“Di mana Nonik? Kamu melihat Nonik di mana?” tanya wanita tua itu sambil menarik bahuku dari belakang. “Nonik? Tadi Nenek bilang siapa?” tanya berusaha memastikan kalau aku tidak salah dengar. Nenek itu menggeleng cepat lalu menundukkan wajahnya. “Mungkin saya salah dengar. Maklum sudah jauh pendengaran saya, Jeng. Maaf yaa, Nak,” katanya sambil menepuk lalu menekan pergelangan tanganku. “Syarif? Tapi tidak mungkin kamu Syarif. Syarif sudah lama meninggal, bahkan sebelum Nonik, Syarif sudah lebih dulu meninggal,” ujar wanita lanjut usia itu saat melihat Akhza. Tiba-tiba wanita itu menangis tersedu. Bu Darwani berinisiatif membopongnya ke dalam panti. Begitu pula denganku. Akhza meminta izin masuk ke dalam panti untuk menenangkanku. Setelah berada di dalam Bu Darwani memberi minuman

