnya kamulah yang menjadi Putri Raja dan bukan Claire! Sejak itu buku ini aku simpan karena aku tidak mau Putri Claire mengingat-ingat kejadian perobekan itu!”
“Aku... aku... ” Alya berkaca-kaca dan kelihatan sangat malu di depan Ratu.
“Jangan pernah mengganggu Putri Claire lagi, Alya! Oya, satu lagi menyangkut Jack, Putri Claire tidak mencintai Jack jadi jangan salahkan Putri Claire kalau Jack masih mencintai Putri Claire!”
Ratu Tyara pergi meninggalkan apartemen keluarga Alya setelah Frederick meminta maaf pada Ratu atas kelakuan Alya. Sedangkan Alana duduk terdiam di tempat duduknya, Alana kelihatan bersedih atas tindakan Ratu Tyara yang memberi peringatan pada Alya.
***
Frederick duduk sambil memandang istri dan putrinya yang sedang terdiam di ruang keluarga.
“Alya, kenapa kamu menyerang Putri Claire?” tanya Frederick.
Alya hanya terdiam.
“Jawablah, Alya!” bentak Frederick.
“Fred! Jangan bentak dia!” Alana membela putrinya.
“Tindakannya sudah di luar batas, Alana! Aku hanya ingin tahu alasan Alya mengapa dia sampai berani-beraninya menyerang Putri Claire!”
“Maafkan aku, Papa! Tapi aku punya alasan sendiri!” jawab Alya.
“Alasan apa?!” tanya Frederick.
“Dia selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Papa!” Alya berkaca-kaca.
“Alya!” Frederick memperingatkan Alya.
“Itu benar! Dia merebut posisiku sebagai putri raja! Dia merebut buku ceritaku! Dia merebut saudaraku! Dia juga merebut laki-laki yang sangat aku cintai, Pa!” Alya berteriak histeris.
“Alya! Ingatlah kamu bukan keturunan Raja!” Frederick menjadi sangat emosi.
Alana hanya bisa menangis melihat pertengkaran antara ayah dan anak itu tanpa sanggup menengahinya.
“Papa adalah Raja, sampai Papa memberikan tahta Papa pada Raja Henry!”
“Tapi Papa bukan keturunan sah dari penguasa negeri ini! Papa memang terlahir dari seorang Ratu, namun Ratu Margareth telah melakukan kejahatan dengan membohongi Raja Edward! Ayahku bukan Raja Edward! Ayahku adalah rakyat biasa!” jelas Frederick.
Alya terisak, sebenarnya dia sudah mengetahui kenyataan ini. Frederick sudah seringkali mengingatkan Alya tentang kisah ini. Namun, Alya tetap saja tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Dalam benaknya, kalau dia adalah putri raja, apa yang diinginkannya pasti akan lebih mudah tercapai. Termasuk mendapatkan cinta dari Jack pasti akan lebih mudah buatnya.
“Papa tahu buku cerita itu hanya kamu jadikan tameng untuk membenci Putri Claire, Alya! Kamu harus mengingat-ingat kembali dimana kamu simpan buku ceritamu!” ucap Frederick sambil berdiri meninggalkan Alya dan Alana di ruang keluarga.
***
Flashback On
Alya yang berusia 11 tahun mengendap-endap menuju ke apartemen keluarga Raja, kebetulan apartemen raja sedang dibersihkan oleh pelayan-pelayan sehingga pintu-pintunya sedang dibiarkan terbuka. Walaupun ada pengawal, namun Alya adalah bagian dari istana maka pengawal tidak mencurigai kedatangannya ke apartemen raja.
Alya bersembunyi di balik pilar besar saat melihat Putri Claire kecil sedang duduk bermanja di pangkuan Raja Henry.
“Papa, aku ingin buku seperti milik Alya. Apakah Papa mau membelikannya untukku?” tanya Claire.
“Buku apa yang seperti milik Alya?” tanya Raja Henry.
“Buku cerita pengantar tidur, Pa! Isinya tentang kisah para putri di negeri dongeng!”
Putri Claire berbinar-binar saat menjelaskan buku yang dimaksudnya itu.
“Kalau Papa membelikannya untukmu, apakah kamu mau belajar membaca lebih rajin lagi?” tanya Raja Henry.
“Tentu saja, Pa! Claire akan membaca lebih rajin supaya bisa membacakan cerita pengantar tidur itu untuk Papa!” jawab Claire menggemaskan.
Raja Henry tertawa mendengar jawaban putri kecilnya yang saat itu berusia 5 tahun. Di balik pilar, Alya tampak kesal. Alya sangat marah dan dalam hati dia berkata bahwa Alya tidak akan membiarkan Claire memiliki buku yang sama dengannya.
Alya Kembali ke apartemennya, lalu membungkus buku cerita pengantar tidurnya dengan kain. Alya menyembunyikan buku cerita itu dibalik mantelnya dan berlari menuju ke kebun istana. Sesampainya di kebun istana, Alya menggali tanah dan mengubur buku cerita itu di sana. Alya memikirkan sebuah rencana untuk merebut buku milik Claire dan merobeknya.
Di hari pertama saat Putri Claire mendapatkan buku cerita baru hadiah dari Raja Henry, Alya memprovokasi pelayan-pelayan dan juga Alicia bahwa Putri Claire telah mencuri bukunya. Putri Claire yang merasa tidak bersalah, akhirnya merebut kembali bukunya yang diambil oleh Alya. Saat kejadian tarik menarik buku terjadi antara Putri Claire dan Alya, akhirnya buku itu robek. Putri Claire menangis meraung-raung karena tidak terima bukunya dirobek oleh Alya. Semua pengawal, pelayan, termasuk Raja dan Ratu berlarian mendatangi Putri Claire. Saat Raja dan Ratu mengetahui bahwa buku Claire telah dirobek, Raja Henry langsung menggendong Claire dan membawanya masuk ke dalam apartemen mereka. Ratu mengambil buku cerita itu dan melihat bagian belakang buku, Ratu langsung mengenali bahwa itu memang buku Putri Claire. Ratu memarahi Alya dan memberi tahu bahwa itu bukanlah buku milik Alya. Sejak saat itu hubungan antara Ratu Tyara dan Alana menjadi renggang karena masing-masing membela putrinya.
Flashback Off
---
tbc