Siang ini begitu mendung padahal hari ini pertemuanku dengan klien baru hasil rekomendasi Edward. Entah kalian percaya atau tidak namun mendung disaat hari penting itu kadang membawa pertanda buruk, tidak semua sih tapi seakan mensuggesti diriku. Terlebih lagi setelah aku membaca Company Profile klien terbaruku, tercetak jelas nama CEO perusahaan tersebut "Nathan Green".
Kaget? tentu saja. Tapi jika kalian pikir aku akan menjauh atau justru takut jawabannya tentu tidak, justru aku akan berdiri tegak menghadapinya. Menunjukkan bahwa luka yang dia beri tidak akan bisa menjatuhkan aku. Aku bahkan sudah mempersiapkan mentalku.
"Bu Lytha mari ikut saya" suara itu menyadarkanku dari lamunan
Mengikuti arahan sang sekretaris menuju ruangan yang sangat besar, dengan desain kaca yang semakin menunjukkan sisi maskulin dan elegan sang pemilik ruangan.
"Selamat siang bu Lytha, saya Jenny Green. Silahkan duduk" aku bingung mendapati justru seorang wanita yang menyambutku diruangan tersebut dan nama itu tak kalah membuatku semakin terkejut.
Jantungku semakin berdetak kencang saat wanita itu bangun dari kursinya menuju ke arah sofa tempatku duduk. Aku melihat perut buncitnya yang tertutupi oleh meja sebelumnya.
Aku sedikit sesak seperti ada beribu tali yang mengikat paru-paruku. Wanita hamil selalu menjadi momok yang mengingatkanku akan perbuatanku dulu. Dengan tangan yang bergetar kuraih tas tanganku mengambil Oxycan. Berusaha menormalkan nafasku.
"Are you okay?" wanita itu nampak khawatir akan keadaanku
"I'm totally fine, bukan masalah besar. Ini hanya faktor udara di luar sana agak lembab karna hujan" tentu saja aku berbohong
Kulihat senyum diwajah wanita cantik itu, wajah perpaduan antara western dan asian. Kehamilannya membuat dirinya bertambah cantik, mungkin benar yang dikatakan orang bahwa wanita hamil memancarkan auranya tersendiri.
"Mungkin anda agak bingung mengapa saya yang justru menemui anda, saya hanya mewakili karena mendadak Pak Nathan ada keperluan mendadak. Kita bisa membicarkan kontrak dan lainnya, saya akan menyampaikan sendiri ke Pak Nathan hasil kesepakatan kita"
"Baiklah, bisa kita mulai"
Aku memandang lampu-lampu ibukota dari dalam apartmentku. Aku meremas erat cincin yang aku sematkan di kalungku. Cincin yang Nathan berikan padaku dulu. Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku masih menyimpannya. Itu karena cincin ini adalah alat untuk terus mengingatkanku akan penderitaanku, tujuan hidupku, dosa yang aku perbuat dan kebencian pada seseorang.
Sejujurnya aku masih berharap permintaan maaf darinya namun saat ini aku harus menyadarkan diriku sendiri untuk berhenti dari harapan itu.
Ha..ha..aku tidak dapat menahan tawaku 'b******k, b******n, ga punya hati' bisa-bisanya dia berbahagia atas penderitaanku.
Bagaikan garam yang menyentuh lukaku, perih tak tertahankan menerima kenyataan yang ada dihadapanku hari ini. Aku tak dapat menahan tangisku.
Setelah lelah menangis aku bangkit, mengusap-usap perutku seakan bayiku masih ada didalam sana.
Sudah cukup, dia tidak pantas mendapat airmata kita. "These are the last tears I shed for you"