Aku buru-buru keluar dari toilet dan membasuh wajahku. Aku mencari ibuku mengajaknya pulang. Aku tak mau ibuku mendengar teman-temanku mengejekku.
"Ta, mana temen kamu yang mengajak menginap ibu mau kenal dan ucapin terima kasih"
"Oh udah pulang duluan bu, nanti Lytha sampaikan deh" maaf bu Lytha bohong waktu itu
"Kita sekalian cari-cari kontrakan ya sebelum pulang, siapa tau jodoh" aku menganggukkan kepala, menggenggam lengan ibuku
"Ta gimana, apa kamu mau lanjut kuliah?"
"belom tau sih kak, lytha mau langsung kerja"
"kalau kamu mau kuliah, kamu beri tahu kakak ya, kita cari solusi sama-sama. Eh sudah dulu ya, kakak sudah harus ngajar les"
"iya kak, jaga kesehatan ya" "kalian disana juga ya" akupun mengakhiri pembicaraanku dengan kak Lynna
Aku memang berencana untuk langsung mencari pekerjaan dan akan kuliah setelah mengumpulkan uang
Aku tak bisa tidur teringat pada Nathan, apa benar yang dibicarakan teman-temanku. Kalau benar kamu tega nath, setelah apa yang kita lakuin sama-sama. Jujur aku takut hamil, aku pasti membuat ibu kecewa. Aku juga tidak tahu harus membiayai dengan apa sedangkan kami juga kesulitan. Ahhhh memikirkannya membuatku pusing. Jangan aku mohon jangan hamil, aku mengusap-usap perutku.
Pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diriku untuk melamar ke beberapa tempat, aku juga sudah mengirimkan beberapa lamaran melalui email.
"Bu, Lytha berangkat dulu. Doakan Lytha ya"
"Pasti, ibu selalu berdoa buat kalian anak-anak ibu"
Siang ini sangat terik membuatku dehidrasi dan pusing. Aku makan siang di sebuah warteg dekat tempatku melamar pekerjaan. Walau aku kehilangan selera makan aku tetap memaksa untuk makan, aku tidak ingin sakit dan pingsan ditengah jalan.
Aku melanjutkan perjalananku, ini adalah tujuan terakhirku untuk hari ini. Saat hendak memuju gedung sederhana itu tiba-tiba perutku mual. Aku menuju pinggir jalan, memuntahkan isi perutku. Kakiku lemas, kepalaku berat sekali. Aku berjongkok sekedar untuk memulihkan energiku. Setelah kuarsa cukup kuat aku menuju gedung tersebut, aku tidak akan kalah oleh sakit ini.
Setelah menyerahkan surat lamaranku, aku meninggalkan gedung itu. Satpam gedung sempat menanyai keadaanku, karena wajahku terlihat pucat. Aku berpapasan dengan seorang pegawai dengan perut buncitnya.
'Hamil' kata itu kembali menghantuiku. Tanpa pikir panjang aku membeli alat tes kehamilan. Sesampainya dirumah aku berusaha bersikap seperti biasa. Aku menuju toilet dan segera melakukan test sesuai dengan instruksi pada kemasan Test Pack tersebut.
Jangan sekarang, aku belum bisa hamil saat ini. Bukan aku pengecut tapi aku sadar diri aku belum mampu membuat bayi ini bahagia. Aku tidak ingin bayi ini mengalami keadaan sepertiku.
Duniaku runtuh saat kulihat jelas dua garis merah pada alat itu.
Ga bisa, aku ga bisa hamil...aku tak dapat membendung air mata.