JAKARTA....akhirnya aku kembali menapaki kota ini. Kota yang aku tinggalkan selama kurang lebih 8 tahun. Kota dimana semua bayangan kesedihan, kemarahan, dan penyesalan itu memenuhi masa remajaku.
Kulangkahkan kakiku memasuki gedung menjulang tinggi. Memasuki ruanganku menatap meja kerjaku, aku tersenyum bangga melihat table sign Lytha Maheswari, S.E., Ak gelar yang aku raih dengan susah payah dan penuh perjuangan.
Saat ini aku adalah seorang Akuntan, kembali ke kota ini karena diminta untuk membuka dan memimpin cabang Kantor Akuntan Publik yang aku dirikan bersama seorang temanku. Apa kalian ingat Merry teman SMA ku, lucu bukan kalau sekarang justru kami menjadi partner. Panjang ceritanya jika aku ceritakan, yang pasti aku mengamini wejangan kedua orangtuaku "kalau kita tidak menyimpan dendam, langkah kita akan dipermudah" karena itulah saat bertemu kembali kami dapat tersenyum bahkan berpelukan.
Aku menata meja kerjaku, memasang sebuah bingkai foto dengan wajah enam orang didalamnya. Ayahku, Ibuku, Kak Lynna, dan kedua adik lelakiku. Mereka adalah mood booster ku, semangatku ketika hampir menyerah. Demi mereka aku bekerja keras karena aku tidak mau mereka kekurangan, aku ingin mereka bahagia.
Tok...Tok...Tok
"Masuk" Aku memasang senyumanku karena tamu yang kutunggu tiba 'keluargaku'
"Wiiih ok juga nih kantor" wiko adikku
"haruslah, masa kantor Jakarta kalah sama yang di Jogja" nah ini Ari si bontot
"kalian tuh ya, ayo bu" Kak Lynna memegang tangan ibuku
"Udah, duduk dulu. Mau pada minum apa nih?" tingkah mereka selalu membuatku tersenyum
"Ga usah deh ta, kamu kan tau kami kesini justru mau pamit"
"iya tau deh yang kangen sama calon suami" melirikkan mataku menggoda ka Lynna yang sudah memiliki kekasih dan sedang mempersiapkan pernikahan.
"kamu juga cepetan susul kakakmu ta" ah aku menyesal dengan kata-kataku yang membuat aku jadi terkena serangan ibuku
"iya bu, doakan ya. Ka Lynna kan nikah umur 28 nih jadi aku masih ada waktu lah 2 tahun lagi"
"Ga perlu harus nunggu 28, kalau sudah ada yang cocok ya disegerakan lah"
"iya-iya" aku memeluk ibuku, selain kangen aku juga ingin menyudahi pembicaraan tentang pernikahan ini
Setelah peresmian kantor seminggu lalu aku mulai sibuk dengan pekerjaanku, tidak sulit bagi kami untuk mendapat klien karena nama KAP (Kantor Akuntan Publik) kami sudah dikenal di Jogja.
"Gimana Jakarta Ta" Edward adalah klien tetap KAP kami
"Macet" jawabku dan dijawab oleh kekehannya
"Ta pembicaraan kita waktu itu tentang perusahaan temanku, dia mau pakai jasa KAP kamu. Udah Fix, mungkin dalam waktu dekat kamu terima email atau telepon dari mereka"
"Wih kamu kaya marketing KAP aku deh"
"Aku dapet persenan berapa nih, perusahaan kakap nih bukan kelas teri" aku tertawa melihat Edward dengan akting sombongnya
"Mau berapa persen?"
"Ga gede sih, cukup kamu jadi pacar aku aja"
"Idiiih itu mah gede kali lebih dari 100%, aku kan barang mahal" aku memukul lengannya
Pembicaraan aku dengan Edward tak pernah aku anggap serius, walaupun aku tahu dia sangat serius dengan keinginannya. Tapi aku merasa kurang pantas untuknya, Edward berhak dan harus mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.