Episode 6 Malam 1 Suro

1597 Kata
Hari ini cuaca sangat cerah. Tapi entah kenapa Suasana hatiku sepertinya tidak bersemangat. Rasa ini sering aku alami. Ya, hari hari seperti dulu lagi. Tidak bersemangat dan entahlah. Sejak kejadian di akhir hari hari kelulusan itu, Fia yang pernah bersama ku, seperti tidak mengingat apa apa. Ketika bertemu denganku pun saat acara perpisahan, jangankan menyapa melihatku pun dia enggan. Awalnya aku pikir karena dia malu. Tapi sepertinya ada yang aneh. Jihanpun sama, setelah mengungkapkan perasaan nya dia menghilang tanpa kabar. Aku seperti yang tercampakkan. Sungguh ini benar benar sangat tidak menyenangkan. Apa aku akan dibully lagi di sini?? Di kampus?? Aku sempat bertemu dengan Jihan dan Fia serta beberapa teman SMA ku yang juga kuliah di Universitas Darma. Ada yang satu kelas lagi denganku. Dan mereka yang mengenalku seperti dulu, memilih tidak menganggap ku ada. Aaah.. kenapa ini terjadi lagi padaku. Aku Paito Si Kopi pahit lagi?? Sungguh menjengkelkan. Aku harus bisa berubah lagi menjadi Paito yang digandrungi semua orang. Ya ,aku akan lakukan pesan itu. *** Kalender di Tanggal 12 Juli aku lingkari tebal. Malam 1 Suro. Aku harus ke tempat itu lagi. Nanti menjelang malam aku harus ke danau itu. Danau dibelakang sekolah. Aku sedikit khawatir, takut dan gelisah. Tapi aku harus kesana. Aku tidak mau hari hari tidak menyenangkan itu terulang lagi di hari hari kuliahku. *** Pukul 16.45 wib. Aku sudah tiba di sekolah SMA ku. Aku melihat masih ada beberapa mahasiswa bermain basket di lapangan. Aku parkir sepeda motorku dan aku berjalan masuk ke dalam sekolah. Aku langsung menuju lorong belakang sekolah. Sore ini tampak suasananya lebih sepi dari sebelumnya. Sepanjang Lorong banyak sampah berserakan. Hingga aku melewati ruangan tempat Mbah Mijan dulu. Bulu kudukku berdiri. Tapi aku buru buru mempercepat langkahku hingga akhirnya sampai di ujung lorong. Tapi... mana danaunya? Bukankah seharusnya aku sudah sampai di danau berair hijau itu? Aku bingung, harus kemana aku cari danau itu. Aku ingat ingat kembali kemana Mbah Mijan dulu membawaku. Setelah kupejamkan mata sesaat aku baru sadar, Aku salah arah. Aku berbalik ke arah lain dan menelusuri lorong yang berbeda. Semilir angin mulai terasa menyentuh kulitku. Dan kumelihat pemandangan indah seperti waktu itu. Danau yang airnya berwarna hijau jernih sangat indah dipandang. Aku menanggalkan pakaianku satu persatu. Aku menggenggam konde dan mulai masuk ke dalam air danau. Kupejamkan mataku rapat dan aku mulai menyelam. Aku merasa telah berada didasar danau. Aku mulai membuka mataku perlahan lahan. Kuedarkan pandangan ku ke sekitar dasar danau. Dan akhirnya yang kutunggu pun muncul dari ujung danau. Ia berenang perlahan ke arahku. Kecantikan wajahnya tak pudar sedikitpun. Kain berwarna hijau keemasan melilit tubuh indahnya. Dia tersenyum dari kejauhan hingga mendekat masih tetap tersenyum. Sungguh bidadari tercantik yang pernah aku lihat. Tangannya mulai menggapaiku, dan akhirnya dia tepat berada di depanku. Kedua tangannya melingkar dileherku. Aku langsung memakaikan konde yang aku pegang erat di gulungan rambut panjangnya. Dia semakin tersenyum. Kemolekan tubuhnya sungguh membuatku sangat bernafsu. Detak jantungku berdebar kencang.Ia pun mulai membelai tipis wajahku, menyentuh tubuhku dengan lembut. Tangannya memindahkan tangan ku ke pinggangnya. Seolah olah menyuruhku untuk memeluknya. Ia mulai mencumbu ku, dan akupun mulai dimabuk kepayang. Hasratku mulai memburu. Ia melepas kain yang menutupi tubuhnya perlahan lahan. Sampai tubuh indahnya terlihat jelas tanpa sehelai kain menutupi. Gairah jiwaku memberontak keras. Aku pun langsung kehilangan kontrol. Aku langsung mendekapnya, membelai wajahnya, menyentuh tubuhnya dan mulai menciuminya. Sesekali kukecup bagian tubuhnya, kulumat bibir indahnya. Kuremas remas d*da montoknya. Sungguh tubuh yang sangat sempurna. Hingga puncak kenikmatan itupun sampai. Dan seluruh tubuh ini terasa begitu lemas. Dan akupun mulai tertidur, entah bagaimana mungkin seperti bukan didasar air. *** Mataku kubuka perlahan lahan. Dan iya, aku sudah berada di tepian danau dengan tubuh telanjang dan setengah basah. Aku segera bangun dan mencari dimana pakaianku. Tak sengaja aku melihat anuku ada yang berubah. Tampak lebih besar dan panjang padahal sedang tidur. Aah... apa perasaanku saja. Buru buru aku memakai pakaianku. Dan aku pun bergegas keluar dari lingkungan sekolah. Sekolah sudah sepi, hanya ada seorang satpam yang heran melihatku dari dalam sekolah. "Mas, anda siapa? dari mana? ngapain di sekolah sampai Surup (petang) begini?" tanya nya keheranan. "Saya alumni sekolah sini pak, tadi main main saja, eh saya ketiduran", jawabku beralasan. "Mari pak, saya mau pulang dulu", "Oh..iya iya..hati hati mas", Akupun pulang dengan hati yang terasa berbahagia. Dan aku merasa memang anuku semakin besar, celanaku serasa sesak. Aku tersenyum m***m sendiri di atas motor. Aku tak sabar ingin tahu apa kali ini aku benar benar akan menjadi Paito yang populer lagi. Yang di kagumi banyak gadis. Yang di kejar kejar gadis cantik. Dan bisa bersama siapa saja yang aku sukai. Besok di kampus, aku ingin liat bagaimana hasilnya. *** "Ito.., Sudah siang.., gak ke kampus naak", Mataku mulai kubuka perlahan lahan, Nyenyak sekali rasanya tidurku semalam. Tubuhku terasa bugar saat ini. Dan ya, hari ini terasa berbeda. Aku segera bergegas bangun dan menuju ke kamar mandi. "Maak..., kemeja Ito yang warna item dimana?" "Sudah emmak cuci semua, coba cari pelan pelan di lemarimu" Nah.., ini dia.. tapi apa ini. Secarik kertas kusam. Kubuka pelan dan k****a, Semakin sering kita berjumpa, Maka apa yang kamu inginkan akan selalu terkabulkan. Apa maksud surat ini. Apakah ini dari wanita danau itu? Aku simpan lagi kertas kusam itu dibawah kemeja. Dan aku mulai bergegas berangkat ke kampus. "Pagi Ito.." "Hai Ito...", " Seger bener to.." Akhirnya semua kembali indah. Hatiku sangat bahagia hari ini. Aku ingin bertemu Jihan dan Fia. Aku ingin tahu reaksi mereka kini. Sengaja aku berjalan melewat kelas Jihan dan Fia. Aku tak sabar bagaimana reaksi mereka. Aku melirik ke sekitar kelas mereka. Tapi aku tak melihat seorangpun disana. Kemana mereka? Jihan dan Fia? Aku akhirnya kembali ke kelasku. Seperti biasa aku duduk dibangku paling belakang. Tapi bedanya kini, semua gadis juga duduk dibangku belakang. "Ito, Tadi Fia cari kamu", kata salah satu teman SMA yang juga sekelas di bangku kuliah kini. "Kapan? Trus dia kemana?", "Gak tau juga, cuma kamu disuruh telepon dia". "Oke, makasih ya". *** Jam kuliah pun usai. Sungguh kuliah hari ini sangat melelahkan. Tugas tugas kuliah semakin menumpuk. Aku butuh seseorang yang dengan sukarela mengerjakan tugas tugasku. Aku mulai nakal, ada seorang gadis kutu buku dikelasku yang pastinya tidak akan menolak permintaanku. Aku bisa memanfaatkannya. "Hai Mila," "Hai.. Paito", Sambil merapikan rambutnya Mila kelihatan sekali bahwa dia salah tingkah. "Aku boleh minta tolong?", "Minta tolong apa to?" "Aku belum menyelesaikan tugas tugas kamaren itu, kamu bisa Ndak mbantu aku ngerjakan tugasku?", Sambil ku condong kan tubuhku ke dekatnya. "Boleh ..., mana bukumu, nanti biar aku kerjakan dirumah", Sambil kusodorkan beberapa buku ku kepadanya. "Makasih banyak ya Mil, kamu Dewi Fortuna ku", sedikit rayuku kepadanya. Diapun tersipu malu. Pesona ku kali ini tidak akan ditolak oleh siapapun. Tugas selesei, sekarang aku mau hubungi Fia. Kemana dia? "Hai to.., kamu kemana saja?" "Hai Fi, gimana kabarmu? "Aku baik, kamu posisi dimana?" "Aku di kampus, kamu dimana? aku gak ngeliat kamu di kelasmu tadi?". "Aku tadi pulang duluan, ada acara keluarga". "Oh.. pantesan tadi aku gak ngeliat kamu". "Besok kita jalan yuk", "Hm... besok aku ada acara di rumah Fi, jadi gak bisa keluar". "Yaaah... Kamu gitu deh.., klo gitu aku aja yang main ke rumahmu". "Hm... ya..gak papa sih.." "Oke, besok aku datang ke rumahmu." "See u tomorrow Ito.." "Oke Fi,". Sungguh benar benar keajaiban. Semua ini seperti mimpi. Entah sampai kapan ini akan aku jalani. Entah bertahan sampai kapan pemikat ini. Aku terkadang merasa sedikit takut dan cemas. Tapi egoku mengalahkan rasa itu. Aku hanya ingin menjadi laki laki yang di gandrungi banyak wanita. Aku tidak ingin diremehkan lagi. Aku muak hidup sebagai laki laki pecundang. Aku bertekad akan terus menggunakan pemikat ini. Sampai kapanpun. "Woow..., cantik sekali gadis itu? Siapa dia?" Bisik bisik para undangan acara tasakkuran dirumahku. Entah siapa yang mereka bicarakan. Akupun mengedarkan pandanganku mencari sosok yang mereka bicarakan. Siapa gadis cantik yang membuat mereka bergosip. "Ito nya ada?" Suara seorang gadis menanyakan keberadaan ku. Aku kenal suara itu. Semua mata tertuju kepadanya. Gadis cantik yang menarik perhatian tamu undangan. "Jihan??," Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengajak Jihan untuk masuk ke dalam rumah. Aku mengajaknya masuk ke dalam kamarku. "Kamu kok gak bilang kalau mau ke sini?" "Tapi kamu gak keberatan kan kalau aku main ke rumahmu?". "Gak papa Jihan, hanya saja aku kaget. Kebetulan sekarang kan ada acara, jadi aku belum bisa temenin kamu dulu ya. Kamu diam di sini saja sampai acara selesei". "Oke," Aku keluar kamar meninggalkan Jihan disana. Semua orang pada ngeledekin aku. Tapi aku hanya senyum senyum saja. *** Acara tasyakuran pun selesei. Setelah semua tamu pulang, aku buru buru ke kamarku untuk bertemu dengan Jihan. "Lama ya nunggunya?" "Gak kok," "To... ada yang mencarimu", teriak kakakku dari luar. "Iya kak, bentar".. "Bentar ya, aku liat siapa yang datang". Jihan hanya mengangguk saja. "Hai Ito,.." seorang gadis sambil tersenyum manis membawa sekotak jajanan elit. "Fia?.." Aku sedikit terkejut, "Kok kaget?? Aku kan udah bilang kemarin aku bakal main ke rumahmu..", Sambil melingkarkan manja tangannya ke lenganku. Aku sedikit kikuk dan bingung. Teringat Jihan yang ada di kamarku. "Fia??".. Jihan keluar dari dalam rumah. "Jihan? Kamu?", kalimat menggantung Fia membuat suasana saat ini kurang nyaman. "Ayo, kita masuk dulu.., tadi Jihan tiba tiba datang pas acara .Jadi aku suruh dia nunggu di kamarku.". " Gak perlu, aku pulang aja", Jihan langsung ngeloyor tanpa mau menoleh lagi. Fia menggenggam lenganku erat seolah olah menyuruhku untuk tidak menghalangi Jihan pulang. "Ayuk, kita masuk..aku bawain oleh oleh buat kamu". Sambil menarik lenganku Fia mengajakku masuk ke dalam rumah. Jujur aku masih kepikiran dengan Jihan. Gadis pertama yang aku sukai sebelum aku juga menyukai Fia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN