Sepulang dari sekolah aku mendapat telepon dari Fia, dia bertanya untuk memastikan ku apakah aku bisa datang berkunjung ke rumahnya besok malam. Sebenarnya ada rasa ingin kubalas sikap acuhnya dulu padaku. Dia juga membully ku sesekali. Rasa dendam ku membuatku ingin mempermainkannya. Karena kini dia yang mengejar ngejarku.
Kutatap cermin di dalam dinding kamar mandi. Kulihat sosok diriku sendiri yang sangat berbeda. Jauh berbeda, ada perasaan bangga dengan perubahan yang terjadi kepadaku.
"Tanda apa ini??",
"Aku baru tau ada tanda lebar di pundakku",
"Sepertinya sebelumnya aku tidak memilikinya"
"Sejak kapan?"
Tanda Berwarna Cokelat mirip seperti tanda lahir pada umumnya. Namun bentuknya sangat unik, Seperti tusuk konde jaman dulu. Dan rasa rasanya bentuknya tidak asing.
"Dimana ya aku pernah melihatnya??",
"Paito... Ada temanmu datang", Suara ibu di depan kamar mandi.
"Iya Bu.., Ito udah selesei kok ",
"Siapa Bu??",
"Gadis, cantik lagi..", sambil mengaduk Teh hangat yang biasa ibu siapin untukku di sore hari.
Aku penasaran siapa gadis kata ibu tadi.
Aku berjalan keluar menuju ruang tamu, karena kamarkupun bersebelahan dengan ruang tamu.
"Jihan?",
Aku sedikit terkejut melihatnya datang ke rumahku tiba tiba.
"Ito, Maaf ya aku gak ngasik tau kamu dulu kalo aku mau kerumahmu", seraya tersenyum manis melihatku setengah telanjang. Aku hanya memakai Celana pendek tanpa baju.
"Aku pakai baju dulu ya..",
"Iya...," jawabnya sambil terlihat malu.
Bagaimana ini? Fia pasti sedang menungguku, tapi aku tidak mungkin menyuruh Jihan pulang. Sudahlah, nanti aku kerumah Fia agak malam saja.
"Ada apa kamu kok tiba tiba main ke rumahku?"
" Kenapa?? gak boleh??, kamu takut ketahuan kalo banyak gadis gadis yang main kesini?",
sikap cemburu Jihan bikin aku gemes. Bibirnya yang sedikit manyun karena jengkel bikin aku makin gregetan ingin menciumnya. Tapi ini di rumah, takut ketahuan ibuku.
"ndak gitu Han.., kalo Tio tahu gimana coba?",
Aku lebih suka ngeledek Jihan dengan mengungkit hubungannya dengan Tio. Yang sebenarnya membuat aku bingung. Dia bilang mencintaiku tapi tetap saja masih berhubungan dengan Tio.
"Kalo kita lagi bareng, gak usah deh ngomongin Tio, " Dia makin ngambek, dan aku makin gemes dibuatnya.
"Ito, Ibu mau ke rumah mbakmu dulu,"
"Ito antar Bu?
"Ndak usah, kamu ada temenmu, biar ibu naik Ojek di depan sana",
"Mari ya cah ayu.., ibu tinggal dulu"..
"Iya ibu, Ndak papa",
Di rumah kini hanya ada aku dan Jihan.
Pikiran nakalku mulai bermain main.
Aku tatap Jihan yang malu malu melihatku.
"Kok ngeliatin kayak gitu sih?",
Jihan kelihatan Salang tingkah,
"Kamu gak kangen sama aku?"
kataku mencoba merayu Jihan.
"Kalo gak kangen, Ndak mungkin lah aku kesini jauh jauh", Pipinya sedikit merona.
Dia memainkan Bibirnya sesekali seolah olah memberikan isyarat bahwa dia ingin ciuman seperti di belakang kampus tadi.
Aku tarik tangan Jihan,kubawa dia masuk ke dalam kamarku. Dia sedikit bingung, tapi dia mau. Aku mendekatkan tubuhku ke tubuh Jihan hingga tubuhnya tertahan di dinding kamarku. Aku memandangnya lekat dan dekat. Dia tampak malu tapi seraya menggodaku.
Aku mulai menciumi bibirnya pelan, dia memejamkan matanya seolah pasrah. Aku menciumnya lagi, Dan ciuman ketiga aku mulai melumatnya, menggigit pelan bibir bawahnya, melumatnya lagi dan lagi. Nafas yang memburu kian terdengar. Nafsuku mulai memuncak, Tanganku yang nakal mulai bergerilya., Kuremas pant*tnya, kuangkat satu pahanya sambil terus kulumat bibir lembutnya. Tanganku mulai naik ke atas, Kusentuh pelan D*da nya yang bulat dan kencang. Sambil kuperhatikan wajahnya apa dia menolak atau justru dia merasakan kenikmatannya. Desahan mulai terdengar manja ditelingaku, Tangan Jihanpun mulai memelukku erat sambil sesekali meremas bagian punggungku.
"Ah.. Ito.."
suara itu terdengar sangat menyenangkan sekali.
Aku buka 2 kancing bajunya yang teratas, Satu tanganku meraba paha Jihan yang naik keatas pinggangku, Satu tanganku lagi meraba d*danya dan meremas remasnya.
Jihan mendesah beberapa kali. Anu kupun mulai tegang. Nafsuku mulai memburu. Jantungku berdebar sangat kencang, nafasku semakin cepat. Aku mengangkat Jihan ke atas Tempat tidurku. Aku mulai mencium nya lebih keras, Kubuka sisa kancing bajunya dengan cepat, sambil terus melumat bibirnya. Aku mulai menciuminya dari bibir, leher, telinga dan sampai ke d*da. Aku buka tali branya hingga tampak bulat kencang mulus, put*ngnya yang berwarna merah muda membuatku tak tahan dan melumatnya pelan. Jihan semakin menggeliat dan mendesah. Menikmati tiap tiap lumatan dan permainan lidahku.
Kring..Kring..Kring....
Suara nada dering Hp Jihan terdengar keras di sebelah tubuhnya.
Jihan terkejut dan segera mengangkat telepon.
Akupun diam menyudahi aktivitas ku.
Sambil bertanya tanpa bersuara.
"Tio", Bibir Jihan memberikan isyarat.
"Halo Tio,"
"Aku ada di rumah Fia", jawabnya berbohong.
"Oke, nanti jam 7 ", jawabnya lagi.
Aku segera beranjak dari tempat tidur, karena aku sudah enggan melanjutkan aktivitas tadi karena terganggu dengan telepon dari Tio.
"Kamu nanti pergi dengan Tio?" tanyaku sambil kupakai kembali kaos yang sempat kulempar ke lantai.
"Iya.. Tio nanti mau mengajakku makan diluar", jawabnya sambil memasang tali bra dan memakai kembali bajunya.
"Kamu sudah pernah tidur ma Tio?",
"Ito !!" bentaknya kepadaku.
"Kamu keterlaluan tanya hal itu kepadaku!",
Jihan marah, dan memilih meninggalkanku sendiri dikamar tanpa memperdulikan ku dan menoleh sekalipun.
Pikiranku kacau, jujur aku cemburu. Aku tidak bisa membayangkan aktivitas tadi dilakukan Jihan bersama Tio juga.
Aaaahhhhh....!!!
Fia, tiba tiba aku teringat dia.
"Halo Fi,"
"Ito..., kamu dari mana aja? kok hp mu Ndak aktif dari tadi sore.", suaranya manja.
"Tadi aku nganterin ibukku ke rumah kakakku, hp lupa Ndak dibawa. Batereinya habis lagi.",
"Jadi ka ke rumahku?",
"Oke, sebentar lagi aku jalan",
"Aku tunggu ya....",
"Oke",
Pikiranku yang kesal dengan Jihan semakin membuatku ingin melampiaskannya kepada Fia.
***
Kenapa Bahuku terasa panas?
Kubuka bajuku dan ku bercermin melihat apa yang terasa panas ini.
Tanda aneh ini terasa panas, Mengapa tandanya berubah? Sepertinya tadi tidak seperti ini? Kini semakin mengecil di beberapa bagiannya. Aneh..
***
Ting tong...
suara bel rumah Fia kubunyikan.
Suara pintu terbuka dengan pelan.
"Mas Ito ya?", tanya seorang ibu paruh baya sepertinya adalah asisten rumah tangga di rumah Fia.
"Iya Bu",
"Silahkan masuk mas, langsung naik ke atas. Kamar non Fia di sebelah ujung",
Apa?? Dia menyuruhku langsung ke kamarnya?
Akupun masuk dan menaiki tangga. Kulihat sekeliling rumah megah yang bernuansa Klasik. Rumah orang kaya memang berbeda.
Sesampainya diujung kamar, aku mengetuk pintu.
"Masuk aja Ito",..jawab suara dari dalam kamar.
Aku buka daun pintu perlahan lahan.
Kamar megah dengan ukuran seluas rumahku.
Nuansa warna merah muda menandakan kemanjaan karakter Fia.
Dan mataku langsung tertuju dengan gadis cantik bertubuh sexi idaman semua pria. Fiana Putri Darma. Anak bungsu dari pemilih Universitas Darma. Kampus impianku untuk melanjutkan kuliah tahun ajaran baru nanti.
Gaun panjang setengah paha berwarna Maroon berlengan gantung terlihat sangat menawan. Jantungku berdebar kencang. Otakku langsung berfikir m***m.
Fia berjalan ke arahku, dan langsung mengajakku duduk di sofa sebelah tempat tidurnya. Dia menyalakan TV LED yang sangat besar sambil memutar film box office "Twiligh"
"Kita nonton yuk..",
Tangannya melingkar dilenganku dan kepalanya disenderkannya.
tok tok tok..
"Non Fia..bibi bawa minuman dan cemilan",
"Masuk aja bi",
Tanpa malu, Fia tetap dengan posisi menempel di lenganku.
"Terima kasih Bu", kataku kepada bibi ART itu
"Sama sama mas", dan bibi itu keluar kamar dan menutup kembali pintu.
"Kamu gak dimarahi fi, ada cowok masuk ke dalam kamarmu?", tanyaku agak canggung dengan kondisi yang sangat tidak lazim di kampungku.
"Ha ha ha.. pertanyaanmu aneh aneh aja Ito, kita ini udah dewasa, gak perlu di atur atur lagi", jawabnya sambil mencubit pahaku dengan menggoda. Kali ini aku benar benar tergoda. Fia sangat cantik dan sexi. Pria mana yang akan menolaknya. Aku sedikit canggung,
emmuach..
Tiba tiba Fia mencium pipiku.
"Fi, jangan menggoda", kataku sambil menatapnya.
" Kenapa emangnya kalo aku menggoda??", jawabnya seraya sengaja menggoda.
"Nanti kalo aku tergoda, bisa bisa aku khilaf lho", kataku sedikit memancing.
"Aku malah pengen kamu khilaf",
jawaban yang benar benar membuat ku tidak tahan lagi.
Aku langsung menidurkan Fia di atas sofa lembut nya, aku mulai mencium bibirnya.
Dia langsung merespon balik, Permainan ciumannya lebih nakal dari yang kuduga.
Tangan nakalku mulai meraba dan mengelus elus paha Fia yang putih mulus, Gaunnya terangkat hingga diatas pusarnya. Perutnya yang rata dan mulus sungguh menggoda.
Cel*na d*lam berwarna putih s**u senada dengan Br* nya. Tanganku pun langsung masuk ke dalam CD sexi itu, Kumainkan jari jari nakalku yang membuat Fia semakin bernafsu dan agresif. Dia melepaskan gaunnya dengan cepat dan melemparnya ke arah lantai. Diapun membuka kemejaku sambil terus membalas ciumanku. Hitungan beberapa detik aku sudah setengah telanjang. Dia hanya memakai Cel*na d*lam dan Br* nya saja. Lekuk tubuh yang putih mulus sungguh sangat menggoda.
Kubuka celana jeans lusuhku dan tangan Fia membantu mempercepat. Sepertinya kami sama sama sudah tidak tahan lagi.
Desahan, teriakan Fia mulai menggema di seluruh ruangan kamar.
Remasan kuku jari jarinya di punggungku terasa sedikit perih. Hingga akhirnya kami sama sama lelah dan Fia tidur di atas dad*ku.
"Aku baru kali ini merasakan kenikmatan yang luar biasa Ito",, Suaranya yang patah patah terasa sangat indah didengar.
"Pantas saja gadis gadis banyak yang memburumu."
"Ternyata kamu punya sesuatu yang luar biasa Ito, ini adalah hadiah terindahku dihari kelulusanku",
Sambil menciumi bibirku Fia terus memujiku.
Dan inilah pujian yang sangat dinantikan oleh semua pria. Kehebatan dalam bercinta.
Tiba tiba terbersit sosok wanita didalam danau. Kenapa aku tiba tiba mengingatnya?
***