Ketika aku sedang memijat betisku yang terasa pegal tiba-tiba ada aroma bunga sedap malam melintas di sampingku. Aroma itu bergerak ke arah bagian belakang bus. Dengan perasaan was was aku menoleh ke arah belakang. Di bangku paling belakang aku melihat penampakan Janice sedang duduk dengan tatapan dingin. Dia mengenakan gaun putih, rambut warna blonde-nya tergerai kusut. Wajahnya bukan putih pucat lagi, tetapi kebiruan. Di lehernya ada tali tambang berwarna putih usang. Aku refleks berpaling dan kembali menghadap depan. Dia benar-benar mengikutiku. Napasku naik turun begitu cepat menyadari keberadaan Janice di sekitarku. Aku sama sekali tidak mengerti kali ini apa tujuannya menunjukkan sosoknya dalam keadaan mengerikan seperti itu. Padahal biasanya dia selalu menunjukkan sosoknya yang ca

