Karena posisi panti jompo yang akan aku tuju cukup jauh, aku memutuskan menggunakan angkutan umum. Namun aku tetap memerlukan jasa becak atau bentor untuk sampai ke terminal karena desa ini tidak dilalui oleh bus maupun angkutan umum yang lain. Ketika aku sampai di pangkalan becak, di sana ada beberapa becak sedang mangkal. Ada dua bentor dan satu becak biasa. Aku kemudian mendekati salah satu pengemudi bentor. Aku ingat orang itu pernah mengantarku ke desa sebelah untuk menemui Pak Jayuk. “Kosong, Pak?” tanyaku berusaha sedikit akrab pada orang tersebut karena aku sadar sedang sendiri saat ini. “Eh, iya, Mbak. Mari, silakan,” ujarnya sopan. Kemudian aku memutuskan naik ke bentornya. “Terminal, ya, Pak,” ucapku. “Ya, Mbak.” Lalu bentor mulai melaju meninggalkan pangkalan becak. S

