Pagi yang indah

434 Kata
Kurasakan panas matahari menyapa wajahku. Aku membuka mataku walau masih berat. Entahlah aku merasa sangat lelah dan tubuhku nyeri di setiap bagian. Kurasakan tangan seseorang memeluk pinggangku, kupandangi wajah tampannya yang membuat tanganku tak kuasa untuk membelai wajah itu. Wajah yang memberi warna pada hari-hariku. Dahinya, matanya, hidungnya, bibirnya sangat sempurna. Ku kecup bibirnya, kupaksakan diriku bangun karena kantung kemihku sudah penuh. Aku Sssssh.....perih kurasakan pada bagian kewanitaanku, ku ambil kemeja Nathan karena tidak mungkin aku memakai gaunku sedangkan aku sedang terburu-buru menuju toilet. Ahhhhh....perih itu semakin bertambah saat aku sedang mengeluarkan air seniku, aku meremas tanganku untuk menahan perih yang kurasakan. Aku membasuh wajahku dan menyikat gigiku. "aaaaaaa" aku menjerit saat kubuka pintu dan Nathan mengangkat tubuhku ala bridal dan mendudukkan ku pada kursi pada mini bar elegan apartment ini. Roti panggang dan s**u tersedia pada meja itu. Ah manis sekali pria ini. "kita sarapan dulu" kemudian nathan mencium bibirku "sakit?" aku menganggukkan kepalaku kemudian Nathan mengusap puncak kepalaku kemudian menciumnya Sungguh pagi yang manis, Nathan yang bertelanjang d**a hanya mengenakan boxernya menambah pagi ini dengan keindahan. Otot perut dan lengannya ditambah rambutnya yang sedikit basah. Mungkin Nathan sudah membasuh wajah di toilet lain yang juga ada di apartment ini. Sebenarnya aku sedikit tidak nyaman karena aku tidak menggunakan bra. "are you OK?" aku menggerakkan tanganku, sebagai tanda agar nathan mendekatkan wajahnya kehadapanku "nath, aku kurang nyaman tidak memakai bra" bisikku. Memang kebatulan gaun yang kupakai kemarin sudah include bra yang tidak mungkin aku lepaskan dari gaun tersebut. "hahhahahaha, sabar ya. Aku sudah memesan pakaianmu lengkap, mungkin satu jam kedepan segera tiba" Nathan mengusap wajahku.  "Memang kamu tahu ukuranku?" "tahu dong" nathan menghadapkan ke sepuluh jemarinya ke arahku yang membuat aku mengingat kejadian semalam.  "Ahh, ibu" aku teringat belum mengabari ibuku dan kebetulan handphoneku memang lowbat sejak kemarin malam, maklum handphone jadul. Aku mencari handphoneku, menchargenya dan menelepon ibuku. Mengabari ibuku bahwa aku menginap dirumah temanku, meminta maaf pada ibu didalam hatiku. Saat aku kembali kudengar nathan sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon "Ok, i'll get there soon" kudengar dia menghela nafasnya dan menyudahi panggilan itu. Saat tatapan kami bertemu nathan memelukku "biarkan seperti ini sebentar" aku sebenarnya ingin bertanya ada apa, namun aku urungkan karena aku yakin dia akan bercerita saat waktunya tepat dan aku tidak akan memaksakan "you are my comfort zone" dia semakin erat memelukku.  'Kamu juga zona nyaman aku nath' gumamku. Kami saling berpandangan, entah siapa yang memulai kami b******u seakan menumpahkan semua masalah kami dan menghindar hanya untuk sejenak. Sampai kami sudah merebahkan tubuh kami di tempat pertama kali kulepaskan kegadisanku dan sekali lagi kami melakukan dosa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN