“Apa?!!”
Putri Claire yang baru saja terbangun dari tidurnya menerima sambungan telepon yang membuatnya sangat terkejut, salah satu asisten meminta Claire untuk segera terbang ke Paris karena ada masalah dengan butik milik Claire yang akan segera diresmikan pembukaannya.
“Baiklah, aku akan segera berangkat ke Paris pagi ini juga!”
Claire segera bangkit dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat ke Paris pagi ini. Claire sengaja tidak memberitahu Marco, Claire tidak ingin melibatkannya dalam masalah ini.
***
Claire tiba di bandara internasional Paris setelah berada kurang lebih lima jam dalam jet kerajaan. Claire mendapatkan kabar bahwa pembukaan butiknya harus diundur karena sesuatu hal. Claire tidak bisa menunda pembukaan butiknya karena dia tidak mau butiknya dibuka setelah dia menikah dengan Marco. Claire tidak mau memanfaatkan tahta Marco untuk pembukaan butiknya.
Setibanya di butik miliknya, Claire segera menemui asistennya. Gaby, asisten Claire sudah menyambut Claire di depan pintu masuk butiknya.
“Ada masalah apa, Gaby? Sampai kamu memintaku untuk datang.”
“Maafkan saya, Putri Claire. Tapi Anda harus melihatnya secara langsung!” jawab Gaby.
Gaby mengajak Claire untuk masuk ke dalam showroom tempat gaun-gaun rancangan eksklusif milik Claire dipajang.
Claire sangat terkejut saat melihat showroomnya berantakan, gaun-gaun rancangannya banyak yang dirusak, dan kaca-kaca dipecahkan. Claire mendadak berkunang-kunang dan kepalanya terasa sangat berat. Gaby menopang tubuh Claire saat melihat Claire mulai terhuyung. Gaby memapah Claire menuju ke ruang kerja Claire dan memberinya segelas air.
“Bagaimana ini bisa terjadi Gaby?” Claire memijit-mijit pelipisnya.
“Saya tidak tahu, Putri. Pagi hari saat para pegawai datang mereka melaporkan kepada saya bahwa kondisi butik sangat berantakan, mereka mengirimi saya beberapa foto. Saat tiba di sini, memang kondisi showroom lantai dua sangat kacau.”
“Sudah cek rekaman CCTV?”
“Mereka merusaknya, saya juga tidak dapat mengaksesnya lewat ponsel saya. Apakah kita akan melaporkannya pada pihak yang berwenang, Putri?”
“Iya, Gaby! Perintahkan anak buahmu untuk melaporkan kejadian ini pada polisi!”
Claire benar-benar merasakan kepalanya sangat berat, wajah Gaby lama-lama memudar dari pandangannya.
“Claire??”
Tiba-tiba suara berat dari seorang pria mengagetkan Claire dan Gaby
“Marco? Sedang apa kamu di sini?” tanya Claire seolah tidak percaya Marco sudah berada di depan mata.
“Bisakah tinggalkan kami berdua?” pinta Marco pada Gaby.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Gaby terbelalak saat tersadar bahwa Sang Raja mengajaknya berbicara.
“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini, Marco?” tanya Claire panik.
“Itu tidak penting, Claire! Aku sudah menyuruh pengawalku untuk mengurus semua!” jawab Marco sambil melihat kekacauan di luar ruang kerja Claire.
“Itu tidak perlu, Marco. Sebenarnya baru saja kami akan mengurusnya sendiri.”
“Jangan meremehkan perusakan ini, Claire! Ini bukan pencurian atau perampokan, ini teror!” jelas Marco.
Claire memegangi kepalanya yang sangat berat, dunianya seakan berputar lebih cepat, matanya bahkan sudah tidak bisa dibuka lagi.
“Marco, bisakah kamu mengantarku ke apartemenku? Aku merasa kepalaku sangat pening.”
Marco terkejut melihat Claire yang sedang memegangi kepala sambil memejamkan mata. Marco membopong Claire menuju ke mobil, wajah Claire sangat pucat dan tubuhnya lemas. Di dalam mobil Marco melakukan beberapa panggilan telepon meminta dokter untuk datang ke istananya, meminta pelayan menyiapkan kamar untuk Claire di apartemen istana, dan meminta Martha untuk membeli beberapa baju dan keperluan Claire selama di istana. Sesampainya di istana Marco kembali membopong Claire yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukannya. Kedatangan Marco disambut oleh Martha dan dokter pribadi Marco. Marco membaringkan Claire di tempat tidur.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Marco setelah dokter memeriksa keadaan Claire.
“Putri Claire baik-baik saja, Yang Mulia. Beliau hanya shock dan tertekan saja. Saya akan memberikan resep supaya keadaannya membaik.”
“Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama, Yang Mulia. Saya mohon pamit.”
“Mari saya antarkan ke depan, Dokter.”
***
Mata Claire mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, Claire melihat seorang wanita paruh baya tersenyum ke arahnya.
“Selamat pagi, Putri Claire! Saya senang Anda sudah bangun.”
“Apa? Selamat pagi? Aku di mana? Kamu Martha?” Claire kebingungan.
“Iya benar, Putri Claire! Saya Martha. Putri, sebaiknya Anda minum dulu.” Martha membantu Claire duduk di pembaringannya dan menyodorkan segelas teh hangat untuk Claire.
“Martha, aku ada di mana?” tanya Claire bingung.
“Anda berada di istana St. Louis, Putri.”
“Istana? Marco tidak membawaku ke apartemenku?” tanya Claire lagi.
“Tidak, Yang Mulia membawa Anda ke istana. Apakah Anda lapar Putri Claire? Saya sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Anda.”
“Iya, Martha. Aku sangat lapar.”
“Itu wajar, Anda tidak sadarkan diri sejak kemarin sore dan baru bangun pagi ini,” jawab Martha sambil membawakan satu nampan penuh berisi berbagai makanan dan jus buah untuk Claire.
Claire langsung menyantap berbagai makanan yang disiapkan Martha. Claire memandang Martha yang sedang tersenyum geli memperhatikan dirinya yang sedang makan.
“Maaf Martha aku sangat lapar,” ucap Claire sambil tersenyum.
“Selamat makan, Putri. Saya akan memanggilkan Yang Mulia, karena tadi beliau berpesan supaya diberitahu saat Anda sudah bangun.”
“Terima kasih, Martha! Atas sarapannya yang sangat lezat,” jawab Claire sambil tersenyum ke arah Martha.
Martha mengangguk dan membalas senyum Claire. Tak berapa lama Martha kembali masuk bersama Marco.
“Claire? Bagaimana keadaanmu?”
Marco duduk di samping Claire sambil memperhatikan makanan di atas nampan yang sudah bersih tak bersisa, Marco tersenyum senang melihat kekasihnya dalam keadaan sehat.
“Aku baik-baik saja, Marco. Seingatku, aku memintamu mengantarkan aku ke apartemenku bukan?”
“Kondisi tidak aman, Claire. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu.”
“Bagaimana butikku?” tanya Claire penasaran.
“Polisi sudah mengurusnya, untuk sementara kita tidak bisa ke sana karena polisi sedang mengamankan tempat itu.”
Claire menghela napasnya, Claire terlihat sangat sedih dengan perusakan butiknya. Marco tahu benar, Claire menyiapkan butik itu dengan sungguh-sungguh karena menginginkan hasil yang sempurna.
“Jangan memikirkan tentang butikmu dulu, Claire. Saat ini kesehatanmu yang paling penting!” nasehat Marco.
“Aku sungguh tidak habis pikir kenapa mereka merusak butikku, Marco?”
“Jangan khawatirkan tentang hal itu. Aku pasti akan menangkap pelakunya! Tidak akan kubiarkan mereka melakukan kejahatan di negeri yang aku perintah!”
Claire melihat kesungguhan dalam ucapan Marco. Claire tidak akan mempertanyakan keseriusan Marco dalam menyelesaikan masalah ini. Marco pasti lebih tahu bagaimana mengatasinya.
“Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, Marco.”
“Kamu membutuhkan sesuatu, Claire?”
“Oh, ponselku. Aku harus menghubungi keluargaku!” Claire menoleh ke kanan kiri untuk mencari tas tempatnya menyimpan ponsel.
“Jangan khawatir. Besok Raja Henry dan Ratu akan kemari. Aku sudah mengabari mereka kalau terjadi masalah di sini. Tapi hari ini orang tuamu ada tamu kerajaan Claire, jadi mereka baru akan kemari besok.”
“Aku merepotkan banyak orang.”
“Ya, kamu baru menyadarinya? Tanpa memberitahuku dan tanpa pengawalan Whitney kamu terbang ke Paris sendirian! Claire dengar, butikmu diteror orang. Kamu harus selalu dalam pengawalan. Jangan membantah kali ini!” tegas Marco.
“Tidak perlu berlebihan, Marco! Aku baik-baik saja.”
“Jangan keras kepala! Sekarang istirahatlah. Martha akan menemanimu.”
Claire menghela napasnya, “Martha tidak bekerja? Aku tidak perlu ditemani, Marco! Aku baik-baik saja!”
“Martha bekerja, ini pekerjaannya. Bukankah menyenangkan pekerjaanmu ini, Martha? Duduk manis sambil menemani calon istriku.”
“Tentu saja, Yang Mulia!” jawab Martha sambil tertawa.
Claire tampak kesal karena diperlakukan berlebihan, namun hatinya luluh seketika saat melihat Marco tersenyum. Laki-laki yang baru saja masuk dalam lingkaran kehidupannya itu memang sangat tampan dan menawan.
---
Tbc