16. Jennifer Rosemary

1555 Kata
Di saat Claire dan Martha sedang berbincang di dalam kamar, mereka mendengar suara ribut-ribut dari luar kamar. Ada suara wanita dan penjaga yang saling berteriak-teriak. Wanita itu tidak mungkin salah satu dari pelayan istana, pikir Martha. Martha keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi. “Ada apa ini?” tanya Martha pada kedua penjaga. “Dia memaksa untuk masuk, Nyonya!” penjaga menunjuk seorang wanita yang sedang dihadang oleh penjaga yang satunya. “Martha! Martha! Martha ini aku!” teriak wanita yang tubuhnya terhalang oleh tubuh penjaga. “Nona Jennifer?? Sedang apa Anda di sini?” Martha yang mengenali suara Jennifer menghampirinya, namun Jennifer berhasil memanfaatkan celah kemudian berlari masuk ke kamar Claire. Jennifer masuk dan mendapati Claire sedang berbaring di atas tempat tidur di salah satu kamar mewah istana ini. “Ow ow ow...selamat pagi tuan Putri yang malas!” Jennifer berdiri di depan tempat Claire berbaring. Claire memandang wanita asing yang bertubuh tinggi namun sayangnya kurus itu. Make up wajahnya gothic dengan riasan mata dan bibir yang berwarna gelap, memakai baju yang cukup terbuka, rambutnya lurus pendek sedagu seperti model rambut Cleopatra. Claire bersusah payah menegakkan tubuhnya untuk duduk, seandainya tidak sedang sakit, Claire pasti sudah mencakar wajahnya karena dipanggil Putri yang malas. “Siapa kamu? Lancang sekali masuk ke kamarku!” ucap Claire. Martha ditemani dua orang penjaga berlari tergopoh-gopoh menyusul masuk ke dalam kamar dan siap mengusir Jennifer. Martha cukup takut kedatangan Jennifer kali ini akan membahayakan Putri Claire. “Nona Jennifer, tolong keluar dari sini atau saya panggilkan Yang Mulia!” ancam Martha. “Ahh...itu lebih bagus lagi Martha! Lebih baik kamu panggilkan dia!” tantang Jennifer. “Martha tolong tinggalkan kami berdua dan suruh penjaga ini berjaga di luar, nanti akan kupanggil bila aku membutuhkannya!” perintah Claire. “Tapi Putri.. ” Martha tampak khawatir. “Tinggalkan kami Martha!” perintah Claire sekali lagi. “Baik, Putri Claire!” Martha menuruti perintah Claire untuk keluar dari kamar. Martha segera berlari ke ruang tengah untuk menghubungi Marco, sedangkan dua orang penjaga siap berjaga di luar kamar Claire. “Oh, jadi kamu Jennifer Rosemarry itu?” “Hmm...dia sudah menceritakannya padamu?? Ya, aku Jennifer Rosemary! Calon istri Marco!” “Wow, Anda terlalu percaya diri, Nona! Mungkin maksud Anda, mantan pacar Marco?” jawab Claire sambil tersenyum sinis. Jennifer berjalan cepat ke arah Claire duduk, “Aku masih calon istrinya sampai hari itu tiba, saat kamu muncul di depan matanya!!!” teriaknya histeris. “Bukan salahku kalau hubungan kalian harus berakhir! Aku juga tidak tahu kalau dia langsung mencintaiku pada padangan pertama!” jawab Claire tenang sambil menatap tajam ke arah Jennifer Rosemary yang hari ini sengaja memancing amarahnya. “Hahaha… tidak ada cinta pada pandangan pertama, Putri Pemalas!” “Berhenti memanggilku Putri Pemalas atau aku akan merobek mulutmu!” ancam Claire. “Ahhh.. kasar sekali Putri Querencia ini! Asal kamu tahu Claire, dia tidak akan mencintai seorang wanita pada pandangan pertama! Dia akan tertarik pada wanita setelah menghabiskan malam bersamanya!” Claire tampak kesal, Claire juga bingung mengapa dia harus kesal mendengar kata-kata dari Jennifer? “Maaf, aku tidak perlu menggunakan cara murahan untuk membuatnya mencintaiku! Aku wanita terhormat!” Claire menyindir Jennifer. “Kamu mengataiku wanita murahann?” Jennifer mendekati Claire hendak menjambak rambut Claire, namun dengan sigap Claire mencengkeram tangan Jennifer dan menghempaskannya. “Jangan marah, Nona. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan tentang menghabiskan malam dengan Marco untuk membuatnya tertarik padamu??” “Dia memang tertarik padaku! Marco sudah berjanji menikahiku dalam waktu dekat! Bahkan dia sudah menyuruhku memilih gaun untuk pernikahan kami!!!” Jennifer kembali berteriak. Claire tersenyum, “Lalu? Dia sudah membayar gaunmu?” Jennifer mendekat dan berbicara tepat di depan wajah Claire dengan penuh amarah, “Jangan meledekku!!” “Maaf Jennifer, aku tidak meledekmu. Sebenarnya mudah saja mengetahui keseriusan Marco.” “Jangan mengguruiku!” Jennifer melotot. “Aku akan memberitahumu satu hal, Nona yang mengaku-ngaku akan dinikahi Marco! Kalau Marco sudah memberimu cincin pertunangan dan mahkota calon ratu maka kamu bisa menyombongkan diri di depanku! Tapi kalau Marco tidak pernah memberimu dua hal itu, pergilah dari hadapanku!” dengan sisa tenaga yang ada Claire mendorong tubuh Jennifer. “Jangan pikir aku akan melepaskan Marco, Claire! Aku akan membuatnya menikah denganku! Aku akan menghancurkanmu!” “Sama seperti kamu menghancurkan butikku, Jennifer Rosemary?!” “Aha! Gadis pintar, tapi sayangnya kamu tidak punya bukti! Itu baru awal, Claire! Aku akan menghancurkanmu lebih dari itu!” “Penjaga suruh dia keluar dari sini!!” teriak Claire. Dua orang penjaga masuk ke dalam kamar Claire untuk membawa keluar Jennifer. Saat penjaga akan menarik tangannya, Jennifer berteriak-teriak pada penjaga. “Jangan sentuh aku! Aku bisa keluar sendiri! Aku tahu jalan keluar dari istana ini!” *** Claire memandang keluar jendela dan melihat kepergian Jennifer. Setelah mobil Jennifer berlalu keluar dari kompleks istana, Claire melihat mobil Marco tiba. Marco berlari dengan cepat masuk ke dalam istana. Martha pasti menelepon Marco, pikir Claire. Tak berapa lama Marco sudah sampai di kamar Claire. “Claire? Kamu tidak apa-apa?” Marco mendekati Claire dan memastikan tubuh Claire tidak ada yang terluka. “Katakan padanya, jangan pernah menemuiku lagi!” jawab Claire sambil membuang muka. “Maafkan aku, Claire. Aku akan mengganti semua akses keamanan untuk masuk ke apartemenku ini.” “Sebaiknya begitu!” jawab Claire singkat dan ketus. “Aku sudah memperingatkannya untuk tidak menemuiku lagi!” “Sepertinya tidak akan bisa karena kamu menjanjikan mimpi yang indah untuknya!” sindir Claire. Marco mengelak, “Itu tidak benar, Claire! Aku tidak menjanjikan apa-apa padanya!” “Dia mengatakan kalau kamu berjanji akan menikahinya!” “Itu tidak benar!!” jawab Marco dengan nada meninggi. “Itu yang dia katakan!” “Dan kamu percaya?? Claire dengar, hubunganku dengannya tidak pernah serius!” “Dia bisa keluar masuk apartemenmu dan kamu anggap tidak serius?” desak Claire. Marco tersenyum, “Terserah kamu menilainya seperti apa, Claire. Yang pasti saat ini aku sangat serius denganmu.” Marco menatap Claire dalam-dalam. “Dia mengatakan padaku kalau kamu mencintainya setelah menghabiskan malam dengannya!” mata Claire tiba-tiba panas dan suaranya bergetar. “Itu tidak benar, Claire!” “Ayolah, Marco! Kita bukan anak-anak lagi! Aku tahu kamu menghabiskan malam dengannya!” “Ya, yang aku maksud tidak benar adalah ‘mencintainya’. Aku tidak mencintainya!” “Kamu sungguh menyebalkan, Marco!” Marco tersenyum lalu menarik Claire ke dalam pelukannya. “Katakan padaku kenapa aku menyebalkan?” Marco mengeratkan pelukannya. Claire membelalakkan matanya saat merasakan pelukan Marco semakin erat, “Lepas, Marco!” “Kenapa?” tantang Marco. “Aku tidak mau Martha masuk dan melihat kita seperti ini!” “Martha tidak akan keberatan melihat kita berpelukan seperti ini!” goda Marco, “katakan padaku kenapa aku menyebalkan, hmm?” “Kamu menyebalkan karena tidak mau mengakui kalau menghabiskan malam dengannya!” Marco tersenyum mendengar jawaban Claire yang polos, “Maafkan aku kalau itu membuatmu kesal. Baiklah, aku mengakui pernah menghabiskan malam dengannya.” “Apa??” Claire spontan mendorong tubuh Marco. “Kenapa? Bukankah kamu ingin aku berkata jujur?” Claire memejamkan matanya, “Tolong tinggalkan aku sendiri, Marco!” Marco meninggalkan kamar Claire, Claire berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. Claire bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia merasa sangat kesal dan marah saat mendengar pengakuan dari Marco bahwa Marco pernah menghabiskan malam dengan Jennifer. Dari balik jendela kamarnya, Claire melihat Marco keluar dari istana dan mengemudikan mobilnya meninggalkan istana. “Dia pasti menemuinya,” gumam Claire. *** Di Rumah Jennifer “Marco, Sayangku!” Jennifer berlari dan berhambur memeluk Marco. Marco mencengkeram tangan Jennifer dan melepaskan diri dari pelukan Jennifer. “Kamu mau minum apa, Marco?” “Tidak perlu repot-repot, Jen! Aku hanya sebentar, tidak akan lama!” “Duduklah, Sayang!” “Tidak perlu, aku hanya mau menyampaikan satu hal padamu!” “Iya, Marco. Apa yang mau kamu sampaikan padaku?” Jennifer memberikan Marco senyuman termanis. “Tolong jauhi Claire!” “Apa??” “Aku tahu kamu datang ke istana beberapa saat yang lalu!” “Dan kamu sengaja datang ke rumahku untuk mengatakan hal itu padaku, Marco?? Agar aku menjauhi Claire? Tega sekali kamu padaku Marco!” “Oya, satu lagi! Jangan membahas tentang malam sialan yang pernah kita habiskan berdua pada Claire!” “Ah!! Dia mengatakan hal itu padamu?!” Jennifer terbahak-bahak, “ternyata dia adalah seorang pengadu!” “Aku peringatkan itu padamu, Jen!” “Tapi malam itu sungguh indah, Marco… “ Jennifer mendekati Marco dan berusaha menggoda Marco. “Kamu sepertinya terlalu mabuk saat itu dan tidak sadar apa yang terjadi!” jelas Marco. “Tidak, Marco! Kamu salah, aku tidak akan pernah melupakan malam itu! Itu adalah malam terindah dalam hidupku!” “Ah, sudahlah! Memang susah kalau wanita mabuk diajak mengingat-ingat sesuatu! Kamu selama ini berhalusinasi menghabiskan malam indah bersamaku, Jen! Camkan itu!” Marco berjalan cepat keluar dari rumah Jennifer, Jennifer berteriak-teriak memanggil Marco. “Marco! Marco! Marco tunggu!” Jennifer menarik tangan Marco. “Tolong pergi dari kehidupanku, Jen!” “Tidak, Marco! Aku mencintaimu!” “Jauhi aku dan aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menemui Putri Claire lagi atau aku akan membuatmu menyesal!” Marco masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan rumah Jennifer. Jennifer masih berteriak-teriak memanggil nama Marco dengan putus asa. Jennifer duduk di lantai teras rumahnya sambil menangis meratapi kepergian Marco. --- Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN