Sudah lama rasanya aku tak mengunjungi Mbah Mijan. Sejak perubahan yang terjadi padaku, aku sudah tidak merasa kesepian lagi. Maka dari itu, aku tak pernah terbersit duduk menyendiri di tempat Mbah Mijan lagi. Tapi tiba tiba aku ingin bertemu dengannya. Dan karena ini adalah hari kelulusan aku juga ingin pamitan kepadanya.
Aku membelikan tempe mendoan dan kopi pahit buat Mbah Mijan. Lama sekali rasanya aku tidak melewati lorong belakang kampus ini. Semua tampak sama seperti dulu. Sepi, sedikit kotor dan angin semilir menemani sepanjang lorong itu.
Kuedarkan pandanganku mencari sosok tua yang pendiam. Tapi ruangan Mbah Mija. tampak kosong. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Kupanggil panggil Mbah Mijan, namun tak ada jawaban maupun sosok nya.
Yang aku heran, ruangan ini tampak lama tidak ditempati. Rasanya baru beberapa hari saja aku tak mendatangi tempat ini.
Meja tampak berdebu, tempat tidur juga tampak lusuh. Seperti tidak pernah ditempati seseorang dalam waktu yang lama.
"Kemana Mbah Mijan??"
Ketika kuingin kembali ke kelas, mataku tertuju secarik kain putih agak lusuh tergulung di atas meja yang berdebu. Kuambil kain itu, lalu kubuka.
Setiap Malam 1 Suro
Berendam lah di Danau Ijo
Bawa tusuk konde ini
Pakaikan dirambut Nyi Ayu
Dan lakukan apa yang pernah dilakukan
Selamanya
Begitu isi tulisan di kain lusuh itu, dan kulihat tusuk konde yang bentuknya sangat tidak asing.
Aaahh.. Tusuk konde ini bentuknya sama dengan tanda dibahuku. Tiba tiba,
BRAKKK !!!
Pintu tertutup dan terbuka dengan sendirinya.
Tubuhku gemetar, merinding rasanya. Aku segera pergi dari tempat itu. Aku simpan dengan cepat tusuk konde dan kain lusuh ini di dalam saku Jaket ku.
Pikiranku berkecamuk, sebenarnya dimana Mbah Mijan ? Aku akan bertanya kepada siapa? Oh..iya, aku akan mencoba bertanya kepada Pak Trimo, penjaga kantin kampus ini nanti saat jam kuliah berakhir.
***
Bergegas ku pergi ke kantin untuk menemui pak Trimo. Kuedarkan pandanganku mencari pria tua yang masih terlihat sangat sehat.
"Pak Trimo !"
Ia mencari suara yang memanggil namanya.
Aku segera menghampirinya yang sedang merapikan meja karena kantin akan tutup.
"Eh, Nak Ito., Mencari saya ?",
"Iya pak, ada yang mau saya tanyakan",
"Mari duduk, biar ngobrolnya lebih enak, mau bapak ambilkan minum apa?",
"Ndak perlu pak, saya sudah minum barusan",
"Bapak tau Ndak, Mbah Mijan kemana?, "
"Siapa nak??"
" Mbah Mijan pak, Cs yang tinggal di ruangan ujung lorong belakang gedung itu",
Pak Trimo tampak heran, dan sambil menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
"Nak Ito dengar cerita Mbah Mijan dari mana?", tanya nya mulai berwajah serius.
"Saya kenal dengan Mbah Mijan pak, malah saya setahun terakhir ini sering bersama Mbah Mijan di ruangannya itu", jelasku tak kalah serius.
"Sebentar nak, kamu yakin kalo yang bersama kamu selama ini Mbah Mijan?"
"Ya iyalah pak, Saya sering malah ngabisin waktu bareng bliaunya sambil makan tempe mendoan dan ngopi pahit",
"Mbah Mijan memang paling suka tempe mendoan dan kopi pahit nak, tapi....",
"Saya kok malah bingung pak, bapak kenal kan dengan Mbah Mijan?",
"Ya kenal nak Ito, Mbah Mijan itu paman saya.
Bliau yang mengajak saya kerja disini, Bliau Cs terlama di sekolah ini, sejak sekolah ini berdiri beliau sudah ada disini. Mbah Mijan dulu kerja sambil sekolah disini juga, tapi...."
"Tapi apa pak..??", tak sabar ingin mendengar penjelasan selanjutnya dari pak Trimo. Karena aku masih bingung pembicaraannya ke arah mana.
"Bukannya saya tidak percaya yang nak Ito bicarakan, tapi Mbah Mijan sudah tiada setahun yang lalu, "
Deg ,!! Jantungku berdebar kencang, kenangan pertama kali bertemu, sering menghabiskan waktu, ngobrol, makan bareng, ngopi bareng sampai tiduran bareng terlintas jelas di depan mataku. Bagaimana mungkin, Mbah Mijan sudah tiada setahun yang lalu. Sedangkan aku baru beberapa waktu lalu masih melihatnya.
Setahun aku bersamanya hampir setiap hari.
"Maksud bapak, Mbah Mijan itu sudah meninggal setahun yang lalu?",
Aku tidak percaya, aku menegaskan kembali ucapan pak Trimo.
"Iya nak Ito, Mbah Mijan meninggal tenggelam di danau belakang kampus ini, Dulu ada danau di sana, tapi setelah kejadian itu, danau di keringkan dan di tutup",
Semua diluar akal sehatku, Aku semakin bingung dan sepertinya tubuhku tiba tiba lemas tak bertenaga. Lalu yang bersamaku selama ini ??
"Nak.., entah apa yang terjadi padamu , bapak hanya memberi saran. Sebaiknya jangan datangi ruangan bekas Mbah Mija dulu, dan tidak usah mencari tau apa pun tentang Mbah Mijan",
Permintaan pak Trimo justru membuatku semakin penasaran. Bagaimanapun juga Mbah Mijan sangat berperan penting dalam perubahanku sekarang ini. Dan apa pesan di kain itu adalah pesan dari Mbah Mijan untukku?
"Bapak mau lanjutkan beres beres dulu ya nak, Ingat pesan bapak. Anggap apa yang terjadi denganmu kemaren itu adalah mimpi",
sambil memukul pundakku pelan, pak Trimo meninggal kanku dengan rasa penasaran yang mendalam.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada rasa takut dan khawatir kejadian ini akan berakibat buruk dibelakang hari. Tapi, selama ini justru yang aku rasakan adalah segala keinginanku satu persatu tercapai. Aku menjadi pria yang diidolakan, gadis manapun pasti bisa aku dapatkan. Tidak terkecuali Jihan. Namun, tetap saja kejadian aneh ini sangat mengusik pikiranku.
Tiba tiba Pundakku terasa panas, aku membuka bajuku dan buru buru melihat tanda konde yang ada di bahuku, sebagian besar hilang tak berbekas. Aku sungguh tak mengerti dengan tanda ini. Apa artinya??
Akupun mengeluarkan kain lusuh yang kutemukan di ruangan Mbah Mijan tadi.
Tusuk konde yang sama persis dengan tanda di bahu kananku. Kuperhatikan dengan teliti di bagian tepi bertuliskan Nyi Ayu dalam tulisan Caraka Jawa. Di bagian kepala tusuk konde terlihat seperti ukiran berbentuk seorang gadis berambut panjang. Aku mencoba mengingat wajah gadis danau itu, namun aku masih tidak mengingat jelas. Hanya tubuh dan rambut terurainya tampak jelas, tangan gemulainya yang menyentuh bibir dan "anuku" sangat kuingat jelas. Bibirnya melumat bibirku dengan lembut dan hangat. Aku terbawa kenangan itu semakin dalam, seolah olah ia hadir di dekatku kini.
Aaaahh.. !!
Tak terasa aku terlentang di atas kasurku dengan celana yang sudah terbuka.
Seperti nyata kejadian itu terulang kembali.
Kuraba "Anuku", dan terasa basah. Apa ini??
apakah aku baru saja??
Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku dari keringat.
Aku semakin merasa aneh.
***
Beberapa hari menjelang ajaran semester 1 dimulai. Jihan, Fia, dan gadis lainnya tidak ada satupun yang menghubungiku. Biasanya setiap hari mereka selalu saja menelepon atau hanya sekedar sms. Ada apa?? Apa yang terjadi?? Semua sepertinya menjauh.
Terasa lelah tubuh ini seperti tak bertenaga. Mataku mulai terpejam perlahan lahan. Akupun terlelap.
Datanglah kepadaku Paito..
Malam 1 suro nanti kita bertemu..
Aku sudah sangat merindukan mu..
Kenikmatan ku adalah kebahagiaanmu..
Suara terdengar sayup sayup ditelinga, jelas tapi terasa jauh. Mataku tak bisa kubuka, seperti ada yang menahan untuk tetap terpejam. Lama lama akupun membuka mata.
Mimpi apakah ini???
Malam 1 suro??
Kubergegas beranjak dari tempat tidur dan melihat kalender di dinding kamarku.
1 Suro tepat di tanggal 12 Juli Minggu depan.
Apa aku harus menuruti mimpi dan pesan di kain itu??
Apa benar ini adalah harga yang harus aku bayar agar kehidupanku berjalan seperti yang aku inginkan??
Tanda di bahu ini sepertinya ada hubungannya dengan kejadian itu. Semakin Hilang tanda itu, maka aura ku pun semakin memudar. Aku menarik kesimpulan ku sendiri.
***
Hari ini aku pergi ke tempat mbak ku.
Aku ingin menanyakan apakah saat ini aku sudah tidak terlihat menarik. Untuk memastikan apakah pemikiran ku semalam benar atau salah. Karena saat mandi tadi, aku melihat tanda dibahuku hampir saja menghilang.
"Mbak.. mbak Siti.."
Aku mencari di seisi rumah Dimana mbakku itu berada. Dia yang paling perduli dengan kehidupanku.
"Aku ada di belakang Ito...",teriaknya.
"Mbak...Ito mau bertanya tapi jawab yang jujur ya..",
"opo??",
"Mbak Siti sekarang ngeliat aku gimana? apa menarik, apa tidak?"
"Kamu itu perlu ngerubah penampilan to, biar gadis gadis gak enggan ngeliat kamu", kata mbak Siti yang sepertinya lupa tempo hari ia memujiku setengah mati.
"Kamu itu manis lho, tapi aura nya kurang keluar, jadi ya gadis gadis itu kurang b*******h liat kamu, Mbok ya ganti cara berpenampilan, perawatn gitu", Katanya lagi sambil terus mengiris bawang merah.
Mbah Siti sepertinya tidak ingat kejadian tempo hari, bukannya saat itu di paling heboh.
Bilang aku ganteng banget lah, keren lah, aku semakin yakin. Tanda dibahuku ini pertanda bahwa aura pemikatku tak lagi bekerja.
Aku harus memunculkannya lagi.
Satu satunya cara aku harus mengikuti pesan di kain itu. Pesan terakhir dari Mbah Mijan.
***