Ingin memulakan hidup baru..

1214 Kata
Barbara telah pulang ke villa milik ibu nya yang telah lama di tinggalkan. Villa ini milik kakek Barbara.. Dan di wariskan kepada ibunya. Villa ini sentiasa terawat kerna Burn menbayar pembantu untuk mengurusnya. Apabila Barbara tiba di sana.. kesemua pekerjanya sudah berada di villa itu.. Barbara teringat zaman kanak - kanak nya ketika berada di sini.. Tiupan angin yang agak sejuk dan pemandangan hijau yang masih sama seperti dahulu.. " Tempat ini ngak banyak berubah.. Masih seperti dulu.." " Hanya kamu yang berubah Bar.." " kamu.. Ivan.. kenapa kamu juga ada di sini..?" " Aku juga ingin bercuti di tempat seperti ini.." " Apa kamu ngak kerja besok.. ?" " Kerja lah.. Tapi ngak salahkan aku menumpang di sini.. Om Anton bilang kamar di sini juga banyak." " Iyalah.. Kamu kerja apa Van?" " Kamu akan tau juga nanti.." Ivan menarik tangan Barbara membawa nya berlari ke tanaman teh berhampiran.. " Cukup Van.. aku capek..." " Ahhaha... hanya beberapa langkah aja kamu sudah capek ya.." " aku sudah lama ngak olah raga.." " Mari.. kita naik speda.. ," Ivan membawa Barbara ke sekeliling tempat yang luas itu.. Pemandangan yang indah itu sangat-sangat cantik sehingga Barbara dapat melupakan masalah nya . " Ivan.." " Ya .. " " Apa aku harus memaafkan mereka begitu saja.." " Terserah pada kamu..?? Apa kamu mau memaafkan mereka begitu sahaja.." " Urmm .. aku ngak tau Van.. Aku ada melihat beberapa video cctv di rumah ku.. rupanya tante Mawar dan Melati beberapa kali mencoba menjebak ku.." " Terus.. kamu rasa dengan memaafkan mereka begitu sahaja membuatkan mereka insaf.. Ngak mungkin kan..". " Danial akan keluar penjara ngak lama lagi.." " Apa kamu sudah siap.. ? Butuh siap mental dan fizikal lo.." " Iya Van. Aku tau.. Van.. ayuh pulang.. Hari mau ujan.." " Masak sih.. .. tadi kan hari nya cerah.. tiba- tiba mau ujan. " Mereka berdua ngak sempat pulang ke villa. Akhirnya mereka berdua berteduh di sebuah pondok.. Hujan turun dengan lebatnya Baju Barbara yang berwarna putih telah menampak kan sosok tubuh Barbara.. Ivan mengutuk dirinya kerna tidak menyangka hari yang cerah bertukar hujan. " Maaf Bar.. Salah aku bawa kamu naik speda..". " Ngak apa- apa ivan.. Aku baik- baik aja kok.." " Nanti kamu demam deh.. " Barbara mula bersin dan kesejukan... Ini kerna cuaca yang sejuk dan angin yang bertiup agak kuat.. Ivan terpaksa memeluk Barbara yang mula di jangkiti demam.. Mujur lah Ivan membawa sekali Telfon nya.. Dengan cepat dia mentelfon Om nya. " Hello Om.. Bisa ngak ambil kami di sini.. Berhampiran ladang teh yang ada Pondok.." " Bentar lagi Om datang.. Nona Barbara baik- baik aja kan.. Sebab lagi ujan sekarang.. Kamu jangan buat yang macam- macam ya Van.. " Ngak la Om.. Cepat aja ke mari.. Soalnya Barbara lagi ngak sihat ni.. " Baik.. Benta lagi om sampai" " Iya Om.. Makasih.." " Bentar Bar.. Aku sudah telfon Om Anton.. Mereka akan sampai sebentar lagi.. Maaf Bar.. kerna aku kamu jadi gini..." " Ngak apa- apa Van.. Bentar lagi aku sihat kok.. Van.. Peluk aku .. Aku sejuk.." Ivan terus memeluk Barbara.. hatinya takut kalau ada apa- apa terjadi sama calon tunangan nya.. ************ Akhirny Pak Anton dan beberapa orang telah tiba. Ivan mengangkat Barbara membawanya ke mobil.. Barbara tiba- tiba teringat akan peristiwa yang berlaku di rumah Danial.. ' Bau ini.. Jadi Ivan lah pria yang datang membantu ku ketika itu..' Barbara mencium bau minyak wangi yang di pakai oleh Ivan sama dengan seseorang yang mengangkatnya ketika itu.. walaupun dirinya separuh sedar ketika itu. Tapi ingatan Barbara masih mengenali bau minyak wangi yang di pakai oleh pria itu.. " Sabar Bar.. Kita akan sampai ke rumah sakit sebentar lagi.. " Barbara hanya menganggukkan kepalanya di pangkuan Ivan.. ********** Barbara tidak mengalami apa- apa masalah serius. Dia hanya demam panas biasa kerna kesejukan dan terkena hujan.. Sementara menunggu barbara di rawat oleh Doktor.. Pak Anton memberikan Ivan pakaian supaya Ivan juga tidak terkena demam.. " ini.. kamu tukar dulu pakaian basah kamu.. " " makasih Om.. " " barbara itu sangat mudah terkena demam.. Jadi kamu jangan membawanya untuk bermain hujan lagi.." " Maaf Om.. aku juga ngak sangka hari akan hujan.." " Ya udah.. Tukar pakaian kamu dulu. Om mau pulang dulu.." " Baik Om.. Aku akan menjaga Barbara malam ini.." Anton hanya menganggukkan kepadanya sebelum pergi meninggalkan Ivan. *********** "Dok.. Tunang saya ngak apa- apa?" Ivan bertanya kepada doktor yang bertugas untuk merawat Barbara. " Ngak apa- apa.. Pesakit hanya mengalami deman panas biasa. Selepas minum obat dan istirehat.. Pesakit akan baik- baik aja.." " Makasih Dok.. " " Sama- sama.. Saya permisi dulu." " Baik Dok.." Ivan memegang tangan Barbara.. Dia merasa bersalah kerna membawa barbara mengelilingi tempat itu hanya menggunakan speda.. " Maafkan aku Bar.." Barbara berkata tanpa membuka matanya. " Siapa tunangan kamu..?" Ivan membisikkan sesuatu ke telinga Barbara.. "Tentulah kamu.." Barbara membuka matanya dan tersenyum pada Ivan.. " Van.. kapan kamu mengenalku..?" " Aku memang sudah lama mengenalmu Barbara dari cerita Om Anton.." " Bila pertama kali kita berjumpa.. Jujur dengan ku..?" " Kenapa kamu bertanya Bar.. ?" " Jawab pertanyaan ku Van.." " Ketika kamu berada di rumah Pacarmu.." " Dia buka lagi pacar ku.." " Okey... Sorry membuatkan kamu marah." " Apa dia memeberikan aku obat terlarang.. " " Iya Bar.. Dan Om Anton meminta bantuan ku untuk menolong mu.. Aku terpaksa melawan pria itu sebelum membawa mu ke rumah sakit..". " Makasih Van.. tapi kenapa kamu ngak pernah memberitahu padaku.." " Aku rasa Om Anton sudah memberitahu pada mu bukan.. Malah kamu memberi Om aku cuti selama 3 bulan.. Apa kamu lupa..?" " Urm.. Maaf kan aku Van. Aku sepatutnya percaya kepada Pak Anton yang menjaga aku selama ini." " Ya udah.. jangan bersedih lagi.. Jangan di ingat lagi.. Sekarang kamu harus kuat.. Ngak ada yang boleh merubah kamu.. selain diri kamu sendiri.." " Van.. Boleh aku memeluk mu.." " Bole Bar.. " Barbara memeluk Ivan dengan erat.. Akibat terbawa suasana.. Ivan mencium bibir Barbara.. barbara hanya menutup matanya.. Ini adalah ciuman pertamanya.. Barbara merasa hatinya sangat tenang bersama Ivan. " Maaf Bar.. " " Ngak apa- apa Van.." Barbara pula kembali mencium Ivan.. " ermmm.." Ivan dan Barbara segera melepaskan pelukan dan ciuman mereka.. " Maaf Pak.. " Burn terus datang ke rumah sakit apabila Pak Anton mengkhabarkan Barbara telah jatuh sakit.. " Ivan. jangan sampai kamu pula ketularan demam.." Ivan hanya menunduk malu.. " Om.... Apa-apan sih.." Wajah Barbara menjadi merah seperti kepiting rebus. " Om bercanda aja.. Percuma aja Om risau sama kamu.. Sepertinya kamu ngak sakit nie." " Aku sudah pulih om.. minum Obat tadi di beri suster.." " iya.. Iya.. Om kira mau tangguh dulu majlis pertunangan kamu kalau kamu masih sakit. " " ngak perlu om di tangguh.. " Barbara segera menjawab tanpa berfikir dahulu.. Padahnya dia yang malu sendiri apabila Ivan tersenyum padanya. " Apa sih kamu senyum- senyum?" " ngak.. salah aku tersenyum.." " Sudah- sudah.. Om balik dulu... Baru Om rasa tenang melihat kamu sudah sihat.." " Baik Om.. Hati- hati di jalan Om.. " " Hati- hati Pak.." " Ngak perlu panggil saya Bapak Van.. Panggil aja Om.. Kamu itu ibarat anak saudara saya juga.." " Baik Om.." " Jaga Barbara baik- baik ya.." " Baik Om.. hati- hati di jalan.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN