"Beib...kemarin dan hari ini was my greatest day. thank you" Nathan mengecup punggung tanganku dan menyematkan sesuatu di jemariku.
"i...ini" nathan menyematkan sebuah cincin dengan ukiran tidak biasa namun sangat indah
"you will understand as time goes by" dia tersenyum, namun tersembunyi banyak rahasia
"ini cantik, thank you" aku tersenyum "aku turun ya, terima kasih sudah mengantarku" kupegang handle pintu
"beib, jangan pernah lepas cincin itu. Itu tanda perjanjian kita" nathan menarik tanganku. Bibir lembutnya kembali kurasakan kemudian berubah menjadi menuntut.
"Na...naathh...hmmmpp" aku tidak bisa bernafas "naathh...aakkh" aku dorong tubuhnya saat aku merasa nathan semakin kasar menciumku seperti ada amarah didalamnya
"Sorry beib, i lost control" dia mengusap bibirku yang sedikit kebas
"kamu kenapa?" tanyaku "i'm fine, maaf yang tadi" dia memelukku
"kamu bisa cerita saat kamu siap" ku usap pipinya, aku turun dari mobilnya
Belum jauh aku berjalan, nathan berlari menghampiriku dan memelukku "thank you, you're my home. A place i will return to" nathan mengecup keningku dan membelai rambutku
Aku tersenyum walau kurasakan keanehan atas sikapnya. Kulihat mobilnya semakin lama semakin menghilang dari pandanganku.
Seminggu ini aku tak bertemu Nathan, dia pun tidak menghubungiku. Namun kegiatanku sedikit mengalihkan pikiranku tentangnya. Aku bersyukur ibu banyak order dari tetangga untuk membuat kue maupun makanan untuk acara-acara para tetangga, disamping aku membantu ibu aku juga terus mencari kontrakan baru untuk kami tinggali.
Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki disekolah ini bersama ibuku untuk mengambil ijazah begitu juga teman-temanku yang lain. Akupun berharap bertemu dengan Nathan karena sudah dua minggu aku tidak menerima kabar tentang dia.
Aku bertemu dengan teman-temanku untuk yang terakhir kalinya, akupun ingin meminta maaf apabila aku berbuat salah pada mereka. Walau mereka sering menyakitiku, akupun sadar aku manusia biasa yang pasti ada kesalahan yang tak disengaja. Aku percaya apabila kita tidak menyimpan dendam akan memudahkan kita melangkah tanpa beban.
"Merry" aku menghampirinya. Bagaimanpun aku yakin merry memendam amarah padaku karena kedekatanku dengan Nathan.
"ada apa?" jawabnya dengan ketus
"ini mungkin jadi pertemuan terakhir kita, aku minta maaf kalau aku ada salah" aku mengulurkan tanganku
"kalau masalah Nathan, tenang aja aku ga menyimpan amarah. toh kita berdua sama-sama tidak mendapatkannya" sejujurnya aku agak kaget, namun aku menyadari bahwa aku dan nathan memang tidak pernah mengumumkan status kami.
"semoga kamu sukses" "kamu juga" kami berdua berjabat tangan.
Aku menuju toilet sebelum ibu dan aku pulang menuju rumah. Aku tidak mau menahan karena perjalanan kami agak jauh.
Kudengar sayup-sayup dari dalam toilet suara bercakap-cakap lebih ke arah bergosip. Aku teringat masa-masa sekolahku. Saat aku didalam toilet dan mendengar teman-temanku membicarakan dan mengolok-olokku. Ada rasa bangga pada diriku bahwa aku mampu melewati masa-masa sulit SMA.
"Sayang ya kita ga bisa ketemu Nathan untuk terakhir kalinya padahal lumayan ya foto terakhir kali jadi kenang-kenangan"
"loh memang kemana tuh cowok ganteng"
"dia kan balik ke aussie, mungkin lanjut sekolah disana"
"eh tapi kata bokap gue dia udah dijodohin"
"tapi kan dia deket sama si anak miskin"
"Lytha maksud lo"
"iyalah, siapa lagi"
"yah udah pasti si upik abu ditinggalin, cewe Aussie lebih sexy, siapa yang gak ON. Hidup juga bebas kan disana. Full service deh Nathan"
"Eh tapi gue liat si udik keluar dari Apartment sama Nathan loh sehari setelah prom night"
"wah jangan-jangan si udik udah dipake lagi. wah sial banget dong abis dipake ditinggal"
"hahahaha...kasian"
'Nath kamu gak mungkin kan ngelakuin seperti yang mereka bilang' aku tak sanggup menahan air mataku