Aku gelisah setelah mengetahui kehamilanku, apakah apakah aku bisa merawatnya, bagaimana caraku membiayai hidup kami. Pikiran-pikiran itu terus mengisi penuh kepalaku, belum juga masalah keluargaku terpecahkan aku justru akan menambah beban mereka apabila mereka mengetahui kehamilanku. Terus terang aku takut.
Aku mengambil ponselku berharap Nathan memberi kabar kepadaku, ah atau memang ini saatnya aku menghubunginya dan memberi tahu perihal kehamilanku. Selama ini aku hanya mengirimkan pesan padanya. Aku mencari kontak w******p nya karena akan menghabiskan biaya apabila aku menghubunginya melalui sambungan telepon biasa, terlebih lagi teman-temanku mengatakan dia sudah pindah ke Australia.
"ehm...halo" kudengar seorang wanita menjawab panggilan teleponku dengan suara berat seperti habis bangun tidur. Kulihat kembali layar ponselku untuk meyakinkan diriku apakah aku sudah melakukan panggilan dengan nomor yang tepat. Nama nathan tertulis dilayar ponselku jadi aku tidak salah.
"Halo, apa bisa bicara dengan Nathan"
"Honey, please wake up. Someone call you" seketika tubuhku membeku, 'honey' apakah dia wanita yang dijodohkan dengan Nathan seperti teman-temanku
"Sepertinya dia masih ingin beristirahat, mungkin kamu dapat menghubunginya besok"
"Maaf dengan siapa saya berbicara"
"Saya Jenny"
"Jenny?"
"Iya, saya tunangan Nathan" kalau kalian tanya perasaanku, aku tidak dapat mengungkapkannya. Namun aku masih tidak mau menelan mentah-mentah, aku ingin sejelas-jelasnya.
"Tunangan, sejak kapan?" aku berusaha mengorek informasi
"Enam minggu yang lalu"
Aku memutuskan sambungan telepon, menertawakan diriku dengan segala kebodohanku. Aku bagaikan wanita yang dengan mudahnya tertipu dengan iklan kosmetik palsu yang membawa kebaikan bagi wajah padahal merusaknya. Sakit hati? tentu saja, bagaimana tidak.
Aku memandang cincin yang dia berikan padaku, sekali lagi aku tertawa kali ini dengan tetesan air mata. Betapa naifnya aku saat dengan bahagianya menerima cincin ini yang mebuat diriku merasa istimewa baginya. Itu hanya perasaanku saja, karena pada kenyataannya aku dipermainkan, dibuang dan ditinggalkan.
Kami sekeluarga memutuskan pindah ke Yogyakarta. Biaya hidup dijakarta terlampau besar bagi kami, lagipula kami bisa berkumpul dengan kak lynna. Ibu dan adik-adikku sudah pindah terlebih dahulu, aku akan menyusul mereka.Aku masih menyembunyikan kehamilanku, aku tidak mungkin menambah masalah mereka.
Aku sudah memutuskan untuk tidak mempertahankan janinku, hal ini juga yang membuat aku meminta ibu dan kedua adikku untuk pindah terlebih dahulu dan menyusulnya setelah 3 minggu. Kalian bilang aku jahat? Ya, aku memang jahat aku tidak mengelaknya.
Aku memasuki klinik tanpa ditemani siapapun, biaya aborsi aku dapatkan dengan menjual gaun mahal yang dibelikan Nathan saat prom night dan sebagian dari Kak Lynna tanpa mengatakan alasan sebenarnya aku membutuhkan uang itu.
"Sudah siap?" tanya sang dokter
"Siap dok"
Aku mengusap-usap perutku, saat dokter mulai menyuntikkan enestesi
'Ini pertemuan terakhir kita. Kamu tidak bersalah dan aku tidak membencimu. Kamu tau alasanku. Aku tau maaf saja tidak cukup, tapi kau pasti lebih berbahagia disurga nanti daripada bersamaku. Jika aku boleh meminta, tolong jangan membenciku. Datanglah kembali padaku, dalam rahimku saat aku sudah sukses nanti. Aku akan menebus semua kesalahanku. I Love you with all my heart my Baby'