AUTHOR
Karena mendekati akhir tahun intensitas pertemuan Lytha dengan Nathan semakin bertambah. Apalagi kalau bukan mempersiapkan laporan keuangan untuk pelaporan pajak tahunan perusahaan. Karena perusahaan Nathan termasuk dalam Big Company maka Lytha turun tangan langsung apalagi ini pertama kali mereka bekerja sama. Untuk perusahaan yang tidak terlalu besar Lytha menyerahkan pada rekan-rekanku yang lain.
Sebagai seorang auditor menjelang akhir tahun adalah hari-hari paling melelahkan karena dikejar deadline, pasti akan sering lembur. Seperti yang sedang Lytha lakukan sekarang. Semua karyawan sudah hampir pulang walau bagian keuangan menemaninya lembur karena membutuhkan data dari mereka.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Lytha memutuskan untuk meneruskan pekerjaan di apartmentnya karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Sebaiknya kita lanjutkan besok" ucapnya diangguki oleh staff keuangan yang lembur bersamanya. Merekapun berpamitan pada Lytha yang sedang menunggu data transfer ke dalam flash disk.
'Sebaiknya aku ke toilet dulu sambil menunggu data tertransfer sempurna' gumamnya
Saat menuju toilet Lytha melihat seorang wanita yang sedang menelpon seseorang sambil memegangi perutnya 'Jenny', namun sesaknya kembali saat melihat air mengalir dari paha wanita itu
"aaiiirrr ketubanku pecah,,,aakkkh datanglah segera" wanita itu mengakhiri panggilan teleponnya
"To..long" Jenny tampak memohon mencari bantuan disekelilingnya, namun hal itu mustahil karena sepertinya hanya Lytha yang tersisa di gedung ini sedangkan pak satpam ada di lantai bawah.
Mata mereka bertemu, Lytha ingin menolongnya. Namun bayangan itu kembali menghantuinya, bayangan disaat dia menjadi pembunuh nyawa yang tidak berdosa. Nafasnya semakin sesak, pening dikepala, badannya terasa kaku tak dapat digerakkan.
'Bagaimana mungkin aku dapat menolongnya sedangkan aku sudah membunuh bayiku juga' Lytha berbicara didalam hati sambil terus meremas dadanya dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya meremas perutnya.
"Jennn" Nathan berlari ke arah Jenny kemudian menggendongnya ala bridal, kulihat darah sudah mengalir dikakinya.
"Apa yang kau lakukan dengan hanya berdiri disana, apa kau ingin jadi pemBUNUH" Nathan menatap Lytha, dia tidak bisa mengerti dengan sikap Lytha yang hanya diam mematung sedangkan Jenny membutuhkan bantuan. Nathan segera meninggalkan Lytha tanpa tau Lytha pun sedang membutuhkan bantuan.
"aa...heeemmmp...aaku..." Lytha berusaha menghirup oksigen "mee...heemmmp...mang pembunuh" air matanya mengalir, sesaknya semakin menjadi, bahkan tubuhnya sudah bergetar hebat.
Lytha berjalan dengan meraba dinding berusaha kembali ke ruangan dimana tasnya berada. Pandangannya mulai kabur, peluhnya bercucuran.
Lytha luruh dilantai dengan tenaga tersisa dia menggapai tasnya dan mengeluarkan isinya. Mencari-cari Oxycan dan segera menghirupnya. Kepalanya bersandar pada dudukan kursinya karena terlalu lemah untuk bangkit berdiri.
'Baby, apa kabar. Apa kau tahu, mungkin kau akan segera mempunyai adik. Kau tahu hatiku sakit saat ayahmu mengatakan aku pembunuh, walau itu adalah kebenaran. Rasa bersalahku padamu tidak bisa aku hilangkan. Baby mintalah pada Tuhan untuk mempertemukan kita, aku ingin memelukmu dan memohon pengampunanmu. Maafkan aku Baby....' cairan bening jatuh dari sudut mata Lytha. Tubuhnya mendingin, pandangannya menggelap.