15. Raja yang Kesepian

1552 Kata
Sebelum Marco kembali bekerja dan mengurus segala tugasnya sebagai raja. Marco menitipkan Claire pada Martha. Martha diberi tugas oleh Marco untuk menemani Claire di dalam kamar. Marco tidak ingin Claire sendirian di dalam kamarnya. “Aku akan meninggalkanmu bersama Martha, Claire.” "Kamu merepotkan Martha saja, Marco!" "Tidak, Sayang... tenang saja." Marco tersenyum, Marco sangat menawan. “Kamu harus bersabar menghadapinya, Martha. Dia memang cantik tapi keras kepala dan pemarah,” kata Marco tersenyum sambil melirik Claire sedangkan Martha tertawa-tawa. “Marco!” spontan Claire melempar bantal ke arah Marco. “Wow... jangan marah, Sayang!” Marco menahan tawa sambil menghindari lemparan Claire, “aku menitipkannya padamu, Martha. Di luar kamar ada penjaga, kalau ada apa-apa segera panggil penjaga!” “Baik, Yang Mulia. Putri Claire akan aman bersama saya,” jawab Martha menenangkan Marco. “Jangan merepotkan Martha, Sayang. Aku akan mengurus butikmu dan pernikahan kita.” “Ya, ya Marco! Sudah sana pergilah!” “Kamu tidak mau menciumku?” goda Marco. Claire melotot dan bersiap melemparkan bantal lagi, Marco tertawa melihat tingkah Claire kemudian meninggalkan Claire bersama Martha di kamar. *** “Martha? Maaf jadi merepotkanmu, pasti kamu bosan hanya menemaniku di dalam kamar.” Claire merasa tidak enak pada Martha karena harus menjaganya sepanjang hari. “Tidak, Putri Claire. Saya senang melakukan pekerjaan ini. Seperti kata Yang Mulia, ini pekerjaan yang menyenangkan. Saya hanya duduk dan menemani Anda,” jawab Martha dengan penuh perhatian. “Baju tidur ini, bukan Marco yang menggantinya kan, Martha?” “Tentu saja bukan, Putri. Saya tidak akan mengizinkannya!” jawab Martha sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan, “saya dan seorang pelayan yang mengganti baju Anda. Saya juga menyeka tubuh Anda dengan air hangat supaya Anda tidur dengan nyenyak, Putri. Anda memiliki tubuh yang sangat indah, pantas saja Yang Mulia tergila-gila pada Anda!” “Martha, kamu bisa saja,” jawab Claire tersipu malu, “jangan katakan itu pada Marco, ya!” “Ya Tuhan! Maafkan saya Putri, saya terlanjur mengatakannya pada Yang Mulia!” jawab Martha sambil tertawa menggoda Claire. “Martha....!” Claire membelalakkan matanya. “Yang Mulia sudah lama menyukai Anda, Putri.” “Dari mana kamu tahu, Martha? Apakah dia suka menggosip?” tanya Claire terkekeh. “Saya sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Sebenarnya, saya dulunya tidak bekerja sebagai sekretaris. Dulu saya pengasuh Yang Mulia Marco saat beliau masih kecil. Saya mengurusi semua keperluannya semenjak kedua orang tuanya meninggal. Sampai akhirnya beliau menjadi Raja, saya juga yang mengurus segala keperluan beliau saat bekerja.” “Oh, ya? Kasihan Marco…” gumam Claire sambil termenung mendengar penjelasan Martha. “Yang Mulia menjadi anak yatim piatu saat berusia 10 tahun, Putri.” “Masih sangat kecil, aku turut bersedih mendengarnya. Apakah benar karena kecelakaan pesawat, Martha?” tanya Claire berhati-hati. “Iya, benar Putri. Pernah diselidiki apakah ada kemungkinan terjadi pembajakan dalam pesawat, namun hasil akhir penyelidikan itu menyatakan bahwa kejadian itu murni kecelakaan.” “Lalu? Marco menjadi Raja?” tanya Claire. “Benar, Putri Claire. Yang Mulia sempat mengalami trauma dan depresi. Namun, dengan pendampingan dari psikiater dan dokter istana, kondisinya berangsur-angsur membaik. Walaupun Yang Mulia memang selalu tampak bersedih.” “Aku sangat bersimpati. Aku memahami dia pasti sangat sedih. Dia masih sangat kecil saat kehilangan kedua orang tuanya, Martha!” “Itu benar, Putri! Walaupun menjadi Raja yang memiliki segalanya, namun sampai sekarang beliau masih kesepian.” “Kamu punya keluarga, Martha?” tanya Claire. “Saya tidak berkeluarga, Putri. Saya mengabdikan hidup saya untuk keluarga kerajaan ini.” “Kamu tinggal di istana ini?” “Iya, bersama dengan pelayan, penjaga, dan pengawal yang lain.” “Syukurlah, jadi Marco tidak sendirian selama ini. Martha bolehkah aku menanyakan sesuatu?” “Apa yang ingin Anda tanyakan, Putri Claire?” “Ehm, apakah selama ini Marco punya banyak kekasih?” tanya Claire ragu-ragu. Martha tertawa, “Kenapa tidak Anda tanyakan sendiri? “Ah, tidak! Dia tidak akan mungkin menjawab.” “Apakah Anda menanyakan itu karena Anda mencintainya, Putri?” Claire tercekat, hanya diam tidak menjawab Martha. Martha mengetahui dari sikap dan bahasa tubuh Claire kalau Sang Putri sebenarnya tidak mencintai Marco, rajanya. “Putri, sebenarnya saya sedikit kecewa pada Anda.” Martha mengungkapkan isi hatinya pada Claire. Claire tampak terkejut, “Begitukah, Martha?” “Iya. Saya tahu Anda tidak mencintai Yang Mulia,” jelas Martha. Claire tertunduk, “Apakah begitu terlihat kalau aku tidak mencintainya, Martha?” “Bagi saya yang selalu berada menemani Yang Mulia, tentu saja saya bisa melihatnya, Putri.” “Sayangnya, itulah kenyataannya Martha. Aku minta maaf.” “Bukan pada saya, Putri. Sebaiknya Anda meminta maaf pada Yang Mulia Marco.” “Dia sudah tahu kalau aku tidak mencintainya,” jawab Claire. Martha terdiam menatap Claire, lalu berdiri berjalan menuju ke jendela kamar yang mengarah langsung ke taman bunga. “Dia sudah terlalu banyak kehilangan cinta, Putri. Haruskah Anda berada di sisinya kalau tidak mencintainya?” Claire kembali membisu, mengingat kembali bahwa keputusannya untuk menerima lamaran Marco memang harus dia lakukan. Jack tidak akan berhenti mengejarnya bila dia tidak menerima lamaran Marco. Jika Claire mengambil keputusan yang salah tentu saja akan menjadi aib bagi keluarga kerajaan karena Claire mencintai laki-laki yang menghamili bibinya dan menjadi penghalang bagi calon bayi Alya untuk mendapatkan hak pertanggungjawaban dari Jack. “Maafkan aku, Martha. Aku harus tetap melanjutkan pernikahan ini.” “Mengapa Anda harus menikah dengan Yang Mulia kalau Anda tidak mencintainya?” “Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan pada orang lain. Tapi tenanglah Martha, Marco sudah mengetahui dengan jelas alasanku menikah dengannya dan Marco tidak merasa keberatan. Maafkan aku Martha, aku tidak ingin membahas masalah ini lagi dengan orang lain.” “Maafkan juga wanita tua ini, Putri. Saya hanya tidak ingin Yang Mulia kehilangan lagi,” Martha berkaca-kaca tidak bisa menahan tangisnya. Suasana di dalam kamar Claire tiba-tiba hening. Martha terisak dalam tangisnya, sedangkan Claire merasa canggung dengan situasi ini. Claire merasa sangat tidak enak karena telah membuat Martha menangis dengan perbincangan mereka hari ini. “Martha? Apakah kamu membenciku setelah mengetahui kebenaran ini?” tanya Claire. “Bagaimana saya bisa membenci Anda? Sedangkan Yang Mulia Marco sangat mencintai Anda,” jawab Martha. “Apakah kamu menganggap kalau aku ini orang yang jahat, Martha?” “Saya tahu Anda tidak jahat, Putri. Mungkin benar, Anda memang memiliki alasan kuat mengapa tetap ingin menikah dengan Yang Mulia Marco sedangkan Anda tidak mencintai beliau.” “Itu benar, Martha. Sebenarnya, Marco yang telah menyelamatkan aku dengan adanya pernikahan ini, Martha!” “Saya tidak mengerti, Putri.” Claire terdiam sejenak, Claire berpikir bahwa Martha sudah seperti ibu bagi Marco. Mungkin tidak ada salahnya bila Claire menceritakan alasan mengapa Marco dan Claire memutuskan untuk menikah, supaya Martha tidak berprasangka buruk padanya walaupun Claire tahu ini salah. “Aku harus memilih diantara dua pilihan saat ini, Martha. Dua lelaki yang aku tahu saat ini sangat mencintaiku. Dia adalah Marco dan mantan kekasihku.” “Mantan kekasih? Lalu, mengapa Anda memilih menikah dengan Yang Mulia?” “Aku tidak bisa memilih mantan kekasihku karena dia menghamili bibiku.” “Apa??” Martha terkejut membayangkan bahwa bibi Claire pastinya sudah tua. “Bibiku adalah adik dari ibuku,” jelas Claire. Martha mencoba mengingat-ingat sesuatu, “Maksud Anda, adik tiri dari Ratu Querencia?” “Iya, Martha. Adik dari Ratu Tyara. Aku dan bibiku terpaut usia 6 tahun. Jadi, bibiku berusia 27 tahun saat ini. Dia belum tua seperti bayanganmu, Martha…” Claire terkekeh. “Kekasih Anda menghamilinya?” “Iya mereka melakukan pengkhianatan dibelakangku. Jack tidak mau melepaskanku dan tidak mau bertanggungjawab pada janin yang dikandung Alya, bibiku. Maka dari itu aku memutuskan untuk menerima Marco saat dia melamarku. Aku berharap, Jack bisa segera bertanggungjawab menikahi Alya saat tahu aku akan menikah dengan Marco.” Claire menceritakan sedikit bagian dari alasannya menerima Marco sebagai calon suaminya. Tidak semua dia ceritakan pada Martha terutama tentang kontrak menikah itu. Tentu saja hanya Claire dan Marco yang boleh mengetahuinya. “Putri Claire, ternyata Anda berhati malaikat. Anda memikirkan nasib janin yang ada di dalam kandungan bibi Anda. Maafkan saya kalau tadi saya sempat kecewa pada Anda!” “Itu wajar, Martha. Orang lain yang mengenal Marco pasti akan marah dan kecewa padaku kalau tahu aku tidak mencintainya..” “Bukan tidak mencintainya, Putri. Mungkin Anda harus mengganti kalimat itu dengan ‘belum mencintainya’. Saya yakin Yang Mulia Marco akan membuat Anda mencintainya, Putri.” Claire tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Martha. Benarkah Marco bisa membuat Claire mencintai Marco seperti yang diucapkan oleh Martha? “Saya lihat Yang Mulia menjadi lebih bersemangat setelah bertemu dengan Anda di pameran lukisan itu, Putri. Semenjak itu Yang Mulia seolah memiliki jiwa yang hidup, beliau memiliki gairah hidup dan tidak kesepian lagi. Setiap hari beliau selalu mengadakan rapat penting dengan pengawal yang diminta untuk menjaga dan mengawasi Anda selama kuliah di Paris!” Martha bercerita dengan antusias. “Benarkah selama ini aku dikawal dan diawasi, Martha?” Claire terkejut. “Benar, tapi bukan bermaksud jahat, Putri. Yang Mulia ingin memastikan Anda selalu aman, sampai beliau melamar Anda pada Raja Henry.” Claire tampak tersipu mengetahui kebenaran bahwa selama ini Marco memperhatikan dirinya sejak lama. Claire mulai melihat Marco dari sudut pandang yang berbeda, Marco ternyata adalah Raja yang kesepian, raja yang berusaha untuk menemukan gairah hidupnya kembali. --- tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN